SUARABMI.COM - Sebagai TKI, kita sering jauh dan tidak bisa mengawasi keseharian anak di rumah sehingga kejahatan seksual semacam ini sering kali terjadi dan tidak kita sadari. Hal seperti ini bisa saja terjadi dan kapanpun itu jika kita lengah. Tulisan dan screenshort dari Dessy Muchlinta ini bisa kita jadikan pelajaran.
----------
Sebagai orangtua, kita akan mulai paham jika sudah tertimpa sesuatu. Sebelum terjadi, mari kita benahi dalam urusan pengawasan dan perlindungan anak-anak.

Betapa pentingnya peran orangtua. Karena ada banyak hal-hal aneh yang menjadi lazim di luar.

Anak-anak adalah cahaya keluarga. Tanggung jawab kita adalah melindungi mereka. Memantau apakah temannya berkepribadian baik untuk mereka bergaul atau tidak? Kemana dan dengan siapa?

Saya pernah dengar kisah nyata seseorang pasutri yang mengadopsi anak perempuan sekitar umur 7 tahun, karena mereka tidak dikaruniai keberuntungan untuk hamil seperti kita.

Anak perempuan yg mereka adopsi hanya tinggal dengan ayah tiri karena ibunya meninggal. Kemudian wali anak ini berpindah kepada tantenya karena ayah tirinya memutuskan untuk merantau cari kerjaan. Sampai akhirnya tantenya mengijinkan untuk diadopsi oleh kedua pasutri yg terkenal sangat baik dan berada.
[ads-post]
Semua berjalan normal pada awalnya sampai ketika malam datang, anak kecil itu meminta ayah barunya untuk menyentuh kewanitaannya. Ia bilang, ia tidak bisa tidur jika tidak disentuh2. Sebab ayah tirinya kerapkali melakukan itu setiap malam. Ujarnya polos.

Sontak saja, pasutri yg mengadopsi itu pun kaget...

Mendengar kisah ini ada rasa sedih sekaligus miris. Hal2 buruk terkadang bisa terjadi oleh orang terdekat kita. Perihal film mengenai ini kamu juga bisa lihat di "Kahaani 2" Tonton dan ambil hikmahnya.

Belum lagi resah ibu2 yang kaget melihat anaknya yg masih SD sudah pacaran. Ketauan karena baca group wa anaknya. Segala ada pajak jadian, sebagai suka cita traktir temen karena mereka jadian. Mari kita belajar jangan hanya memberikan anak2 fasilitas tapi tidak terkontrol.

Gunanya orangtua juga harus melek gadget. Tak hanya ngurusin fb sendiri. Sosial media anak dan perilaku anak harus tetap ter-awasi.

Belum lagi penculikan anak2 untuk diambil organ tubuhnya. Semoga anak2 kita terhindar dari hal2 yg demikian.

Isu pedofil yg berkeliaran di luar sudah banyak, bahkan sejak dulu -- Hanya saja tidak terekspose. Dan kita harus tetap waspada. Saya pernah dengar curhat teman waktu SD juga ketika kelas 6 mau beranjak ke SMP, guru pengajiannya sering kali minta dia duduk dipangkuannya. Tapi harus pas sepi, disuruh digoyang-goyang atau kaya naik kuda-kudaan. Kalau udah selesai katanya nanti dikasih duit atau kue.

Anak kecil jaman dulu mana ngerti begituan.

Setelah dewasa sekarang, flashback ingatan kemarin2 saya baru ngerti maksud temen saya waktu itu apaan.

Pict ini saya dapat dari salah satu teman fb. Karena awalnya akun2 ini aktif. Namun karena ada beberapa foto yg masih menampakkan wajah. Maka saya tidak bisa share langsung postingannya dan harus diedit dulu agar tidak memberikan dampak negative ke anaknya dikemudian hari. Pelakunya menurut info sudah ditangkap, tapi di luar sana masih banyak, banyak, banyaak sekali.






loading...
loading...

Sebagai TKI, kita sering jauh dan tidak bisa mengawasi keseharian anak di rumah sehingga kejahatan seksual semacam ini sering kali terjadi dan tidak kita sadari. Hal seperti ini bisa saja terjadi dan kapanpun itu jika kita lengah. Tulisan dan screenshort dari Dessy Muchlinta ini bisa kita jadikan pelajaran.

Post a Comment

Powered by Blogger.
close