loading...

SUARABMI.COMSAYA seorang pekerja magang asal Indonesia di Jepang. Jujur, saya merasa kesal ketika ditanya orang Jepang dari negara mana saya datang, dan ia tidak tahu negara saya dimana. Meski tidak semua orang Jepang, tapi beberapakali ketika saya jawab "Indonesia", lalu saya tanya balik, "Apakah Anda tahu Indonesia?" Orang Jepang berpikir dulu, mencari-cari dimana letak Indonesia. Lalu saya alihkan pembicaraan ke tema lain. Saya merasa, segitukah buruknya Indonesia sampai tidak dikenal bangsa lain. Atau orang Jepang yang berwawasan sempit. Bahkan, ketika saya diberi jeruk oleh orang Jepang, dia bertanya dengan polosnya, "di Indonesia ada jeruk?" Ingin rasanya saya jawab "ada, tapi tidak dimakan. Buat ganjel bangku!!!" Belum lagi ketika saya diberi semangka orang Jepang. Dia juga bertanya, "di Indonesia ada semangka?" Padahal, bukan bermaksut mendiskriminasi negara Jepang, bahwa jenis buah-buahan di Jepang bisa dihitung dengan jari. Pisang saja impor dari Philipine. Pohon kelapa, mangga, manggis, duku, nangka, belimbing, salak, rambutan, sampai jambu pun jangan harap bisa menemukannya di Jepang.!!!

Selama saya tinggal di Jepang, dan berbaur dengan masyarakat Jepang, saya semakin paham. Meminjam istilah yang dipakai Ajip Rosidi dalam kumpulan esainya di buku Orang dan Bambu Jepang, bahwa 'rumah' yang dalam Bahasa Jepang disebut 'uchi' mengandung filosofi penting berkaitan dengan kepribadian orang Jepang. Orang Jepang tak suka ikut campur urusan orang lain yang ada di luar uchi-nya. Jangan kaget jika di pemukiman penduduk di Jepang hampir tak pernah dijumpai ada orang Jepang main ke rumah tetangganya, minta garam, pinjam uang, atau sekedar ngobrol. Mereka sibuk mengurusi uchi-nya sendiri sehingga di pemukiman kota maupun desa, siang maupun malam tampak seperti daerah mati. Sepi. Sunyi. Senyap. Pulang kerja istirahat di rumah. Bangun pagi berangkat kerja, sekolah, dan begitulah roda hidup berputar di negeri matahari terbit ini. 
[ads-post]
Istilah 'uchi' tidak hanya berkaitan dengan rumah. Bahkan diri sendiri pun bisa disebut 'uchi'. Artinya, orang Jepang tidak hanya tidak suka ikut campur urusan luar rumahnya, tapi juga luar dirinya sendiri. Mereka sangat menjaga privasi orang lain. Pertanyaan usia anda berapa? sudah menikah belum? rumahmu di sebelah mana? nomor HP-mu berapa? dan berbagai pertanyaan menyangkut privasi lawan bicara dianggap tidak sopan. 

Itu artinya, bagi orang Jepang, negara Jepang adalah 'uchi' mereka. Sehingga mereka merasa kurang antusias untuk mengetahui negara-negara asing di luar 'uchi'nya. Mereka tak tahu banyak tentang negara-negara asing, orang asing, dan segala sesuatu yang datang dari luar. Kecuali negara-negara maju seperti Amerika, Perancis, Rusia, dan negara-negara luar yang sering muncul di berita-berita televisi Jepang. 

Meskipun orang Jepang jadi terlihat kurang berwawasan luas, tradisi dan budaya mereka tetap terjaga dari generasi ke generasi karena mereka lebih banyak tahu tentang segala hal di dalam 'uchi'nya sendiri ketimbang dari luar. Tidak sekedar membentuk karakter bangsa, tapi sudah menjadi peradaban bahwa setiap orang Jepang hampir bisa dikatakan mandiri karena tidak mau ikut campur urusan orang lain, otomatis tidak mau merepotkan orang lain. Otomatis pula, mereka tidak suka orang lain mencampuri urusannya & tidak suka dibuat repot. Jadi jangan kaget jika melihat orang Jepang tampak dingin dan terkesan masa bodoh dengan orang lain.

Freni Yammad
Shizuoka, 27 Juli 2016

Orang Jepang Berwawasan Sempit

Padahal, Bukan Bermaksut Mendiskriminasi Negara Jepang, bahwa Jenis buah-buahan di Jepang bisa dihitung dengan jari

SUARABMI.COM - SAYA seorang pekerja magang asal Indonesia di Jepang. Jujur, saya merasa kesal ketika ditanya orang Jepang dari negara mana saya datang, dan ia tidak tahu negara saya dimana. Meski tidak semua orang Jepang, tapi beberapakali ketika saya jawab "Indonesia", lalu saya tanya balik, "Apakah Anda tahu Indonesia?"

Post a Comment

Powered by Blogger.
close