loading...

SUARABMI.COMBulan Februari lalu hanya berselang seminggu, ada kejadian tragis yang merenggut pekerja migrant asal Indonesia. Dua ABK pelabuhan Tongkang Pingtung mengalami kecelakaan hingga meninggal dunia.

Kecelakaan pertama
Rianto, ABK asal Desa Kartosari Kasepuhan Batang Jawa Tengah ditemukan tak bernyawa tidak jauh dari kapalnya. Jenazah almarhum mengambang di perairan dermaga Tongkang Pingtung Rabu, 24 Februari 2016 lalu.  Munurut beberapa rekan almarhum, Rianto masih terlihat sibuk dengan ponselnya hingga pukul 11.30 senin malam, 22 februari 2016.  Tasono,  teman sekapal almarhum mengatakan  Rianto malam itu masih main game di ponselnya.  Namun setelah itu tak diketahui lagi keberadaannya. Selasa pagi, majikannya mencari-carinya namun tak ditemukan. Hingga sampai akhirnya pada Rabu siang Rianto ditemukan tewas mengenaskan.  Kawan-kawannya sempat berfikir Rianto kabur tetapi dugaan tersebut ditepis karena seluruh barang miliknya masih ada di kapal.

Idi, pekerja asal Pingtung yang ditemui mengatakan almarhum Rianto sempat tenggelam sekitar 2 hari sebelum muncul ke permukaan. Ketika itu salah seorang warga Taiwan melihat ada barang yang menyembul di permukaan air. Beberapa orang menyelam sampai akhirnya diketahui itu adalah jenazah Rianto.  Saat ini jenazah berada di rumah duka Pingtung Linglo depan rumah rumah sakit Kristen terang Idi. “Teman-teman Tongkang sempat kesana,” imbuhnya.

Dugaan Jatuhnya Rianto
Menurut beberapa kawan dekatnya, diduga Rianto terpeleset ketika mau buang air. Indikasinya ketika jenazah ditemukan, resleting celananya terbuka. Tasono mengatakan Rianto terpeleset. Hal senada  disampaikan oleh Rosyid, teman sedaerah dengan Rianto. “Satu sandalnya ada di kapal, sandal lainnya ikut jatuh ke air,” ujar Rosyid.
[ads-post]
Menurut Soni yang juga pengurus organisasi di Tongkang, ia sempat menanyakan apakah almarhum mabuk kala itu. Menurut Sonia, kemungkinan almarhum terjatuh. Adapun dua dugaan sementara. Pertama, karena dia tengah mabuk. Kedua, ia tidak mabuk namun terpeleset jatuh dan tak ada yang menolong. Kemungkinan kedua ini juga kuat, tegasnya. Walaupun jatuh ke air dekat dermaga, tetap saja susah naik ke daratan kalau tidak ditolong orang lain, terang Soni.  Kalaupun ia berteriak tapi tak ada yang dengar atau mesin kapal lagi hidup juga fatal.  Soni memandang ban-ban yang ada di dermaga itu kalau dipakai berpegangan juga tidak bisa lama-lama karena tubuh yang terendam air punya keterbatasan.

Menurut Rosyid, kemungkinan korban mabuk juga tidak karena lingkungan di sana tidak ada ABK yang mabuk-mabukan. “Rianto jarang minum, kemarin itu dia tidak minum,” ucap Rosyid. Kebanyakan yang seperti itu terpeleset. Meskipun di dekat dermaga, perairan di sini dalam, kalau tidak ditolong berbahaya. Pernah ada orang Taiwan sama motornya jatuh, dia meninggal karena tidak ada yang menolong, jelas Rosyid. “Menurut keluarga Rianto, almarhum itu punya penyakit sering keram namun ia bisa berenang,” jelas Rosyid.

Evakuasi Jenazah Almarhum Rianto
Jenazah Rianto diangkat menggunakan tali. Bahkan jenazah sempat terjatuh. Kembali ke air. Menurut salah seorang kawan almarhum, ia menyesalkan proses pengangkatan jenazah yang seolah-olah mengambil jenazah tersebut seperti mengambil bangkai. Proses evakuasi jenazah dilakukan oleh kepolisian laut (apingko) bersama ABK setempat.

Tongkang, Tempat Pelabuhan Kapal LG
Rianto diketahui bekerja dengan job ABK LG. Diketahui di pelabuhan ini ada sekitar 400 ABK LG. Almarhum Rianto bekerja di kapal Ruey Chieh Fa no.10  CT4-2461 bersama 4 ABK asal Indonesia lainnya. Kapalnya sudah menyandar beberapa minggu di pelabuhan Tongkang selepas mencari ikan di lautan Jepang.


Kecelakaan Kedua
Selang seminggu kemudian, Senin malam (29/02), salah seorang ABK Tongkang bernama Aman (29) dilaporkan tewas tertabrak motor di jalan. Aman, merupakan ayah satu anak yang berdomisili di Dadap Juntinyuat Indramayu Jawa Barat. Menurut penuturan Soni (04/03), sore itu Aman sedang kumpul-kumpul bersama kawannnya. Setelah itu ia pergi naik sepeda menuju Coucou Pingtung.  Tempat itu sudah jauh dari pelabuhan Tongkang. Jalannnya juga sepi tidak ada pembatas, Kecelakaannya di sana kata Soni.

Edi, paman korban mengatakan pihak penabrak langsung melaporkan kepada polisi. Polisi kemudian datang lalu ditemukan identitas pada korban. Aman juga sempat dibawa ke rumah sakit namun mungkin keadaannya sudah tidak kuat, ia meninggal.  Informasi yang ia terima kecelakaan terjadi di bawah jembatan layang ketika ia mau menyeberang. Ia sendirian, tidak ada saksi ketika kejadian itu dan kejadiannya malam hari pukul 20.30 terang Edi. Saat ini jenazah akan diotopsi. Kata agensi, peraturannya demikian kalau mau dapat surat jalan pulang, terang Edi.  “Kita ingin almarhum segera dipulangkan ke Indonesia. PJTKI di Jakarta sudah mendatangi keluarga korban dan memberi uang santunan Rp 10 juta rupiah, terangnya.(indos)

SUARABMI.COM - Bulan Februari lalu hanya berselang seminggu, ada kejadian tragis yang merenggut pekerja migrant asal Indonesia. Dua ABK pelabuhan Tongkang Pingtung mengalami kecelakaan hingga meninggal dunia.

Post a Comment

Powered by Blogger.
close