loading...

SUARABMI.COMRatusan pekerja migran dari Filipina, Indonesia, Thailand, dan Nepal bergabung dalam perayaan Hari Migran Internasional dengan berjalan kaki dari Southorn Playground di Wanchai ke Kantor Pemerintah Pusat Hong Kong di Admiralty. 

Mereka turun ke jalan untuk memprotes kebijakan pemerintah Hong Kong mengenai kondisi memburuknya pekerja migran seperti kerja yang panjang, kerjaan yang over, pungutan liar dan bahkan penyitaan dokumen dan pelanggaran lainnya.

Menurut Eni Lestari dari AMCB dan International Migrant Alliance (IMA), mereka memprotes penolakan pemerintah Hong Kong untuk memanusiakan pekerja migran. Pemerintah terus tidak mengakui hak-hak mereka seperti kondisi hidup mereka, hak untuk berganti majikan, mengubah visa dan, yang paling penting, hak untuk libur.
[ads-post]
Eni Lestari juga menunjukkan bahwa mereka dipaksa untuk bekerja 12 sampai 18 jam sehari dan dalam kesempatan ini, para pekerja migran bersatu untuk menuntut kepada pemerintah Hong Kong untuk mengatasi disebutkan di atas masalah mendesak para migran.

Secara khusus, para migran meminta kebijakan wajib kerja dalam sehari hanya 11 jam dan waktu lainnya untuk istirahat dan makan. Dan juga, mereka menuntut untuk memiliki pilihan untuk berganti majikan yang sesuai dan yang mau menghargai pembantunya.
[youtube src="ib8TUr9FvcE"/]
Pawai berakhir di CGO di mana mereka berorasi dengan speaker bersamapeserta demo lainya. PBB menyatakan 18 Desember Hari Migran Internasional.

Ratusan pekerja migran dari Filipina, Indonesia, Thailand, dan Nepal bergabung dalam perayaan Hari Migran Internasional dengan berjalan kaki dari Southorn Playground di Wanchai ke Kantor Pemerintah Pusat Hong Kong di Admiralty.

Post a Comment

Powered by Blogger.
close