DAPETIN UPDATE BERITA MELALUI LINE DENGAN FOLLOW TOMBOL DIBAWAH INI
Tambah Teman
loading...

SUARABMI.COMFenomena pemenuhan kebutuhan air minum pada masyarakat dari merebus sendiri bergeser menjadi membeli air minum dalam kemasan sejak 15 tahun terakhir ini semakin terlihat. 

Perpindahan cara pemenuhan tersebut bukan terjadi begitu saja lantaran propaganda, meskipun sebagian memang ada yang melakukannya karena terpengaruh propaganda. 

Mahalnya harga BBM dan gas, langkanya ketersediaan bahan bakar dapur selain BBM dan gas seperti kayu bakar, arang, briket dan lainnya membuat masyarakat berpikir bagaimana caranya agar efisien dalam belanja bahan bakar.

Disisi lain, di kawasan tertentu banyak yang mengeluh kualitas air tanahnya kurang bagus untuk dikonsumsi. Misalnya kadar kapur yang terlalu tinggi, asam, atau kualitas air PDAM yang tidak stabil. 

Salah satu cara mewujudkan efisiensi tersebut adalah dengan mengkonsumsi air minum isi ulang yang bisa dibeli dengan mudah dan murah dari depo depo penyedia. Kondisi demikian membuka lebar-lebar peluang membuka usaha depo air minum isi ulang.

Pemikiran seperti itulah yang menjadi salah satu motivasi Tri Wahyuni menjalankan usaha depo isi ulang air minum di rumah tinggalnya Desa Kupuk Kecamatan Bungkal Kabupaten Ponorogo. 
[ads-post]
Hal yang unik dari Tri Wahyuni, adalah pada proses yang melatarbelakanginya. Tri mengaku sebelum menjalankan usaha depo isi ulang air minum, dia pernah mengalami kegagalan usaha sampai dengan 5 kali.

Kemudian, saat cadangan finansial semakin menipis, Tri mencoba membuka usaha toko sayur-sayuran di rumahnya. Dengan modal 200 ribu rupiah. Tri bertekad, harus bisa bertahan dan membangun ulang pondasi perekonomiannya tanpa harus kembali ke luar negeri.

Pada perjalanannya, modal 200 ribu rupiah tersebut berkembang pesat, sampai hasil dari berdagang sayuran di rumahnya mampu untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. 

Melihat perkembangan usahanya yang ramai, salah seorang sepupu Tri Wahyuni yang sampai saat ini masih berstatus BMI Korea menawarkan investasi depo isi ulang air minum. Awalnya Tri gamang, tidak langsung mengiyakan. Bayang-bayang kegagalan yang pernah dia alami menjadi pertimbangan sebelum mengambil keputusan.

Setelah tawaran tersebut dia terima, modal awal 30 juta rupiah mereka keluarkan untuk mewujudkannya. Modal tersebut merupakan biaya untuk pengadaan paket peralatan instalasi, aksesoris pemdukung (tisu, tutup galon, berikut galonnya) serta biaya set up. 

Setelah usaha benar-benar dijalankan, ternyata tidak sulit bagi ibu satu anak ini untuk menjaring konsumen. Selain menempuh cara melakukan promosi dengan memajang banner serta spanduk, kerumunan pelanggan lapak sayurannya juga sangat berpengaruh pada usaha  depo isi ulang air minum ini.

Pada bulan pertama usahanya berjalan, setiap hari depo air minumnya hanya didatangi rata-rata 10 pembeli. Namun saat ini, usaha tersebut rata-rata didatangi 20 orang pembeli. Apalagi jika musimnya bertepatan dengan musim kering, masyarakat yang datang tentu akan lebih banyak lagi.

Salah satu tawaran yang menarik banyak pelanggan dari usaha yang dijalankan Tri Wahyuni adalah layanan pesan antar atau delivery service. 

Pelanggan cukup menghubungi lewat telfon atau sms, kemudian air minum isi ulang akan diantar ke alamat pelanggan. Pelanggan delivery service menurut Tri jumlahnya 3 dua kali lipat dari pelanggan yang datang sendiri. Jika pelanggan datang sendiri mereka cukup membayar 4 ribu rupiah untuk mengisi setiap galonnya, pelanggan delivery harus membayar 5 ribu rupiah setiap galon.

Biaya operasional yang dikeluarkan Tri Wahyuni dalam menjalankan usaha ini meliputi BBM, listrik, tisu dan tutup galon, biaya cek labolatorium berkala, filter air, serta pengadaan airnya. Keseluruhan biaya operasional yang dia keluarkan setiap bulan sebesar Rp. 757.000. 

Sedangkan pemasukan kotor rata-rata yang dia kantongi setiap bulan sebesar 2,4 juta rupiah. Dengan demikian, usaha depo air minum milik Tri wahyuni setiap bulan bisa mengantongi keuntungan bersih sebesar Rp. 1.643.000. Dengan keuntungan bersih sebesar ini, modal awal sebesar 30 juta rupiah akan mengalami BEP pada bulan ke 19.

Saat ini, disamping menjalankan usahanya di rumah, Tri wahyuni juga giat berbagi pengalaman untuk memotivasi para Pekerja Migran maupun mantan pekerja  migran ke arah kemandirian finansial melalui wadah Keluarga Migrant Indonesia (KAMI) Ponorogo. apakabar ?

Fenomena pemenuhan kebutuhan air minum pada masyarakat dari merebus sendiri bergeser menjadi membeli air minum dalam kemasan sejak 15 tahun terakhir ini semakin terlihat.

Post a Comment

Suara BMI

{picture#https://4.bp.blogspot.com/-d815yzHBHls/WT4_fgfVgdI/AAAAAAAALNY/b6WBmhQn55kw2Ax8-1iwXe1qF30zmlIsgCLcB/s1600/Untitled-1.png} Suara BMI adalah portal berita Buruh Migran Indonesia di Luar Negeri yang menyajikan berita seputar BMI dan kehidupannya dari berbagai sudut pandang, kredibel dan independen {facebook#https://www.facebook.com/suarabmi/} {twitter#https://www.twitter.com/suarabmi/} {google#https://plus.google.com/+EniLestarisbmi} {pinterest#https://id.pinterest.com/} {youtube#https://www.youtube.com/channel/UCWS5cxHkSUsQcT2zWwn4OEA} {instagram#https://www.instagram.com/suarabmi}
Powered by Blogger.