loading...
DAPETIN UPDATE BERITA MELALUI LINE DENGAN FOLLOW TOMBOL DIBAWAH INI
Tambah Teman
loading...

SUARABMI.COMJanuari 2017 ini akan menjadi bulan terakhir bagi John A Prasetio menjabat sebagai Dubes RI untuk Korea Selatan (Korsel). Setelah 4 tahun berada di sana, pria kelahiran Semarang ini fasih menuturkan tentang tenaga kerja Indonesia (TKI) hingga perkembangan kerjasama ekonomi RI-Korsel.

“Gaji mereka pada tingkatan “UMR” setempat atau kisaran Rp 14,5 juta per-bulan. Kalau ditambah lembur mereka bisa mengantongi hingga Rp 30 juta. Dari situ berdasarkan survei kita, rata-rata bisa menabung sekitar Rp 17 juta. Jadi, hitungan kasar saya, potensi remitensinya pada kisaran Rp 7 triliun per-tahun,” jelas John. Berikut wawancara dengan John.

Apa kelebihan TKI di Korea Selatan?
Sepaham saya, tidak ada TKI yang lebih mujur dibandingkan TKI di Negeri Ginseng. Mereka disamakan secara hukum dengan pekerja setempat, baik gaji maupun fasilitas lainnya. Itulah keuntungan pengiriman TKI dalam skema G-to-G. Tidak heran bila TKI di sana terihat gagah dan perlente hehehehe.

Bisa digambarkan fasilitas yang didapatkan?
Gaji mereka pada tingkatan “UMR” setempat atau kisaran Rp 14,5 juta per-bulan. Kalau ditambah lembur mereka bisa mengantongi hingga Rp 30 juta. Dari situ berdasarkan survei kita, rata-rata bisa menabung sekitar Rp 17 juta. Jadi, hitungan kasar saya, potensi remitensinya pada kisaran Rp 7 triliun per-tahun.
[ads-post]
Memangnya mereka tidak butuh pengeluaran harian sehingga bisa menabung demikian besar?
Meskipun berbeda-beda kualitasnya, namun sesuai dengan kontrak maka TKI kita telah disiapkan tempat tinggal dan makan dua kali sehari. Jadi tidak heran kalau mereka mengantongi uang tabungan cukup besar. Bahkan gadget mereka selalu update dan lebih bagus dari milik saya. Itulah yang membuat mereka terlalu betah di sana.

Bagaimana posisi TKI dibandingkan tenaga Asing lainnya di sana?
Ini yang menarik. Jumlah TKI kita 38 ribuan, atau nomor tiga setelah Vietnam dan Kamboja. Setahun rata-rata datang dan pergi 5.000 TKI yang semua berdasarkan permintaaan perusahaan Korea. Sayangnya tahun ini jumlah permintaan mengalami penurunan sedikit, kisaran 4 persen.

Mengapa tidak naik tapi justru menurun?
Setidaknya terdapat dua hal yang menjadi penyebab. Pertama adalah masih tingginya jumlah illegal workers kita di sana yang tahun lalu masih pada kisaran 5.500, atau turun dari 7.000 dibanding tahun sebelumnya.

Kedua, TKI kita sulit meninggalkan zona nyaman di Korea untuk menghadapi ketidakpastian hidup di Indonesia. Dari punya pendapatan Rp 20 juta misalnya lalu harus pindah wiraswasta di kampungnya. Perubahan mental seperti ini tidak semua TKI siap. Di sini yang diperlukan adalah pemberdayaan dan pendampingan TKI saat pulang kampung oleh pihak berwenang.

Apa hubungan antara TKI ilegal dengan turunnya permintaan?
Pemerintah Korea memberikan kuota TKI berdasarkan assesment mereka antara lain faktor banyak sedikitnya overstayers. Kalau TKI ilegal kita dianggap tinggi maka turunlah kuota kita. Alhamdulillah tahun 2016 kita mampu menurunkan jumlah TKI ilegal hingga 1.500-an orang. Tahun 2017 ini kita harapkan kuota Indonesia bisa naik kelas lagi. Semoga.

Adakah hal lain yang menyebabkan turunnya kuota TKI kita?
Saya kira ada, yakni soal non teknis lain seperti radikalisme. Tahun ini misalnya, beberapa gelintir TKI kita dideportasi karena dianggap cenderung radikal dengan kesukaannya mengakses situs-situs ‘berbahaya’. Ada juga yang ditengarai mengirim uang ke Suriah untuk kelompok radikal. Ini semua pasti akan berimbas pada keengganan pengusaha Korea merekrut TKI. Bahkan akhir-akhir ini ada WNI yang ditengarai terlibat penggunaan dan perdagangan narkoba.

Waduh. Harus ada program deradikalisasi dong?
Harus ada demi menyelamatkan lapangan kerja kita. Dan itu kita kerjasamakan dengan Kemlu maupun BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme-red). Namun yang jelas, kita terus berkomunikasi dengan TKI melalui berbagai media untuk mengingatkan bahaya mengakses situs radikal. Maklumlah, gadget yang canggih dan internet di Korea yang super cepat, membuat mereka mudah tergoda akan hal-hal baru yang selama ini tidak dikenal di kampungnya. Ini tantangan nyata di lapangan.

Jadi, secara umum, apasaran Anda untuk mempertahankan atau meningkatkan lapangan kerja TKI yang demikian bagus di Korea Selatan?
Pertama, persiapan yang baik. Jangan ada yang abal-abal. Jangan memalsukan dokumen apapun termasuk kesehatan. Seleksi dengan super duper ketat.

Kedua, KBRI di Seoul terus mendampingi mereka dengan melakukan perlindungan dan pembinaan melalui berbagai cara. Terakhir, siapkan program pemberdayaan yang tepat dan serius agar mereka siap pulang manakala habis masa kontraknya.

Editor: Rahma Philip
Sumber: Detikcom

Januari 2017 ini akan menjadi bulan terakhir bagi John A Prasetio menjabat sebagai Dubes RI untuk Korea Selatan (Korsel). Setelah 4 tahun berada di sana, pria kelahiran Semarang ini fasih menuturkan tentang tenaga kerja Indonesia (TKI) hingga perkembangan kerjasama ekonomi RI-Korsel.

Post a Comment

Suara BMI

{picture#https://4.bp.blogspot.com/-d815yzHBHls/WT4_fgfVgdI/AAAAAAAALNY/b6WBmhQn55kw2Ax8-1iwXe1qF30zmlIsgCLcB/s1600/Untitled-1.png} Suara BMI adalah portal berita Buruh Migran Indonesia di Luar Negeri yang menyajikan berita seputar BMI dan kehidupannya dari berbagai sudut pandang, kredibel dan independen {facebook#https://www.facebook.com/suarabmi/} {twitter#https://www.twitter.com/suarabmi/} {google#https://plus.google.com/+EniLestarisbmi} {pinterest#https://id.pinterest.com/} {youtube#https://www.youtube.com/channel/UCWS5cxHkSUsQcT2zWwn4OEA} {instagram#https://www.instagram.com/suarabmi}
Powered by Blogger.