loading...
DAPETIN UPDATE BERITA MELALUI LINE DENGAN FOLLOW TOMBOL DIBAWAH INI
Tambah Teman
loading...

SUARABMI.COMMasih ingat Dwi Murah Hati, BMI Hong Kong korban koreksi data paspor? Setelah menjalani masa hukuman penjara selama 101 hari di Lo Wu Correctional Institution (penjara Lo Wu), ibu 2 anak ini sekarang telah kembali ke Tanah Air.

“Aku pulang tanggal 12 September 2016, setelah ‘dikarantina’ di penjara Lo Wu selama 101 hari,” kata Dwi, Senin (13/2).

Bermodalkan uang HK$30,000 pemberian majikan yang telah mempekerjakannya selama tiga kali kontrak kerja di daerah Mid Level, Dwi sekarang memulai “hidup baru” di Blitar, Jawa Timur, kampung halaman suaminya. “Uang dari majikan aku gunakan buat memperbaiki rumah di Blitar. Sisanya buat usaha, bikin toko sembako dan buka rombong cilot,” ujarnya.

“Usaha itu baru aku jalani 2 bulan, untuk menyambung hidup,” kata perempuan kelahiran 16 Agustus 1964 itu.

Tidak mudah bagi Dwi menjalani hari-hari pertama di Tanah Air setelah 16 tahun mengadu nasib dengan merantau di negeri orang; 3 tahun di Malaysia dan 13 tahun di Hong Kong. Sebab, belasan tahun dia terbiasa bekerja dan mendapatkan gaji bulanan, dengan makan dan biaya hidup ditanggung majikan.
[ads-post]
Ketika terpaksa pulang ke Tanah Air, Dwi sempat bingung harus berbuat apa untuk melanjutkan hidup. Ia bahkan mengaku sempat berputus asa saat menjalani pekan pertama di penjara Lo Wu.

“Dunia serasa gelap. Awalnya aku berpikir, habislah sudah. Tapi ternyata, di sana (penjara) juga banyak pelajaran. Ternyata, dipenjara itu bukan akhir segalanya,” kata perempuan berusia 53 tahun itu.

Faktanya, kasus koreksi data paspor yang memaksanya untuk pulang juga “berhasil” memaksanya berani berwirausaha. “Akhirnya, aku memutuskan untuk memesan rombong cilot. Sambil nunggu rombong jadi, aku buka toko kelontongan. Setelah dua bulan berjalan oke-oke saja, malah semakin semangat karena setiap hari bertambah terus pembeli. Hati jadi senang menjalaninya,” kata Dwi.

“Itulah hikmah dari semua yang terjadi. Aku bisa karena terpaksa,” ujarnya.

Ia bersyukur, cukup sukses selama menjadi pekerja migran. Tolak ukurnya, Dwi mampu menyekolahkan kedua anaknya hingga menjadi sarjana, meskipun menjadi single parent sejak tahun 1995. “Aku juga berharap kelak bisa sukses berwirausaha. Aku yakin, setiap ada kemauan pasti ada jalan, insyaallah,” ujar Dwi.

Sebagai mantan pekerja migran yang telah melewati banyak kisah hidup di negeri rantau, Dwi berpesan kepada BMI Hong Kong untuk menggunakan waktu sebaik-sebaiknya selama bekerja di Negeri Beton. Ia menyarankan, BMI membekali diri dengan tabungan, pengetahuan, dan ketrampilan selama di Hong Kong.

Perempuan asal Surabaya, Jawa Timur, ini menilai, semua itu sangat dibutuhkan sebagai bekal diri untuk pulang dan menjalani kehidupan di Tanah Air kelak. “Aku pesan kepada kawan-kawan BMI, selama di sana (Hong Kong) jangan berfoya-foya. Aku lihat, masih banyak kawan-kawan yang berhura-hura tiap minggu dan pamer-pamer. Mestinya, lebih banyak waktu yang digunakan untuk belajar sebagai bekal hidup di Indonesia, supaya tidak kembali sebagai pekerja rumah tangga) lagi ke sana (Hong Kong),” ujar Dwi. apakabaronline

Masih ingat Dwi Murah Hati, pekerja migran Indonesia (PMI) Hong Kong korban koreksi data paspor? Setelah menjalani masa hukuman penjara selama 101 hari di Lo Wu Correctional Institution (penjara Lo Wu), ibu 2 anak ini sekarang telah kembali ke Tanah Air.

Post a Comment

Suara BMI

{picture#https://4.bp.blogspot.com/-d815yzHBHls/WT4_fgfVgdI/AAAAAAAALNY/b6WBmhQn55kw2Ax8-1iwXe1qF30zmlIsgCLcB/s1600/Untitled-1.png} Suara BMI adalah portal berita Buruh Migran Indonesia di Luar Negeri yang menyajikan berita seputar BMI dan kehidupannya dari berbagai sudut pandang, kredibel dan independen {facebook#https://www.facebook.com/suarabmi/} {twitter#https://www.twitter.com/suarabmi/} {google#https://plus.google.com/+EniLestarisbmi} {pinterest#https://id.pinterest.com/} {youtube#https://www.youtube.com/channel/UCWS5cxHkSUsQcT2zWwn4OEA} {instagram#https://www.instagram.com/suarabmi}
Powered by Blogger.