loading...

SUARABMI.COMPembayaran potongan bank di 10 bulan pertama semenjak kedatangan  bagi tenaga kerja Indonesia bisa menjadi masalah tersendiri. Gaji yang diterima tenaga kerja Indonesia (TKI) di Taiwan kadang tidak sepadan dengan kebutuhan  mereka di Taiwan dan keluarga mereka di Indonesia.  Hal ini memberikan pintu lebar bagi rentenir untuk membungakan uang mereka melalui peminjaman kepada para TKI.  Kejadian cukup memilukan dialami oleh Abdul Aziz, pekerja pabrik CNC di Yuanlin. Aziz  yang sedang butuh uang di bulan bulan awal kedatangan tahun 2013 meminjam uang kepada salah seorang rentenir bernama Mr. Wang (nama samaran).

Tidak hanya Aziz, namun  belasan  kawan kawannya pun meminjam uang dari Mr. Wang dengan  bunga 10 % per bulannya. Peminjaman dan pembayaran  pinjaman dikoordinir oleh Teguh, salah satu pekerja pabrik CNC di Yuanlin. Para pekerja yang berhutang membayar per bulan kepada Teguh yang selanjutnya Teguh menyetorkan kepada Mr.Wang.

Masalah dimulai ketika Teguh kabur dari pekerjaannya tahun 2014 silam. Ia sudah melaporkan seluruh peminjamnya kepada Aziz dan meminta tolong kepadanya untuk menjadi koordinator. Aziz menyanggupi bahkan mau membayari hutang teguh yang tersisa kepada rentenir sebesar NT$ 15.000. Saat pembayaran, Aziz mendatangi rentenir tersebut dan begitu terkejut, ternyata Teguh menanggung hutang NT$ 80.000 dan juga ada tunggakan hutang NT$ 130.000 milik kawan-kawannya.
[ads-post]
Selidik punya  selidik ternyata hutang tunggakan  NT$ 130.000 sudah dilunasi oleh kawan-kawannya kepada Teguh. Namun uang tersebut tak pernah dibayarkan Teguh kepada rentenir malah dibawa kabur dan dipakai Teguh. Dari 14 orang yang berhutang mengaku telah melunasi pinjaman rentenir tersebut. Mereka tak mau bila disuruh bayar lagi kepada rentenir. Mau tak mau Aziz memikul kesalahan Teguh.
Aziz mengontak Teguh. Teguh berjanji akan melunasinya dengan mengirimkan uang ke rekening Aziz. Sempat berjalan beberapa kali sampai akhirnya teguh hilang kontak. Aziz yang kebingungan menyampaikan kepada rentenir masalah ini. Dari pertemuan tersebut, rentenir tetap ingin Aziz bertanggung jawab semuanya atas  pinjaman teguh dan kawan kawannya sebesar NT$ 210.000. Akhirnya sudah setahun lebih gaji Aziz hanya habis untuk membayar bunga pinjaman teguh dan kawan-kawannya saja. “ Uang pinjaman pokoknya malah belum terbayar,” terang Aziz.

Merasa diperlakukan tak adil, Aziz menceritakan masalahnya kepada beberapa kawan-kawan dekatnya. Orang tua Aziz sendiri menangis mendengar apa yang dialami anaknya di Taiwan. Aziz sudah pasrah siap dipenjara jika tak mampu melunasi.  Masalah ini di dengar Feraldi, pekerja pabrik Taoyuan. Feraldi yang bersimpati dengan Aziz meminta bantuan salah satu kawannya di Taipei, Heru (nama samaran), yang juga relawan TKI.

Tangggal 2 Februari 2016, Heru meluncur ke Yuanlin menemui Aziz. Menurut Heru jalan penyelesaiannya adalah melakukan negosiasi dengan rentenir tersebut. Meminta pengertiannya untuk tidak menagih uang yang dibawa lari Teguh kepada Aziz. Heru melihat, bentuk peminjaman yang dilakukan Mr. Wang ini termasuk ilegal. Kalaupun dibawa ke jalur hukum, Mr. Wang bisa ditindak. Akhirnya sekitar pukul 8 malam, Heru dan  Aziz mendatangi toko milik Mr. Wang dan bertemu dengannya.  Heru menyampaikan maksud kedatangannya dan meminta pengertian Mr. Wang. Jika tidak  ada pilihan untuk membawa masalah ini ke jalur hukum.  Dari negosiasi dengan Mr. Wang selama 40 menit tersebut, Mr. Wang bersedia tidak membebankan hutang Teguh kepada Aziz, menganggap lunas apa yang telah dibayarkan  ke-14 kawannya kepada Teguh sebesar NT$ 130 ribu. Mr. Wang juga bersedia untuk menerima pembayaran pokok pinjaman saja kepada kawan-kawan Aziz lainnya dan selanjutnya ia menutup usaha pinjaman uang kepada para tenaga kerja Indonesia di Yuanlin. Mr. Wang meminta Aziz agar masalah ini tidak perlu dibawa sampai ke jalur hukum dan tidak perlu melibatkan namanya  dalam pelaporan kepada kepolisian yang  melibatkan Teguh dan Aziz.

Selepas kesepakatan negosiasi tersebut, Aziz merasa bersyukur masalahnya bisa terselesaikan dengan baik. Ia tidak lupa mengucapkan terima kasih sebanyak banyaknya kepada Heru dan kawan-kawannya yang membantu dirinya. Ia mengatakan sekarang masalahnya hanya ia dan Teguh. Aziz juga mengatakan akan mengedepankan penyelesaian melalui jalur kekeluargaan dan ia telah mengantongi alamat Teguh di Indonesia. Dari hitungannya, Teguh harus membayar kepadanya NT$ 79.800. (penulis - suarabmi.com)

SUARABMI.COM - Pembayaran potongan bank di 10 bulan pertama semenjak kedatangan bagi tenaga kerja Indonesia bisa menjadi masalah tersendiri. Gaji yang diterima tenaga kerja Indonesia (TKI) di Taiwan kadang tidak sepadan

Post a Comment

Powered by Blogger.
close