SUARABMI.COMSaat ini sebagian besar susu di Indonesia masih harus diimpor (sekitar 70 %), sedangkan 30%nya di pasok dari produksi susu domestik yang sebagian besar dihasilkan oleh peternakan sapi perah rakyat.

Data statistik tersebut merupakan peluang yang sangat bagus bagi siapa saja yang ingin memulai menjalankan usaha sapi perah. Dan salah satu orang yang menikmati hasil dari usaha sapi perah adalah Nurul Hidayah, seorang ibu dua anak warga Rt 5 Rw 2 Dusun Surokoyo Desa Krisik Kecamatan Pudak Kabupaten Ponorogo Jawa Timur.

Mantan BMI Singapura ini mulai menjalankan usaha sapi perah sudah sejak dua tahun yang lalu. Saat sekarang ini sudah memasuki tahun ketiga dengan grafik pertumbuhan usaha yang cukup progresif.

Berawal dengan modal uang sebesar 34 jura rupiah, ia memulai merintis usaha sapi perah dengan dua ekor sapi saja. Dan pada perjalanannya, setahun usaha ini ditekuni, omset usahanya kini sudah berkembang menjadi tiga ekor sapi di kandang peternakannya. 

Keuntungan yang bisa didapatkan dari berternak sapi perah ini ternyata bukan saja berupa uang hasil penjualan susu sapi saja, melainkan juga mendapat keuntungan ekonomis berupa biogas sebagai bahan bakar yang dia gunakan untuk kepentingan masak memasak setiap harinya serta pupuk organik dari sisa kotoran sapi yang menjadi sampah dari bunker instalasi biogas miliknya.
[ads-post]
Saat pertama kali memulai usaha ini, persiapan yang dilakukan adalah dengan membangun kawasan kandang yang sekaligus terintregasi fungsinya sebagai gudang dengan besar bangunan 8m x 6m. 

Bangunan semi permanen trersebut lantainya dilapisi semen agar mudah dalam melakukan pembersihan. Untuk menyelesaikan bangunan kandang dan gudang ini mengeluarkan biaya sebesar 8 juta rupiah.

Setelah kandang selesai dibangun, untuk pengadaan dua ekor sapi siap diperah, Nurul mengeluarkan uang sebesar 25 juta rupiah. Sedangkan yang satu juta rupiah dari sisa modal awal digunakan untuk pengadaan berbagai peralatan pendukung yang antara lain seperti beberapa ember tempat memberi minum sapi dan penampung susu, beberapa meter selang air, satu unit water pump, sekop, sapu, sikat, dan lain-lain.

Menurut pengakuannya, apabila di hitung dalam rupiah, biaya pemeliharaan setiap ekor sapi setiap bulannya menghabiskan uang sebesar 400 ribu rupiah. Jumlah tersebut digunakan untuk pengadaan rumput, bekatul, mineral, serta konsentrat. Dengan demikian, untuk dua ekor sapi dibutuhkan biaya sebesar 800 ribu rupiah.

Setiap satu ekor sapi rata-rata bisa menghasilkan susu segar sebanyak 12,5 liter setiap harinya dengan dua kali memerah (pagi dan sore). Dengan harga jual sebesar Rp. 3.150 per liternya. Dengan demikian, setiap ekor sapi menghasilkan pemasukan kotor sebesar Rp. 39.375 setiap harinya atau Rp. 1.181.250 setiap bulannya.

Apabila jumlah sapinya ada dua ekor, maka setiap bulan bisa mengantongi pemasukan sebesar Rp. 2.362.500. Apabila dikurangi biaya operasional sebesar Rp. 800 ribu setiap bulan, maka keuntungan bersih yang menjadi hak dari jerih payah sebesar Rp. 1.562.500.

Keuntungan bersih sebesar itu belum termasuk keuntungan bebas biaya belanja bahan bakar untuk memasak lantaran sudah mendapat suplai gas kualitas baik dari instalasi bunker pengolahan biogas miliknya.

Kemudian, kotoran sapi yang sudah tidak terpakai dari dalam bunker pengolahan biogas, bisa dijadikan pupuk untuk kepentingan bercocok tanam hingga bisa menghemat budget ratusan ribu rupiah. 

Untuk saat sekarang ini, dengan keuntungan bersih dari tiga ekor sapi sebesar Rp. 2.343.750 setiap bulannya. Dengan modal awal sebesar 34 juta rupiah dan dengan keuntungan bersih sebesar Rp. 2.343.750, BEP akan bisa diraih pada bulan ke 15.

Pernah dimuat dikoran apakabar Hong kong
loading...
loading...

Saat ini sebagian besar susu di Indonesia masih harus diimpor (sekitar 70 %), sedangkan 30%nya di pasok dari produksi susu domestik yang sebagian besar dihasilkan oleh peternakan sapi perah rakyat.

Post a Comment

Powered by Blogger.
close