loading...


SUARABMI.COM  - Inilah kisah derita Tenaga Kerja Wanita (TKW) dan keluarganya, sementara negara mereguk trilyunan rupiah dari pahlawan devisa. Naifnya, devisa negara banyak dihabiskan oleh pelaku negara untuk hura-hura berkedok demokrasi, melalui pilpres, pilgub, atau pilkada lainnya, selain itu korupsi juga menjadi penggerus devisa negara yang salah satunya dihasilkan oleh para TKW yang selalu berkorban dengan darah, air mata dan hancurnya rumah tangga.

Rumah berdinding keramik coklat yang berada di jl Raya Ponorogo-Ngebel, tepatnya di lingkungan RT 1 RW 1, Dusun Krajan, Desa Jimbe, kecamatan Jenangan Kabupaten Ponorogo itu nampak sepi. Penghuninya berada di dalam masih dalam suasana duka yang mendalam.

Rumah tersebut tak lain adalah rumah milik Mbah Giyem (60) yang tak lain adalah nenek kandung dari Rista Fransiska (17)  dari Ibu kandungnya yaitu Siti Fatimah. Pasalnya rumah yang berada di tepian jalan raya ke Wisata Ngebel tersebut dua penghuninya berada didalam rumah hanya pintunya terbuka namun penghuninya tidak menampakan diri. Dan ketika di sambangi kerumahnya Minggu pagi (18/12) ternyata Siti Fatimah nampak suntuk duduk di kursi tamu.

Kesedihan masih tergurat diraut wajah keduanya. Keduanyanya merasa kehilangan dengan meninggalnya Rista Fransiska siswi kelas 11 SMKN Ponorogo. Anak Siti Fatimah yang juga cucu Mbah Giyem meninggal dunia dengan cara tak wajar. Siti Fatimah harus terbang dari Singapura untuk membuktikan kepergian anak gadisnya. Siti Fatimah memang seorang TKW yang sudah enam tahun bekerja di sana.

Rista Fransiska meninggal secara sadis pada Jumat malam (16/12) dengan luka 9 tusukan.  Jenazahnya ditemukan terbujur kaku dan bersimbah darah dan tangannya ditindih dengan sebuah batu yang cukup besar di selokan tepian jl Raya Ponorogo-Wonogiri. Tidak hanya itu kesadisan pembunuh lebih kentara, sebab wanita belia ini dibunuh dalam keadaan hamil 7 bulan.

Siti Fatimah mendengar kabar kematian anak semata wayangnya langsung terbang, pulang ke Indonesia. Rista adalah buah hati dari perkawinannya dengan Saptoni (38) warga Dusun Sejeruk, Desa, Kecamatan Kauman,Ponorogo. Kabar kematian anaknya itu ia terima dari teman Rista Fransiska melalui Facebook (Fb). Teman Fransiska tersebut mengabarkan kepada Ibunya kalau Rista ditemukan meninggal di selokan dengan luka tusukan.

Spontan saat itu juga Perempuan kelahiran 1975 itu langsung menelpon ke rumahnya di Jenangan. Akan tetapi keluarga besar Jimbe, Kecamatan Jenangan juga belum tahu atas kejadian tersebut, meskipun paginya Polsek Sumoroto datang mengabarkan kepada keluarga korban. Polisi saat itu hanya menanyakan keberadaan Rista Fransiska. Pihak keluarga mengatakan kepada pihak kepolisian jika Rista sudah dua malam belum pulang kerumah.
[ads-post]
"Saya pertama kali mendengar kabar anak saya meninggal itu malah dari teman FB anak saya yang juga berteman dengan saya dan memberitahu kalau Rista meninggal dengan cara tragis. Anak saya meninggal dalam keadaan hamil dengan luka Sembilan tusukan. Kabar itu saya terima dari teman Fb Rista, bernama Ahmad Riski yang juga menjalin pertemanan dengan saya di dunia maya. Kabar itu saya terima pada Sabtu pukul 10 pagi waktu Singapura.

Satu jam setelah menerima kabar itu, Siti Fatimah menelpon keponakannya yang tinggal di Desa Jimbe. Sayangnya, keponakannya tersebut tidak mengetahui berita kematian Rista, walau pada Sabtu pagi mereka kedatangan tamu dari Polsek Sumoroto. Namun pihak kepolisian, tidak mengatakan jika Rista Fransisika telah meninggal dunia karena pembunuhan.

Tanpa pikir panjang pada hari Minggu pagi (18/12) Siti Fatimah langsung minta ijin majikannya untuk pulang ke Indonesia dan mengklarifikasi kebenaran berita itu. Sore hari, Siti Fatimah telah tiba di rumahnya Ponorogo. Siti Fatimah tidak langsung menuju rumah Suaminya Saptoni di  Jl.Gajah Mada RT 1 RW 1, Dusun Sejeruk, Desa/Kecamatan Kauman, Ponorogo, dimana Rista juga tinggal di situ.


Baru hari Senin (19/12) Siti Fatimah bertandang ke rumah Saptoni yang tak lain suami dan ayah kandung Rista Fransiska itu. Betapa terpukulnya Siti Fatimah karena meskipun sudah enam tahun bekerja sebagai pembantu di Singapura sudah dua kali pulang kampung ke Indonesia. pertama kali empat tahun saat disana ia mengaku pulang dan kemudian pulang yang ke dua pada bulan April 2014 lalu. saat itu, Fatimah sempat tidur selama seminggu lebih bersama Rista Fransiska di rumah Mbah Giyem di RT 1 RW 1 Desa Jimbe, Jenangan. Saat itu, kebetulan Rista juga libur panjang.

"Empat bulan lalu yaitu bulan April, kami tidur bersama selama satu minggu. Kami tidur selalu berpelukan. Untuk mengobati kerinduan kami yang lam atidak bertemu. Namun saya tidak menduga jika anak saya itu telah hamil. Rista juga tidak pernah cerita atas kejadian yang menimpanya terkait kehamilannya. Kami juga tidak tahu sama sekali karena tidak Nampak keanehan pada perilaku Rista. Ia juga tidak cerita kalau punya pacar. Betapa hancur hati saya melihat kenyataan anak semata wayang saya meninggal dibunuh dengan cara sadis dalam keadaan hamil. Sungguh biadab pelaku pembunuh anak saya. Apa sebenarnya motif pembubuhan itu," isaknya Siti Fatimah sembari memandang foto Rista yang diambil dari albumnya.

Masih menurut Fatimah bahwa Rista juga sempat melakukan komunikasi dengan dirinya melalui Fb saat puasa hari pertama. Ia sempat menanyakan keadaan ibunya lewat Fb. Bahkan ia juga pernah berbincang lewat inbox. "Bahkan kami sama Rista terkahir kali komunikasi lewat inbook di FB menanyakan keadaan saya, kata Fatimah.
Berikut cuplikannya:

Rista: “ ibu bagaimana kedaannya baik kan?”
Fatimah: “baik dik”.
Rista: “Ibu hati-hati ya”,
Fatimah: Adik juga hati-hati dan jaga diri baik-baik dan jangan nakal ya.
Rista:  Ia bu,

“Setelah percakapan itu, masa tahu-tahu seperti ini, dia juga sempat minta kiriman uang untuk daftar ulang sekolahnya dan juga akan menukarkan Laptopnya. Ia minta Laptop Samsung kami belum mengirim sudah tiada," isaknya.

"Rista juga pernah saya tawari sepeda motor akan tetapi ia takut kepada bapaknya, ia sangat takut sama bapaknya. Jujur saya sendiri sudah 5 tahun tidak komunikasi dengan bapaknya. Bahkan saya juga pernah minta pendapat Rista tentang rencana perceraiannya dengan Saptoni bapaknya,. Saat itu, dia bilang jangan sekarang bu. Adik takut sama bapak. Jangan sekarang, pokoknya Bu. Saya takut kalau ibu pisah sama bapak. Itu pendapat Rista ke saya waktu beberapa waktu lalu letika saya lontarkan rencana itu. padahal bapaknya setiap Rista tidak dirumah juga selalu mencarinya tapi kenapa saat itu kok tidak segera mencari dan katanya juga sempat menelpon bapaknya," imbuhnya.

Fatimah tahu kalau Rista hamil saat selamatan tiga dan tujuh hari meninggalnya Rista. Saat itu Pak Kyai dalam mendoakan arwah Rista, menyebut nama Risti. Dari situ dirinya bertanya siapa Risti.

"Saya awalnya juga tidak tahu kalau Rista hamil. Saat tahlilan tiga hari dan tujuh hari, nama Risti selalu mengiringi nama almarhum anak saya Rista. Lalu saya tanya siapa Risti itu, ternyata bayi yang dikandung Rista. Ya Alloh tega nian pembunuh itu. Saya berharap Polisi segera bisa mengungkap siapa pembunuh anak saya. Saya akan kembali pulang ke Singapura kalau sudah terungkap siapa pembunuh anak saya. Padahal seharusnya hari ini saya harus kembali ke rumah majikan di Singapura. Tapi bagaiman lagi, dan saya harus tunggu hingga terungkapnya pembunuh Rista. Harapan saya pelaku harus dihukum seberat-beratnya," pungkas Fatimah.

Hal senada juga disampaikan Mbah Giyem. Sembari  meneteskan air mata, nenek yang sudah uzur itu berharap supaya pembunuh cucunya segera tertangkap. "Semoga Polisi segera menemukan pembunuh cucu saya itu, karena sudah sekian lama belum terungkap juga pelaku yang menghilangkan nyawa Rista dan anaknya," pungaks Giyem.

Ironisnya Pada hari Selasa 20-12-2016 polisi mengungkap motif pembunuhan yang tidak lain di lakukan oleh Saptoni (49) ayah kandung Rista, yang takut kedok nya terbongkar, merencanakan pembunuhan ini sudah sejak satu bulan lalu, polisi mendapatkan informasi dari seorang wanita yang mengaku teman curhat dan sahabat baik korban Rista yang menelepon ke kantor polisi dan mengatakan bahwa pelaku pembunuhan tersebut adalah Saptoni bapak kandung Rista, mendapatkan informasi tersebut polisi pun bergegas untuk menyelidiki kasus ini lebih dalam lagi dan mendatangi kediaman pelaku yang berada di i  Jl.Gajah Mada RT 1 RW 1, Dusun Sejeruk, Desa/Kecamatan Kauman, Ponorogo untuk di periksa.

Kepada polisi Saptoni mengaku bahwa peristiwa tersebut memang ia yang telah melakukan nya, dan Saptoni juga merasa sangat menyesal atas perbuatan yang di lakukannya, ia juga mengaku hilaf dan takut kalau perbuatan nya akan di ketahui oleh keluarganya, tutur Kepala Polsek Sumoroto di kantornya. tribkota

Inilah kisah derita Tenaga Kerja Wanita (TKW) dan keluarganya, sementara negara mereguk trilyunan rupiah dari pahlawan devisa. Naifnya, devisa negara banyak dihabiskan oleh pelaku negara untuk hura-hura berkedok demokrasi, melalui pilpres, pilgub, atau pilkada lainnya, selain itu korupsi juga menjadi penggerus devisa negara yang salah satunya dihasilkan oleh para TKW yang selalu berkorban dengan darah, air mata dan hancurnya rumah tangga.

Post a Comment

Powered by Blogger.
close