loading...

Ilustrasi Kasus Investasi BMI
SUARABMI.COMDirektur Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Dirtipideksus) Bareskrim Polri Brigjen Pol Agung Setya menyebut pelaku investasi bodong memahami aturan dan suka mencari celah-celah kejahatan.

Para pelaku bahkan memiliki banyak modus untuk meraih kepercayaan korban hingga memakai motif keagamaan.

"Pelaku-pelaku kejahatan ini memahami aturan, mengerti hukum, prosedur, tata cara kemudian mereka bermain di celah-celah. Saya akan fokus di sini karena saya pikir banyak hal kita gagal untuk para pelaku dan mengidolakan pada masa-masa returnnya baik, tapi kalau buruk dicaci maki. Langkah-langkah konkrit mereka bermain di dunia online," ujar Brigjen Pol Agung, di Hotel Santika Premiere Slipi, Jakarta Barat, Senin (29/8/2016).

Salah satu cara memanfaatkan peluang kejahatan, para pelaku tidak segan-segan untuk menawarkan kerja sama dengan penegak hukum. Hal itu untuk melancarkan aksinya menipu korban.

"Saya bisa sadari itu pengalaman saya bahwa salah satu pelaku tahun 2007 dia divonis 12 tahun, kemudian dari penjara dia telepon saya. 'Pak Agung bisa nggak kita ngobrol-ngobrol?'. Saya kaget narapidana di dalam penjara bisa telepon saya. Yang didiskusikan adalah 'saya punya skema baru Pak Agung'. Mereka berani mengajak penegak hukum kalau bisa pejabat tertinggi negara untuk sekedar menggunting pita kantor yang baru untuk sekedar berfoto bersama kemudian digulirkan dengan viral untuk mengajak korban yang lain yang tidak kalah mereka juga tidak hanya bicara tentang logika misal dia bawa hal-hal yang ada agamanya," kata Agung.
[ads-post]
Ia menyebut salah satu tujuan yang ingin dicapai pelaku kepada korban adalah kepercayaan. Jika korban sudah percaya, maka apapun yang diminta pelaku akan dilakukan, termasuk dengan iming-iming keuntungan besar.

"Pelaku bagaimana mengejar kepercayaannya, lalu mengajak mereka dengan segala cara, untuk melihat pertemuannya di tempat hotel bintang tinggi yang sampai yang belum yakin jadi yakin. Misal pertemuan keagamaan, retreat misalnya di-setting investor yang bagus-bagus di sebelah sini, dan yang kelas UKM di sebelah sana, mereka paham apa yang sebenarnya dituju," imbuh Agung.

Terkait dengan korban, Agung mengatakan korban sering kali tertipu dengan iming-iming keuntungan yang besar. Padahal kalau dipikir logika tidak wajar.

"Korban adalah bukan orang yang paham. Korban identifikasi saya bisa salah, rakus greedy pada hal-hal saat yang real bisa nggak usaha dengan keuntungan lebih daripada bunga bank atau deposito. Saya kira patokan itu iming-iming itu mendorong kita itu rakus misal untuk korban ikut yang mengajak misalnya adalah teman, saudara," kata Agung.

Namun, semuanya berubah ketika yang dijanjikan tidak pernah hadir. Agung menyebut ada 7 orang saksi yang melakukan pelaporan adanya investasi bodong, tetapi ketika sudah dalam proses, 7 orang tersebut menghadap perusahaan terlapor dan mengancam akan menyebarluaskan sehingga uang tersebut dikembalikan kembali ke korban.

"Korban itu ingin semuanya kembali uangnya. Kalau kita lihat rekeningnya sudah nggak ada isinya tapi harapan untuk dapat ya mereka cepat-cepat datang untuk segera diperiksa. Kemarin 7 orang saksi yang diperiksa saya cabut pemeriksaannya bahwa cara itu lebih cepat dia datang ke pelaku bilang, saya sudah datang ke Bareskrim kalau lu nggak kembaliin lu bisa diledakan dengan kasus ini," kata Agung. detik

SUARABMI.COM - Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Dirtipideksus) Bareskrim Polri Brigjen Pol Agung Setya menyebut pelaku investasi bodong memahami aturan dan suka mencari celah-celah kejahatan.

Post a Comment

Powered by Blogger.
close