DAPETIN UPDATE BERITA MELALUI LINE DENGAN FOLLOW TOMBOL DIBAWAH INI
Tambah Teman
loading...

JBMI – jaringan yang beranggotakan organisasi buruh migran dan keluarganya yang berada di Hong Kong, Macau, Taiwan dan Indonesia – mengucapkan turut berduka cita sedalam-dalamnya atas kematian Dhinia Sabatini, BMI asal Ponorogo, yang meninggal tanggal 9 Oktober 2016 di Hong Kong.

Masih belum jelas apakah Dhinia meninggal karena terjatuh atau bunuh diri. Namun melalui surat yang ditinggalkannya, dia mengeluhkan kondisi kerja. Melalui telpon tanggal 23 September 2016 kemarin, dia menyampaikan kepada keluarga bahwa majikannya cerewet.

Koordinator KABAR BUMI cabang Ponorogo- anggota JBMI, Fendy Rahayu telah mengunjungi keluarga korban dan menyampaikan bahwa Ibu Korban sering pingsan saat ini jika ingat anaknya.
Menurut Fendy Rahayu, korban telah menikah dan memiliki seorang anak yang masih berusia 5 tahun.

“Kami sangat menyayangkan bahwa Dhinia tidak mengetahui bahwa berdasarkan hukum perburuhan Hong Kong, PRT berhak memutuskan kontrak kerja dengan memberi satu bulan notice atau satu bulan gajinya jika ada pelanggaran” jelas Sringatin, koordinator JBMI.

JBMI mengkritisi pemerintah Indonesia yang tidak memberi pendidikan kepada calon tenaga kerja tentang hukum dan hak, sosial budaya masyarakat, keamanan kerja dan lembaga-lembaga pertolongan di negara penempatan sebelum mereka diberangkatkan keluar negeri.
[ads-post]
“Dhinia meninggal karena dia tidak tahu haknya dan tidak tahu kepada siapa bisa meminta pertolongan” jelas Sringatin. JBMI sering menerima pengaduan dari buruh migran Indonesia terkait kondisi kerja yang buruk.

Di satu sisi, mereka tidak betah tetapi tidak berani memutuskan kontrak kerja karena lilitan potongan gaji untuk biaya penempatan. Di Hong Kong, gaji BMI dipotong sebesar $2500 (Rp. 4,1 juta) per bulan atau sejumlah HK$15.000 (Rp. 25 juta). Padahal biaya penempatan resmi ke Hong Kong menurut Keputusan Menteri Tenaga Kerja hanya Rp. 15,5 juta.

Disisi lain, mereka tidak tahu kemana dan bagaimana bisa mengadukan kondisi kerjanya dan berganti majikan.

JBMI pasti mengarahkan BMI untuk melakukan beberapa langkah penting seperti membuat catatan atau diary, membuat surat pengaduan ke Imigrasi dan Departemen Tenaga Kerja Hong Kong dan tidak meneruskan pembayaran biaya penempatan. Jika kondisi sudah sangat buruk, maka pilihan terakhir adalah memutuskan kontrak kerja dengan memberi satu bulan pemberitahuan.

“Seperti Erwiana dan BMI yang baru datang, mereka umumnya menghubungi agen atau PJTKI yang memberangkatkan. Tapi tidak ditolong dan disuruh bekerja hingga potongan gaji lunas. Jika nekad maka mereka dan keluarga akan diancam untuk melunasi sisanya” tambah Sringatin.

Hingga Mei 2016, jumlah BMI meninggal sebanyak 13 orang dikarenakan bunuh diri akibat lilitan hutang, terjatuh dan sakit. Sringatin juga mengkritisi aturan pemerintah Hong Kong yang tidak tegas pada agen-agen, pemaksaan hidup serumah dengan Majikan (live-in) dan pembiaran terhadap overcharging.

“Pemerintah Indonesia wajib meyakinkan training pra pemberangkatan yang mendidik dan meyakinkan hak dan keselamatan kerja BMI. Jangan hanya melihat BMI sebagai barang dagangan. Jangan sampai ada Dhinia atau Erwiana yang tidak bisa mengadu karena tidak paham peraturan dan haknya” tutup Sringatin.
#CabutJeratanPJTKITerhadapBMI

JBMI – jaringan yang beranggotakan organisasi buruh migran dan keluarganya yang berada di Hong Kong, Macau, Taiwan dan Indonesia – mengucapkan turut berduka cita sedalam-dalamnya atas kematian Dhinia Sabatini, BMI asal Ponorogo, yang meninggal tanggal 9 Oktober 2016 di Hong Kong.

Post a Comment

Suara BMI

{picture#https://plus.google.com/u/0/photos/115157821366086931748/albums/profile/6295477770107479810} SuaraBMI.com is Choice news updates about all things Indonesian's Migrant as well as trending topics in the Indonesian's Migrant social media sphere. {facebook#https://www.facebook.com/suarabmi} {twitter#https://twitter.com/suarabmi} {google#https://plus.google.com/u/0/+suarabminews} {pinterest#https://www.pinteres.com} {youtube#https://www.youtube.com} {instagram#https://www.instagram.com}
Powered by Blogger.