loading...

Photo by IMWU Macau
SUARABMI.COM - Sebanyak 80 anggota IMWU dan LIPMI melakukan aksi protes di depan gedung KJRI Hong Kong, kemarin Minggu 24 April 2016. IMWU dan LIPMI menuntut campur tangan pemerintah Indonesia untuk segera menyelamatkan BMI korban pemalsuan data dan kini dikriminalisasi pemerintah Hong Kong, setelah data paspornya dikoreksi.

Aksi ini merupakan aksi penutup dari serangkaian aksi piket estafet yang dilakukan oleh Jaringan Buruh Migran Indonesia (JBMI). Organisasi ATKI, GAMMI dan PILAR telah melakukan aksi terlebih dahulu.

IMWU menilai pemerintah masih tidak menganggap serius masalah BMI yang sedang dituntut pemerintah Hong Kong dan terancam penjara ini. Empat BMI bahkan sudah dipenjara 6-11 bulan.
[ads-post]
“Kami mendesak pemerintah agar segera menciptakan MOU antara ke dua negara, agar korban tidak semakin banyak berjatuhan.” ungkap Purwati, wakil Ketua IMWU dalam pidatonya.

Purwati menambahkan permasalahan yang dialami BMI saat ini seperti koreksi data dan overcharging atau potongan agen yang tinggi, merupakan akibat dari pemaksaan pemerintah kepada buruh migran untuk melewati dan terikat pada PJTKI agar bisa bekerja keluar negeri, sesuai mandat UU PPTKILN no 39 tahun 2004.

Aksi protes yang berlangsung selama kurang lebih 45 menit tersebut berlangsung tertib. Hujan deras yang mengguyur Hongkong tidak menyurutkan peserta aksi untuk menuntut keadilan bagi teman-teman mereka sesama buruh migran. Mereka tetap bertahan sampai aksi selesai.

SUARABMI.COM - Sebanyak 80 anggota IMWU dan LIPMI melakukan aksi protes di depan gedung KJRI Hong Kong, kemarin Minggu 24 April 2016. IMWU dan LIPMI menuntut campur tangan pemerintah Indonesia untuk segera menyelamatkan BMI korban pemalsuan data dan kini dikriminalisasi pemerintah Hong Kong, setelah data paspornya dikoreksi.

Post a Comment

Powered by Blogger.
close