loading...

SUARABMI.COMPonorogo – “Rumahnya yang disana itu mas, gubug bambu dibalik tanaman tebu itu. Dari sini nanti kalo ketemu jalan setapak masuk, ikuti saja. Jalannya turun, hati hati mas, licin dan sempit” ucap seorang warga menjelaskan posisi alamat yang sedang dicari.

Jalan setapak yang menurun dan menikung tajam, menjadi gerbang masuk ke sebuah rumah reyot berdindingkan bambu berlantaikan tanah. Di dasar lembah, ditengah-tengah areal perkebunan tebu dan sawah, di salah satu sudut wilayah desa Mrican Kecamatan Jenangan Kabupaten Ponorogo, disitulah rumah mbah Montok dan mbah Katirah berada. Letaknya yang menyendiri beberapa ratus meter jaraknya dengan rumah tetangga, membuat rumah mbah Katirah dan mbah Montok tak bisa terjangkau aliran listrik negara.

Bukan saja ketiadaan aliran listrik negara, jika anda berkunjung ke kediaman mereka, jangan pernah bertanya dimana mereka melakukan rutinitas buang air besar dan kecil, sebab di areal rumah mereka tidak terdapat jamban atau WC, jangan sesekali bertanya bagaimana mereka mandi, sebab di areal rumah mereka tidak memiliki kamar mandi. Sumur, mereka juga tidak punya.

Jika musim hujan tiba, kondisi rumah mereka sangat mengenaskan. Basahnya tanah diluar rumah, akan merembes membasahi lantai di dalam hingga membuat terasa lembab. Dinding rumah yang terbuat dari anyaman bamboo, tampak bolong disana sini. Tak ayal, jika malam tiba, dinginnya terpaan udara malam selalu menerpa tidur malam mereka.

Mbah Montok dan Mbah Katirah ini merupakan dua kakak beradik yang dimasa tuanya hidup menjanda tanpa anak dan sanak saudara. Selagi masih muda, mereka mengaku sama-sama pernah berumah tangga, namun karena kemiskinan yang mendera mereka, sang suami merekapun pergi entah kemana sebelum mereka sempat memiliki keturunan.

Sejak 10 tahun terakhir ini, kepada mereka mengaku hidup dari hasil menjual kayu bakar dengan penghasilan Rp. 20 ribu seminggu sekali dimusim kemarau, dan bisa jadi hanya Rp. 20 ribu mereka dapat selama satu bulan jika di musim hujan seperti saat ini lantaran sulitnya menghasilkan kayu bakar siap pakai. Diusianya yang telah melampaui 80 tahun, mereka memang masih terlihat sehat secara lahiriyah meskipun penuaan yang mereka alami, namun tidak menutup kemungkinan, seiring dengan produktifitas yang kian menurun, pemenuhan kebutuhan hidup mereka perlahan akan semakin jauh dari ideal. Dalam kondisi masih bisa bekerja saja mereka tinggal di rumah yang jauh dari kata layak, apalagi saat kondisi mereka seperti sekarang ini.

“Siyen naliko ragane taksih kiyat, kulo biasane tumut derep mas, mangke nek pas wonten proyek ngaspal, kulo sok sok nggeh tumut. Tapi pun enten nek sedoso tahun langkung, kulo kaleh adik kulo pun mboten pajeng malih tenogone. Pun mboten wonten sing purun ngajak nyambut damel” aku mbaH Katirah.
[ads-post]
Untuk menerangi rumah saat malam tiba, mereka menggunakan lampu minyak tanah (ublik) sebagai satu-satunya penerang, sedangkan untuk keperluan memasak, mereka menggunakan kayu bakar sebagai bahan bakar utamanya. Kebutuhan air bersih yang mereka gunakan untuk memasak, mencuci dan mandi jika musim hujan seperti saat ini mereka akan dengan mudah mendapatkan dari aliran air hujan yang mereka tampung, sedangkan di musim kemarau, untuk mendapatkan air bersih warga RT01 RW 02 Desa Mrican Kecamatan Jenangan Kabupaten Ponorogo ini harus berjalan menyebrangi lembah menuju ke sebuah mushola untuk mendapatkannya.

Sesekali ada beberapa penduduk yang peduli berbagi bahan makanan kepada pasangan kakak beradik janda tua tanpa anak, suami dan kerabat ini. Jika ada bantuan bahan mentah datang, mereka mengaku tidak sekali menghabiskan. Mereka mengaturnya untuk di konsumsi menjadi beberapa hari. Jika tidak ada bantuan datang, persediaan beras raskin juga telah menipis, tak jarang mereka melewati hari hanya dengan satu kali makan dalam sehari. 

sumber: apakabarplus

SUARABMI.COM - Ponorogo – “Rumahnya yang disana itu mas, gubug bambu dibalik tanaman tebu itu. Dari sini nanti kalo ketemu jalan setapak masuk, ikuti saja. Jalannya turun, hati hati mas, licin dan sempit” ucap seorang warga menjelaskan posisi alamat yang sedang dicari.

Post a Comment

Powered by Blogger.
close