loading...

SUARABMI.COM - Indonesia perlu memiliki perwakilan bank nasional di Taiwan, Kinabalu (Malaysia) dan Hong Kong agar remitansi TKI dapat terdata lebih akurat, ungkap satu riset yang diselenggarakan Pusat Penelitian, Pengembangan dan Informasi (Puslitfo) BNP2TKI dan Alvara Research Centre pada semester kedua 2015.

Menurut temuan riset yang melibatkan 605 responden, pengiriman uang dari ketiga negara penempatan tersebut diperkirakan lebih besar dari yang tercatat sebab para TKI selama ini menggunakan jalur formal bukan bank. Penyebabnya adalah karena Indonesia tidak memiliki perwakilan bank nasional di Kota Kinabalu, Hong Kong dan Taiwan.   

Berkenaan dengan itu, BNP2TKI akan mengajak Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan melobi pemerintah Taiwan agar mengizinkan pembukaan perwakilan bank nasional. Hal itu perlu dilakukan karena jumlah remitansi TKI dari Taiwan khususnya, serta Asia-Pasifik pada umumnya lebih rendah dibandingkan remitansi Tenaga Kerja Filipina di luar negeri, ujar Kepala BNP2TKI, Nusron Wahid.

Di Taiwan cukup sulit untuk memperoleh izin membuka perwakilan bank nasional, hingga kita akan bekerjasama dengan BI dan OJK melobi pemerintah Taiwan agar mempermudah pembukaan bank, tambahnya.
Rutin Mengirim
Sementara itu Direktur Alvara Research Centre, Hasanuddin Ali, menyatakan riset dilakukan guna menemukan jawaban dari Penyebab Rendahnya Remitansi TKI dari Asia Pasifik. Riset dilakukan secara kuantitatif dengan melakukan survei terhadap 300 TKI di Malaysia, 178 di Taiwan dan 127 responden di Hong Kong pada semester kedua 2015.

Riset menemukan, mayoritas gaji TKI diberikan secara tunai (69,6%) dan sisanya dalam berbagai bentuk. Dari total gaji tersebut, 37,6% diantaranya dikirim ke Tanah Air, sedangkan 24,4% untuk memenuhi keperluan sehari-hari dan 22,9% lagi ditabung.
[ads-post]
Mayoritas TKI mengirimkan remitansi ke keluarga mereka secara rutin. Kebanyakan TKI di Hong Kong (43,9%) mengirim remitansi HK$ 1501-2000 dalam sekali pengiriman. TKI di Malaysia (48,2%) mengirim 501-1000 Ringgit Malaysia dan TKI Taiwan (42,6%) sebesar 5001-10.000 Dolar Taiwan. Para TKI umumnya menggunakan jalur formal non bank, kemudian jalur formal bank dan jalur informal.

Di Hong Kong, ungkap riset tersebut, mayoritas responden (83,3%) menggunakan jalur formal non bank yakni Western Union (59,05%) dan perusahaan remitansi lokal (37,14%) terutama Chandra Remittance, sedangkan Bank Mandiri digunakan oleh TKI melakukan remitansi melalui jalur formal bank. Western Union paling banyak digunakan sebab mudah ditemui, pilihan channel pengambilan bervariasi dan kursnya kompetitif.

Sementara  TKI di Malaysia mengirim uang melalui jalur formal bank (59,7%), dengan 45,9% diantaranya menggunakan Bank BNI, Bank BRI (22,7%) dan Bank Mandiri (16%). TKI yang menggunakan jalur formal nonbank, umumnya memanfaatkan perusahaan remitansi lokal (43,8%) khususnya EzMoney.

Menurut hasil riset yang disampaikan Hasanuddin Ali, mayoritas TKI di Taiwan  mengirim remitansi melalui jalur formal nonbank (73%) dan jalur informal (24,3%). Jalur formal nonbank yang banyak diminati adalah perusahaan remitansi lokal khususnya BNI Express (86,5%,) sedangkan jalur informal nonbank adalah Toko Indo (97,2%).  “TKI memanfaatkan BNI Express dan Toko Indo sebab  waktu pengiriman cepat dan outlet-nya ada dimana-mana.”

Para TKI tidak menggunakan jalur formal bank karena tidak ada bank Indonesia yang memiliki cabang di Taiwan. Mereka tak mau menggunakan bank Taiwan karena biayanya cukup mahal, tambah Hasanuddin Ali.

Menurut data Puslitfo BNP2TKI, Malaysia, Taiwan dan Hong Kong merupakan tiga besar penempatan TKI di  Asia-Pasifik. Sejak tahun 2013-2015, jumlah penempatan TKI di ketiga negara mencapai 709.160 orang atau 58% dari total penempatan  TKI di seluruh negara penempatan yang berjumlah 1.217.776 orang. (Bnp2Tki)

SUARABMI.COM - Indonesia perlu memiliki perwakilan bank nasional di Taiwan, Kinabalu (Malaysia) dan Hong Kong agar remitansi TKI dapat terdata lebih akurat, ungkap satu riset yang diselenggarakan Pusat Penelitian, Pengembangan dan Informasi (Puslitfo) BNP2TKI dan Alvara Research Centre pada semester kedua 2015.

Post a Comment

Powered by Blogger.
close