loading...

Kisah Masa Lalu dan Pesan Eni Lestari TKW yang Berpidato di PBB Yang Harus Ketahui Semua BMI
SUARABMI.COMTerbangun dari tidur. Kayaknya tubuh juga kena imbas jam lintas negara. Wejangan Ibu waktu masih kecil melintas begitu saja di benakku. Ibu bilang.

"Bersyukurlah atas apa yang sudah kita dapatkan sampai hari ini. Meski makan lauk apa adanya. Meski sekolah naik sepeda puluhan kilo meter. Meski demi menyambung hidup harus gali lobang tutup lobang. Masih ada yang lebih buruk dari kita. Hidup harus disyukuri".

Ketika itu, aku berusaha menghayati kata-kata beliau. Mungkin Ibu ingin membesarkan hatiku di tengah penderitaan yang luar biasa yang keluarga ini alami. Krismon 1998 mutlak merampas mimpi yang sudah dirancang sekian lama. Rasanya tidak terima. Aku tengok kanan kiriku, kemiskinan, ketidakberdayaan dan putus harapan jadi nyanyian mayoritas masyarakat desa kecilku. Dalam hati aku terus bertanya, entah pada siapa, "mengapa yang miskin yang semakin tenggelam?" "Kami hanya ingin hidup cukup, bisa makan, bisa sekolah, bisa bekerja layak, bisa bermanfaat. Tapi mengapa berat sekali?" Tapi ...... tak satupun jawaban aku temukan.

Mungkin Ibu benar, bersyukur hanyalah satu-satunya jawaban yang ada. Aku harus belajar pasrah. Tapi jujur, di hati kecilku yang paling dalam, aku tidak pernah berhenti bertanya.
[ads-post]
Sekian tahun berlalu, duka suka datang silih berganti. Pindah dari satu tempat ke tempat lain sudah aku jalani. Aku bersyukur masih hidup dan sehat. Tapi aku tidak pernah bisa lupa pada pertanyaanku sendiri. Mungkin juga pertanyaan jutaan manusia yang "gagal" meraih mimpi dan kini tak sanggup lagi bermimpi. Terlepas mereka mau mengakui atau tidak.

Ketika bertutur kisah "harus" atau istilah lain "terpaksa" menjadi buruh migran, mulailah terkuak satu demi satu fakta-fakta lain dibaliknya. Kemiskinan itu ciptaan manusia serakah bukan Tuhan. Ketidakberdayaan itu dikibarkan agar si miskin pasrah. Keputusasaan itu sengaja dinyanyikan. Untuk apa? Agar tidak ada yang mempertanyakan mengapa "si anak orang kaya itu bisa sekolah dan anak si miskin kerja di sawah? Apa bedanya? Bukankah bersekolah hak semua anak?"

Haiiii .... aku masih terus bersyukur bahwa aku diberi akal sehat untuk berfikir, memecahkan kenyataan-kenyataan yang aku sendiri tidak pahami. Demi sebuah jawaban, demi ketenangan batinku sendiri, aku tak segan mendengar, bertanya, membaca dan kritis. Dalam kamusku "tidak ada yang tidak mungkin selama mau belajar".

Tapi jujur ..... aku sudah lelah diam, lelah manut, lelah bungkam, lelah! Aku berharap derita ini cukup aku dan generasiku yang alami. Tapi toh nyatanya satu demi satu yang muda masuk satu demi satu generasi setelahku masuk ke lobang, cerita, tangis, ketidakberdayaan yang sama.

Haiiiii .... Jangan salah aku masih terus bersyukur atas hidup dan pengalaman yang aku lalui. Yang membuat aku paham, tegar dan terpenting jawaban itu sudah aku temukan. Dan sudah waktunya aku memilih hidup ini untuk apa dan aku sudah punya pilihan. Mungkin pilihanku bisa sangat berbeda dengan pilihanmu.

Sekali lagi jangan salah, aku masih tetap bersyukur. Bagiku berjuang bagi sesama adalah caraku bersyukur. Dengan menolong korban-korban lain agar tidak perlu menderita sepertiku adalah caraku memaknai tujuan hidup ini.

Mungkin caramu dan caraku tidak sama tapi perbedaan itu indah bukan? Jadi mari saling menghormati. Toh tak pernah aku menghina caramu karena aku paham itu caramu menjawab pertanyaanmu sendiri. Tapi tak perlu juga kau hina caraku karena itu justru menunjukkan keterbelakanganmu. Jika tidak paham, cobalah memahami. Menghujat tak akan membawamu keluar dari kegelapan. ditulis oleh Eni Lestari dalam akunnya

Terbangun dari tidur. Kayaknya tubuh juga kena imbas jam lintas negara. Wejangan Ibu waktu masih kecil melintas begitu saja di benakku. Ibu bilang.

Post a Comment

Powered by Blogger.
close