loading...

surat waludi untuk TIWA yang tersimpan
SUARABMI.COMWaludi, mantan abk Yilan asal plumbon Cirebon meminta dikirimi selimut dan buku cerita. Ia menghabiskan masa hukumannya dengan membaca buku novel terangnya. 

Waludi bersama kelima abk lainnya terjerat kasus pembunuhan kapten dan juru mesin kapal 3 tahun silam. Vonis hukuman yang ia terima 22 tahun. Itu vonis final terang Shu ching, staf TIWA di Taipei.

Jelang musim dingin akhir tahun 2016 ini, ia berharap sekali dapat kiriman selimut. Selimutnya sudah tipis untuk melindungi tubuh dari hawa dingin. Tanggal dan hari seakan terlupa oleh aktifitas membacanya. Menu makan pagi roti Mantao tak pernah absen berkunjung ke sel penjaranya cerita Waludi.
[ads-post]
Kenangan buruknya tak pernah lepas dari kejadian 3 tahun lalu. Ia dihadapkan 2 pilihan yang amat berat. Membuang juru mudi kapal ke lautan atau ia sendiri yang akan dibuang ke laut oleh kawannya.

Dengan berat hati ia melakukan perbuatan keji tersebut. Bersama 2 rekan abk lainnya ia mengangkat juru mudi kapal Taiwan di atas geladak dan melempar ke lautan.

"Saya terpaksa melakukan, saya tidak tega melakukannya " ujar Waludi. Sampai sekarang ia masih dendam kepada kawannya yang mengancam dirinya (visa susanto). Dia dipenjara 28 tahun ucap Waludi.

Ceritanya awalnya adalah kejadia diakibatkan kapten suka main tangan terhadap ABKnya dan ada satu diantara mereka yang akhirnya tak tahan dan melawan. Disaat kapten lengah dia pukul memakai bola pelampung dan akhirnya terjadilah peristiwa pembunuhan kapten kapal tersebut oleh 2 orang yaitu alex dan visa susanto dan mayatnya dibuang ke laut sementara kepala kamar mesin dibuang hidup-hidup ke laut oleh 4 ABK lainnya termasuk suadara wahyudi ini. Sedang yang lainnya tidak ikut campur karena sedang istirahat.

Waludi, mantan abk Yilan asal plumbon Cirebon meminta dikirimi selimut dan buku cerita. Ia menghabiskan masa hukumannya dengan membaca buku novel terangnya.

Post a Comment

Powered by Blogger.
close