loading...

SUARABMI.COM - Kasih [45] warga Bantarwaru Ligung Majalengka ini menderita sejumlah luka dibagian tubuhnya yang diperlihatkan 19 Februari 2017 lalu karena mengalami kekerasan saat bekerja selama 10 bulan di Dubai.

Bahkan kasih mengalami cacat permanen dibagian tangan kirinya dimana pernah mengalami patah tulang dan tidak lurus seperti sedia kala serta punggung dan kedua kakinya bengkak-bengkak.

Kasih selama bekerja 10 bulan di Dubai hanya menerima gaji sebesar 2,8 juta dengan alasan karena dipotong agen.

Kasih lantas dipulangkan majikannya dengan sepihak karena dianggap sudah tidak produktif lagi karena luka permanen tersebut.  Tak hanya itu, dalam kepulangannya yang tiba 4 Februari lalu, Kasih memakai biaya sendiri.

Namun aneh, selama 10 bulan kasih sama sekali tidak mengetahui siapa majikannya, dimana alamat ia bekerja bahkan Kasih yang hanya lulusan SD itu tidak tahu nama PJTKI yang memberangkatkannya.
[ads-post]
Kasih hanya menjawab 11 bulan silam ingin kerja ke Arab untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya karena suami Kasih telah meninggal beberapa tahun lalu. Setelah itu datanglah agen dari Cirebon yang mengaku bernama Suandi yang kemudian memberangkatkan Kasih tidak lama kemudian.

Tanpa melalui pelatihan Kasih diberangkatkan ke Dubai. "Begitu terima paspor saya langsung berangkat ke Jakarta ditampung di sebuah rumah. Esoknya langsung berangkat naik pesawat. Saya langsung bekerja di sebuah keluarga besar," kata Casih sebagaimana dilansir pikiran rakyat.

Ketika dipulangkan Casih tak mampu menuntut haknya karena tidak memahami apa yang harus dituntut dan apa yang harus diutarakan kepada majikannya. Hanya ketika majikannya memarahi dan memulangkannya, dia sempat meminta gajinya selama bekerja. Namun majikannya menolak memberikan dengan alasan sudah dipotong. Tidak dijelaskan mengapa dipotong, siapa yang memotong gajinya, dan kepada siapa gaji diberikan.

Akhirnya, Casih yang di kampungnya hanya bekerja sebagai buruh harian lepas itu pulang tanpa membawa uang gaji. Harapan untuk membesarkan anaknya dan menyekolahkan anaknya, Dede Yusuf Maulana yang kini duduk di bangku kelas III SD, serta bisa membuatkan rumah untuk tempat tinggal bersama ibunya kini pupus. Dia kini tak mampu bekerja di sawah lagi, untuk menghidupi anaknya kini dia berjualan pakaian bekas dengan keuntungan Rp 10.000 per hari. Itupun bila jualannya laku. Casih beserta anak dan ibunya kini tinggal di rumah kontrakan di kampungnya di Bantarwaru.

Kepala Bidang Perlindungan Tenaga Kerja Sangap Sianturi mengaku belum mendapat laporan soal kepulangan TKI asal bantarwaru itu. Malah, menurut dia, Casih tidak terdaftar sebagai TKI yang berangkat ke Timur Tengah karena telah dilakukan moratorium untuk TKI sejak beberapa tahun lalu. Dia memastikan Casih berangkat sebagai TKI ilegal.

Meski demikian, pihaknya akan berupaya membantu menelusuri PJTKI maja yang memberangkatkannya dan dia bekerja di mana, guna memudahkan pengurusan hak-hak yang belum diterima Casih.

Suara BMI

{picture#https://4.bp.blogspot.com/-d815yzHBHls/WT4_fgfVgdI/AAAAAAAALNY/b6WBmhQn55kw2Ax8-1iwXe1qF30zmlIsgCLcB/s1600/Untitled-1.png} Suara BMI adalah portal berita Buruh Migran Indonesia di Luar Negeri yang menyajikan berita seputar BMI dan kehidupannya dari berbagai sudut pandang, kredibel dan independen {facebook#https://www.facebook.com/suarabmi/} {twitter#https://www.twitter.com/suarabmi/} {google#https://plus.google.com/+EniLestarisbmi} {pinterest#https://id.pinterest.com/} {youtube#https://www.youtube.com/channel/UCWS5cxHkSUsQcT2zWwn4OEA} {instagram#https://www.instagram.com/suarabmi}
Diberdayakan oleh Blogger.
close