loading...

SUARABMI.COM, Taipei - Dari latar belakang yang sederhana di Pontianak, seorang wanita Indonesia menjelma menjadi bintang televisi dan pembawa acara di Taiwan. Semuanya terwujud berkat kerja kerasnya di negeri seberang.

Mok Ai-fang berasal dari keluarga yang sangat sederhana, sehingga ia terpaksa meninggalkan sekolah setelah lulus SMP dan bekerja di Malaysia selama 2 tahun. Lalu ia pindah ke Singapura.

Pada akhir tahun 2000, ia diajak temannya pergi bekerja ke Taiwan. Berbagai jenis pekerjaan dijalaninya di sana, mulai dari perawat hingga pekerja pabrik.
[ads-post]
Mendadak Dijodohkan
Kurang dari 6 bulan sebelum izin kerjanya habis, secara tidak terduga ia malah mendapatkan jodoh seorang pria Taiwan. Semua berawal dari kunjungannya ke tempat seorang teman.

Di tempat yang dikunjunginya, seorang wanita Taiwan langsung memberondong dengan pertanyaan seputar jodoh. Mok Ai-fang dicecar dengan pertanyaan seperti tanggal kelahiran dan sejumlah informasi lain.

Wanita Taiwan itu kemudian menghitung-hitung feng shui dengan kalender Tiongkok, dan menyarankan agar Mok Ai-fang menikah dengan anak lelakinya yang ke tiga.

Pernikahan Lintas Budaya
Mok Ai-fang hanya sempat berpacaran dua minggu sebelum ia harus pulang ke Indonesia. Calon suaminya ikut ke Indonesia.

Banyak hal yang baru ia ketahui tentang calon suaminya itu, karena masa pengenalan yang amat singkat.
Banyak penyesuaian yang harus dilakukan setelah pernikahan, bukan hanya karena perbedaan budaya, tapi juga karena latar belakang suami dari keluarga besar dengan 11 anak.

Tak lama ia menikah, ibu mertuanya jatuh sakit dan Mok Ai-fang pun merawatnya dengan telaten dan tulus selama 6 bulan hingga ibunda sang suami meninggal. Masa perawatan itu juga menjadi jembatan penghubung antara mertua dan menantu.

Integrasi Imigran Baru
Bersama pembimbing sekaligus sahabat, Huang Mu-yi. Ketekunan, keluwesan, dan keluasan hati memungkinkan setiap orang memainkan peran di 'panggung' masing-masing. (Sumber Taiwan Panorama)
Setelah bertahun-tahun berada di Taiwan, ia masih kesulitan dengan bahasa. Kakak iparnya menyarankan ia mengikuti kursus bahasa.

Bersama dengan teman-teman dari Indonesia, Mok Ai-fang mengikuti kursus bahasa di pusat pelatihan bagi imigran baru di Taoyuan. Ia beruntung mendapat guru sekaligus mentor yang tidak hanya mengajar berbicara bahasa Mandarin, tapi juga membantunya menggali potensi diri sebesar-besarnya.

Suatu ketika, wanita pengajar bernama Huang Mu-yi mengajak para peserta pelatihan untuk menampilkan kuliner dari negara masing-masing peserta. Mok Ai-fang belum pernah berlatih memasak sejak kecil sehingga ia meminta bantuan dari ibunya.

Melalui bimbingan dari jauh, Mok Ai-fang malah menyabet peringkat pertama inovasi kuliner "Lomba Masak Ragam Budaya Asia Tenggara".

Melihat besarnya potensi anak didiknya, Guru Huang Mu-yi mendorong Mok Ai-fang agar mengikuti pelatihan komunikasi dan hadir dalam berbagai diskusi agar para imigran baru bisa menulis dan berkisah sendiri.

Menjadi Bintang Siaran
Saat itu, pembuat film "Nonya Tastes of Life" garapan televisi publik PTS sedang mencari pemeran utama Indonesia,untuk tayangan tentang para imigran baru di Taiwan. Lagi-lagi, Huang Mu-yi memberi semangat kepada Mok Ai-fang agar mencoba melamar.

Pada saat audisi, sutradara Wen Chih-yi meminta para calon untuk memperagakan ekpsresi mendalam. Mok Ai-fang mengingat almarhumah ibu mertua kesayangannya, dan hanya dalam waktu 30 detik ia telah menangis tanpa dibuat-buat.

Setelah pelatihan selama 6 bulan, Mok Ai-fang mendapat skenario pertama tayagan pada Agustus 2006. Pengambilan gambar secara resmi dimulai pada Mei 2007.

Di tengah kesibukannya, ia melahirkan anaknya pada 14 Desember.
Sementara itu, penghargaan Pemeran Utama Wanita Terbaik dalam Golden Bell Awards diraihnya pada November di tahun yang sama.

Dalam 10 tahun terakhir, ia sudah terlibat dalam ratusan film. Salah satu yang paling berkesan adalah perannya sebagai wanita hamil dalam film "Zone pro Zak" karena pergulatan batin yang melingkupinya saat itu.

Bagi Mok Ai-fang, semua itu belum tentu dapat diraihnya kalau bukan karena dorongan, bimbingan, dan arahan dari Guru Huang Mu-yi yang terus memberikan semangat dan motivasi untuk tidak melewatkan kesempatan dan mencapai potensi diri sebesar-besarnya.

Huang Mu-yi bahkan tidak meminta bayaran ketika menjadi manajer bagi seorang 'selebriti'. Hubungan mereka dilandasi saling percaya.

Pembawa Acara
Tidak berhenti di tayangan drama, Mok Ai-fang kemudian ditantang untuk menjadi pemandu acara "Aku di Taiwan, Apa Kabar?" yang juga disiarkan oleh PTS.

Awalnya masih merasa canggung ketika menjadi penyiar acara bertema pernikahan lintas budaya tersebut. Namun ia dapat beradaptasi dengan baik.
Pembawa acara memasak. Ketekunan, keluwesan, dan keluasan hati memungkinkan setiap orang memainkan peran di 'panggung' masing-masing. (Sumber Taiwan Panorama)
Ia pun sudah mahir berbicara Mandarin. Dengan berlatih komunikasi dan mengasah kepekaan tentang apa yang ada dalam masyarakatnya, Mok Ai-fang kemudian menjadi lebih nyaman ketika melakukan wawancara dengan para narasumbernya.

Melalui acara "Nonya Tastes of Life" dan "Zon Pro Sak", Mok Ai-fang telah mengharumkan nama bangsa sekaligus membuktikan bahwa ketekunan, keluwesan, dan keluasan hati memungkinkan setiap orang memainkan peran di 'panggung' masing-masing.

Keberadaannya sekarang seakan mengingatkan pembaca untuk bekerja keras dengan hati dan menggali potensi diri seluas-luasnya. liputan6

Bermula Dari TKW Di Taiwan Hingga Sukses Menjadi Penyiar Televisi Ternama Di Taiwan, Berikut Kisahnya

Post a Comment

Powered by Blogger.
close