loading...

Anakku Sayang, Anakku Malang
SUARABMI.COMPagi masih berkabut. Langit masih gelap. Suara azdan subuh belum terdengar dari Mesjid dekat UGD RSUD AW Syahranie, Samarinda.

Lamat lamat terdengar suara isak tangis lirih dari ruang ICU memecah keheningan subuh. Dua orang dewasa dengan mata sembab menatap tubuh mungil berbalut perban berumur 2.5 tahun. Di tepi ranjang tampak kedua orang tua bocah mungil itu tidak henti berdoa.

Suasana ruang ICU mendadak gaduh. Denyut nadi bocah malang itu berhenti.

Sontak kedua orang tua Intan menjerit histeris. “Boru hasiannnn…Intannnn boru hasiankuu..jangan tinggalkan mamak nakkkk”, jerit pilu Ibu Intan sambil memeluk tubuh mungil putrinya. Sang ayah memeluk istrinya. Tangisnya teredam dalam rongga dadanya. Dadanya bergetar. Anggiat Marbun terguncang. Tiba tiba bumi serasa runtuh.

Keduanya bahkan tidak mampu lagi mengangkat wajahnya. Kepala mereka tertunduk ditepi ranjang sambil menangis panjang manggil nama anaknya. Ruang ICU itu menjadi pertemuan terakhir kedua orang tua Intan melihat anak yang dikasihinya.

Siapa yang harus paling kita salahkan?

Di sini saya ingin menggunakan logika yang adil, sama persis. Terkait Ahok yang dianggap menistakan agama Islam, MUI, FPI dan semua orang yang mengaku ulama atau ustad begitu semangat untuk berorasi dan berpidato dengan cara mendikte. Bahkan Habib Ahmad Alkaff di acara ILC menyatakan dengan tegas dan jelas, bahwa orang yang paling tau tentang agama Islam ya orang Islam. Bukan polisi. Dan di Indonesia ada MUI, Majelis Ulama Indonesia. Itulah mengapa mereka keluarkan sikap keagaamaan yang katanya lebih kuat dari fatwa.

Oke fine. Sekarang ada orang Islam mengebom atas nama Islam dan jihad di jalan Allah. Saya menilai itu sebuah kesalahan dan pelecehan terhadap agama Islam. Saya sebagai orang Indonesia dan beragama Islam merasa dirugikan, sebab nantinya orang-orang yang saya temui di dalam atau luar Indonesia dan non muslim, sedikit banyak akan menaruh sifat “waspada” atau bahkan sinis. Pasti ada, saya punya pengalaman akan hal ini.

Berhubung saya orang Indonesia, ada MUI, maka saya menuntut MUI megeluarkan sikap keagamaan yang lebih tinggi dari fatwa. Sebab katanya di Indonesia ini yang mewakili para ulama adalah MUI.
[ads-post]
Namun kalau MUI tidak kunjung mengeluarkan sikap keagamaan, maka mohon maaf kalau saya akan sebut MUI hanyalah lembaga sosial biasa yang memiliki kepentingan politik. Begitu juga dengan ustad, kyai, habib dan ulama yang sangat concern dengan Islam. Mari semua nyatakan bahwa pengeboman tersebut adalah tindakan yang salah. Mari ambil tanggung jawab sesuai posisi masing-masing. Jika tidak ada ustad, kyai, habib dan ulama yang bereaksi keras seperti mereka bereaksi pada Ahok, mungkin karena mereka sebenarnya juga bagian dari teroris dan mendukung aksi tersebut.

Selamat jalan ananda Intan…kami minta maaf tidak bisa menjagamu. Kami minta maaf alfa dan lalai tidak bisa memberi rasa aman di rumah Tuhan tempatmu bernyanyi. Lagu kesukaanmu “Kingkong Badannya Besar” tidak akan pernah kami dengar lagi dari bibirmu yang mungil.
Bernyanyilah di surga ananda..
Bermainlah di taman Firdaus ananda…
Nyanyikanlah lagu Kingkong itu di Surga buat kami ya…
“Kingkong Badannya Besar Tapi Kakinya Pendek, Lebih Aneh Binatang Bebek, Lehernya panjang kakinya pendek..Haleluya..Tuhan Maha Kuasa, Haleluya Tuhan Maha Kuasa
Damailah jiwa mungilmu terbang bersama para malaikat menuju keabadian…
Salam peluk cinta dan sayang...

Penulis: Papah NaNez

Pagi masih berkabut. Langit masih gelap. Suara azdan subuh belum terdengar dari Mesjid dekat UGD RSUD AW Syahranie, Samarinda.

Post a Comment

Powered by Blogger.
close