PERHATIAN : JIKA BERITA ATAU ARTIKEL KAMU INGIN DIMUAT DISUARABMI.COM, KAMU DAPAT MENGIRIMKANNNYA MELALUI FORM UNTUK KIRIM BERITA DAN ARTIKEL KAMU DISINI
Banner iklan disini
loading...
loading...

SUARABMI.COM - Dua kakak beradik duduk bersandingan di lantai bersama ibu mereka. Sang kakak berhidung mancung, berambut ikal, bermata gelap dan tajam. Fitur wajah adiknya berbeda, tak punya hidung mancung dan bermata cokelat serta berambut lurus. Kulit mereka juga tampak berbeda.

Mereka adalah Baskan (16) berayah orang Pakistan dan Faisal (5) berayah orang Lombok. Ibu mereka Suniah, warga Desa Lenek Lauq, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat.

Di samping dua putra itu, perempuan berusia 37 tahun itu mempunyai lima anak lainnya. Ketujuh anak tersebut dilahirkan oleh Suniah dari hasil 'perkawinan' dengan empat laki-laki. Keempatnya menjadikan Suniah sebagai istri kedua.

"Saya menikah, semua dimadu. Setelah hamil, saya diceraikan. Begitu saja nasib saya," aku Suniah.
Baskan putus sekolah, dan menjadi tulang punggung keluarga. Dia bekerja di Bali, karena tak ingin ibunya pergi lagi ke luar negeri.
Baskan dan dua saudaranya berayah orang Pakistan ketika Suniah berada di Arab Saudi sebagai TKI. Menurut Suniah, mereka menikah secara Islam di Kerajaan Arab Saudi walaupun tidak memiliki surat pernikahan resmi.

"Bapaknya (suami) orang Pakistan. Istrinya ada di Pakistan dan saya dimadu. Delapan tahun saya bersama bapaknya, bapaknya tidak pernah pulang ke Pakistan, hanya mengirim uang ke Pakistan," tutur Suniah.
Pintu almari di rumah Suniah ditulisi nama-nama anak-anaknya dari ayah yang berbeda-beda.
Saudara tertua Baskan dari ayah orang Pakistan itu baru saja dilarikan oleh seorang laki-laki di Lombok Timur dalam praktik setempat yang disebut sebagai kawin lari.

Baskan sendiri baru pulang dari Bali. Di pulau tujuan pariwisata itu, ia bekerja sebagai buruh bangunan dan hasilnya untuk ibu serta adik-adik dari ayah berbeda-beda. Baskan tampak malu berbicara.
[ads-post]
"Saya kerja sebagai buruh bangunan, mengangkat batu bata, semen."

Rentan dirisak
Baskan dan saudara-saudaranya dibawa pulang dari Arab Saudi ketika masih balita, lantas diasuh oleh kerabat di Lombok Timur, sementara Suniah kembali menjadi TKI di negara itu. Jika pulang ia menghabiskan waktu selama satu atau dua bulan sekali waktu.

Kondisi tersebut, ditambah dengan penampilan fisik yang berbeda dengan anak-anak pada umumnya di desa, membuat anak-anak Suniah rentan terhadap sejumlah persoalan.
Bupati Lombok Timur Mochamad Ali bin Dachlan menegaskan anak TKI hasil hubungan di luar negeri diberi pengakuan yang sama.
Penelitian Yayasan Tunas Alam Indonesia (Santai) tahun 2015 di Desa Lenek Lauk dan Wanasaba menunjukkan terdapat 43 anak buruh migran atau Tenaga Kerja Indonesia (TKI) mengalami stigmasisasi dalam masyarakat.

"Yang kami temukan itu ada salah satu anak yang terpaksa harus putus sekolah karena dia tidak tahan di-bully oleh temannya," kata Suharti, direktur Yayasan Tunas Alam Indonesia (Santai), yang melakukan pendampingan anak-anak buruh migran di Kabupaten Lombok Timur.

Anak yang dirisak itu dan juga anak-anak lain yang dibawa oleh ibu mereka dari luar negeri diberi label-label tertentu.

"Istilah itu, masyarakat memanggil mereka sebagai 'anak oleh-oleh'. Kalau ibunya mengatakan dia kawin dengan orang Pakistan, anak itu dipanggil anak Pakistan. Anak Arab, anak unta. Dan stigma ini yang kita mulai coba hilangkan," tambah Suharti.

Disebutkan pada umumnya anak-anak itu lahir di luar pernikahan resmi atau ibunya mengalami pemerkosaan.

Ibu Baskan, Suniah, mengaku tidak mendengar langsung olok-olokan yang diarahkan kepada anak-anaknya tetapi ia jarang keluar dari rumah dan berkumpul dengan warga sekitarnya.

"Yang saya dengar 'kasihan bapaknya Baskan tidak pernah kirim uang lagi'. Cuma itu yang saya dengar. Terus dia pergi ke Bali mencari uang," jelasnya.

Kini ia dilarang pergi ke luar negeri oleh Baskan dengan alasan tak ada orang yang melindunginya serta adik-adiknya, selain tak ada satu kerabat pun yang bersedia mengasuh mereka jika Suniah menjadi TKI lagi.

Menurut Suniah, ayah Baskan sudah meninggal dunia di Pakistan dan tak ada lagi kiriman hampir rutin Rp2 hingga Rp3 juta setiap bulan untuk anak-anak.

Dalam percakapan dengan sejumlah kader desa, para ibu yang membawa anak dari luar negeri atau pulang dalam kondisi hamil kerap mengaku bapak dari anak tersebut meninggal dunia.
Mohamad Abdul Latif menegaskan ia akan membela cucunya, Basir, jika sampai diganggu.
Mohamad Abdul Latif (69) menuturkan beberapa tahun lalu, putrinya pulang dari Malaysia mengenakan jubah sambil menentang tas berwarna merah. Kemudian diketahui putrinya itu hamil tua dan lahirlah Erwin, yang disebutkan berayah orang Jawa, sesama TKI di Malaysia.

"Ada kabar ayahnya meninggal dunia dan keluarga ayahnya meminta saya mengantarkan cucu saya ke Jawa. Saya bilang kalau mau, datanglah ke Lombok," tegas Mohamad Abdul Latif.

"Kalau sampai ada orang yang mengolok-olok cucu saya, saya datangi dia dan saya bela cucu saya. Saya gendong cucu saya."

Dalam kasus Baskan atau Erwin, status mereka dari segi hukum seharusnya tidak menjadi masalah. Berdasarkan UU No 12 tahun 2016 tentang kewargangeraan, pemerintah Indonesia wajib memberikan perlindungan kepada anak.

Jika anak lahir di luar negeri dari hasil pernikahan resmi atau bukan, maka ibu mereka yang berkewarganegaraan Indonesia harus segera menyerahkan dokumen-dokumen ke perwakilan Indonesia di negara setempat.

"Ibunya harus mencatatkan kelahiran anak. Tentu saja dengan membawa dokumen, misalnya surat kelahiran dari rumah sakit. Kalau tidak lahir di rumah sakit tapi misalnya di kampung, harus ada surat dari kepala kampung. Harus ada dokumen untuk memperkuat jati diri anak dan orang tua. Yang jelas jangan sampai anak itu tidak terlindungi dari sisi status hukumnya," kata Konjen di KJRI Johor Malaysia, Haris Nugroho.

Ditambahkannya perwakilan pemerintah Indonesia di negara bagian Malaysia itu sudah sering mengeluarkan surat perjalanan laksana paspor untuk anak-anak yang kelahirannya tidak direncanakan atau bahkan tak diinginkan dari ibu WNI.

Sesampainya di Indonesia, anak-anak tersebut semestinya harus dibuatkan Akta Kelahiran, walaupun banyak dari keluarga mereka yang tidak mengurusnya, atau baru mengurusnya beberapa tahun kemudian ketika para kader desa melakukan pendataan.
Konjen Haris Nugroho memaparkan peraturan yang dijadikan patokan hukum pemberian status kewarganegaraan dari anak-anak TKI yang lahir di luar ikatan resmi.
Bupati Lombok Timur mengakui persoalan anak-anak yang kelahrannya tidak direncanakan di kalangan TKI memang ada. Dia menegaskan status anak-anak tersebut tidak menjadi masalah di tataran praktis.

"Saya mengedepankan segi kemanusiaan. Dia sudah datang dan dia manusia maka ia harus diberi penghargaan sebagai manusia dan dihargai," tegasnya.

Direktur Yayasan Tunas Alam Indonesia (Santai) Suharti berpendapat jaminan bupati Lombok Timur itu dapat membantu mengatasi stigmatisasi terhadap anak-anak TKI yang lahir dari ayah orang asing atau mereka kelahirannya tidak direncanakan.

Yang jelas, lanjutnya, mereka butuh perlindungan dan perlakuan setara dengan anak-anak yang lain.

Source: BBC
Editor redaksi

Dua kakak beradik duduk bersandingan di lantai bersama ibu mereka. Sang kakak berhidung mancung, berambut ikal, bermata gelap dan tajam. Fitur wajah adiknya berbeda, tak punya hidung mancung dan bermata cokelat serta berambut lurus. Kulit mereka juga tampak berbeda.

Post a Comment

Suara BMI

{picture#https://plus.google.com/u/0/photos/115157821366086931748/albums/profile/6295477770107479810} SuaraBMI.com is Choice news updates about all things Indonesian's Migrant as well as trending topics in the Indonesian's Migrant social media sphere. {facebook#https://www.facebook.com/suarabmi} {twitter#https://twitter.com/suarabmi} {google#https://plus.google.com/u/0/+suarabminews} {pinterest#https://www.pinteres.com} {youtube#https://www.youtube.com} {instagram#https://www.instagram.com}
Powered by Blogger.
close