DAPETIN UPDATE BERITA MELALUI LINE DENGAN FOLLOW TOMBOL DIBAWAH INI
Tambah Teman
loading...

Ibu Jadi TKW, Anak Ini Harus Mulung Sampah Demi Kehidupan dan Sekolahnya, Berikut Kisahnya
SUARABMI.COM - Di tengah hiruk pikuk dan pesatnya kemajuan Kota Mataram, seorang bocah mencoba bertahan melawan takdirnya. Ia bekerja sekuat tenaga demi sesuap nasi dan masa depannya.

Aroma  busuk menyeruak, menyerbu hidung. Ribuan kawanan lalat, mendengung seperti serangan tawon siap menyeruak ke gendang telinga. Bak sampah dorong warna hijau lumut, itu baru saja singgah beberapa menit di TPS Jalan Yos Sudarso, Pejeruk, Ampenan.

Sampai akhirnya seorang wanita paruh baya mulai mengeluarkan sampah di dalam bak sampah dorong itu dengan besi seadanya. Ya, pemandangan itu boleh jadi lumrah. Tetapi, hati siapa yang tak bergetar, jika melihat patner kerja wanita itu, seorang bocah 12 tahunan?

Saat ditanya apa ia tengah berpuasa, Novita hanya mengangguk pelan. Tangannya yang mungil terus mencabik-cabik sampah di dalam gerobak yang semakin keras menebarkan aroma busuk.

Ia lalu menunjukan kakinya, serupa terkena cacar. Ia sesekali menggaruk pelan. Setelah itu, kembali menenggelamkan kakinya, diantara sampah-sampah penuh bakteri.
[ads-post]
Bocah itu masih sekolah di SD 11 Ampenan. Kini ia tengah duduk di kelas 5. Tetapi, sejak kecil ia tidak pernah tahu seperti apa wajah orang tuanya. Novita hanya sempat mendengar cerita, jika ayahnya meninggal sejak ia masih bayi. Sementara ibunya, memilih pergi meninggalkannya ke Malaysia.

Oleh ibunya, ia lalu diserahkan pada neneknya. Dan hingga saat ini tiada lagi kabaar beritanya. Nyaris, diusia sekecil itu, Novita harus berjuang sendiri demi hidupnya saat ini, dan masa depannya nanti.

Nenek dan kakeknya yang sudah tua, juga bekerja sebagai pemulung. Jika dia tidak mau ikut bekerja, sudah pasti Novita sudah lama putus sekolah. Nenek dan kakeknya hanya mampu mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, membeli makanan dan minuman.

 Jika hasil memulung tengah baik, mereka bisa membeli lauk pauk seperti tahu tempe. Tetapi, jika sedang tidak ada pemasukan, kadang air dan garam cukup nikmat untuk mengisi perut. “Iya apa aja enak kalau lapar,” ujarnya lalu tertawa kecil

Sesaat Novita terdiam. Pertanyaan berikutnya yang dilontarkan, mampu membuatnya tertunduk dalam. Untuk beberapa saat, Novita memilih menekuk kepalanya. Lalu memandangi bajunya yang lusuh. Kepalanya perlahan menggeleng pelan.

Sebuah isyarat, ia tak punya persiapan apa pun jelang datangnya hari raya Idul Fitri. Jangankan untuk membeli baju baru, bisa makan sehari-hari saja sudah lebih dari cukup.

Editor Redaksi
Source lompok post/ apakabarplus

Post a Comment

Suara BMI

{picture#https://plus.google.com/u/0/photos/115157821366086931748/albums/profile/6295477770107479810} SuaraBMI.com is Choice news updates about all things Indonesian's Migrant as well as trending topics in the Indonesian's Migrant social media sphere. {facebook#https://www.facebook.com/suarabmi} {twitter#https://twitter.com/suarabmi} {google#https://plus.google.com/u/0/+suarabminews} {pinterest#https://www.pinteres.com} {youtube#https://www.youtube.com} {instagram#https://www.instagram.com}
Powered by Blogger.