Asyik....! Ujian Bahasa Korea Dilakukan Secara Computer Based Test, Berarti tak Bisa Main Suap Menyuap Nih
SUARABMI.COMKorea Selatan berharap kerjasama dengan BNP2TKI bisa lebih erat, intensif dan ditingkatkan supaya lebih banyak TKI yang ditempatkan di Korea Selatan. Apalagi pada tahun depan diselengggarakan ujian calon TKI untuk penempatan di sektor perikanan dan manufaktur.   

Diingatkan pula pada tahun 2017, ujian bahasa Korea akan dilakukan dengan sistem Computer Based Test (CBT) bukan Paper Based Test (PBT). Di BP3TKI Jakarta dan Semarang, saat ini sudah tersedia masing-masing satu ruangan CBT hingga ujian bisa diadakan secara serempak.  

Direktur Indonesia EPS Center HRD Korea, Jang Byung-hyun mengutarakan hal tersebut ketika bersama Deputi Penempatan BNP2TKI Ir. Agusdin Subiantoro MMA, meninjau pelaksanaan ujian tahap II (ujian kecakapan dan ujian kompetensi) sistem poin EPS program G to G ke Korea Selatan. Ujian di Balai Latihan Kerja Surakarta, Jl. Bhayangkara No. 38, Panularan, Laweyan, Kota Surakarta pada Jumat, 2 Desember 2016 itu khusus untuk calon TKI yang ingin bekerja pada sektor perikanan. 
 [ads-post]
Ujian pada Jumat pagi itu, diikuti 487 peserta, sedangkan sisanya 1.539 peserta akan mengikuti ujian hingga 5 Desember 2016. Ujian ini diselenggarakan BNP2TKI bekerjasama dengan Human Resource Development  Korea, serta Universitas Negeri Surakarta (UNS).

Para peserta yang mengikuti ujian tahap II adalah mereka yang telah lulus ujian tahap satu (EPS-TOPIK). Mereka berasal dari 17 provinsi, terbanyak dari Jawa Tengah (866), Jawa Barat (659), Jawa Timur (254), D.I. Yogyakarta (39), Lampung (39), NTB (21), Sumatera Selatan (14), Sumatera Barat (7), DKI Jakarta (7), Banten (5), Bengkulu (4), Kepulauan Riau (3), Sumatera Utara (3), Riau (2), Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur dan Sulawesi Tenggara masing-masing satu orang.

Poin sistem EPS ini terdiri dari tiga aspek yang dinilai yakni meliputi, bahasa Korea, kecakapan dan kompetensi calon TKI. Tes kecakapan bertujuan memastikan bahwa hanya calon TKI yang memiliki kompetensi, berkualitas dan menguasai bidangnya yang akan diberangkatkan. Disamping bertujuan agar TKI lebih unggul dibandingkan tenaga kerja asing, ujar Agusdin Subiantoro yang menambahkan, sisi kompetensi meliputi pengalaman, pendidikan, serta pelatihan yang ditandai dengan pemberian sertifikat.

Deputi Penempatan BNP2TKI mengharapkan jumlah TKI yang ditempatkan ke Korea Selatan terus meningkat baik dari sisi kuota maupun area atau jenis sektor jabatan. Korea Selatan saat ini memberi peluang untuk bekerja pada sektor perikanan, konstruksi, manufaktur, jasa dan pertanian, tetapi TKI lebih banyak bekerja pada bidang perikanan dan manufaktur. Jumlah TKI di Korea Selatan dari tahun 2010 s.d Oktober 2016 berjumlah 44.174. Sedangkan di tahun 2016 yang telah ditempatkan ke Korea Selatan sampai 31 Oktober ini berjumlah 5.082.  

Keinginan untuk menambah kuota dan area sektor jabatan itu sejalan dengan upaya pemerintah mengurangi jumlah tenaga kerja sektor informal di luar negeri terutama PLRT (Penata Laksana Rumah Tangga). Guna mendorong peningkatan  jumlah TKI sektor formal, atau tenaga kerja yang bekerja pada perusahaan-perusahaan berbadan hukum, tambahnya.

Pertama Kali  

Direktur Indonesia EPS Center HRD Korea, Jang Byung-hyun mengungkapkan, pelaksanaan poin sistem 2016 ini  pertama kali diselenggarakan di Indonesia. Diharapkan mereka yang lulus bisa bekerja di Korea selama empat tahun 10 bulan, Kalaupun jika ingin melanjutkan lagi, maka jangan menjadi tenaga kerja ilegal.

“Indonesia termasuk negara yang penting sekali dari 15 negara yang mengirimkan tenaga kerja asing ke Korea, dan dalam satu tahun bisa mencapai 7.000. Tahun lalu sektor perikanan sempat ditutup,tapi pada tahun ini dibuka lagi.

Jang menambahkan calon TKI sebenarnya ingin cepat-cepat berangkat, sedangkan pengusaha Korea juga ingin bisa segera bertemu dengan pekerja. Sejalan dengan hal itu HRD Korea mengharapkan kerjasama yang lebih intensif dengan BNP2TKI agar pemberangkatan lebih cepat.

Cari Modal

Subagyo, Cilacap (31) ikut tes agar bisa bekerja di Korea hingga bisa mendapat modal dan memperoleh ilmu perikanan yang kemudian dapat diterapkan di Indonesia.

Pengalaman belum ada, tapi petunjuk-petunjuk BNP2TKI untuk pelaksanaan test sudah dipelajari. Ujian bahasa Korea bisa dikerjakan dengan baik. Saya juga sudah punya sertifikat dasar keselamatan, ujar ayah dari seorang anak berusia empat tahun ini. Sertifikat diraihnya dari SMK Mundu Cirebon setelah mengikuti pendidikan selama 10 hari sedangkan ujiannya mencakup berbagai jenis tali temali, kail, jaring, kapal serta keselamatan.

“Untuk hubungan dengan keluarga dirasa tidak ada masalah jika dirinya bekerja di luar negeri, karena menurutnya anak- istri gampang diajak berkomunikasi, melalui media sosial, walaupun ada rasa sedih namun ini juga untuk masa depan mereka juga’.

Sedangkan, Catur  wibowo, Yogyakarta (25) sebelumnya berpengalaman  kerja di Jepang bidang manufaktur, beralih karena ingin masih mencari banyak pengalaman, dan ingin hidup lebih baik. Dirinya berharap agar proses bisa lebih cepat berangkat.

“Andaikata keterima di Korea, anak istri akan dititipkan pada mertua, namun istri Inshaa Allah akan ikut tahun depan” ujarnya.

Catur sempat bercerita bahwa dirinya bertemu dengan istrinya saat bekerja di Jepang. Ditanya tentang kesiapannya, ini sebagai dunia baru dan pengalaman baru, pengalaman saya selama bekerja di Jepang sebagai bekal antisipasi jika mengalami kendala di Korea kelak, kuncinya adalah belajar dan berusaha beradaptasi dengan baik.*** (DH/SJR/BNP2TKI)
loading...
loading...

Korea Selatan berharap kerjasama dengan BNP2TKI bisa lebih erat, intensif dan ditingkatkan supaya lebih banyak TKI yang ditempatkan di Korea Selatan. Apalagi pada tahun depan diselengggarakan ujian calon TKI untuk penempatan di sektor perikanan dan manufaktur.

Post a Comment

Powered by Blogger.
close