loading...
DAPETIN UPDATE BERITA MELALUI LINE DENGAN FOLLOW TOMBOL DIBAWAH INI
Tambah Teman
loading...

SUARABMI.COM - Menjelang hari raya lebaran semakin banyak uang yang kita keluarkan. Tak heran jika masa puasa hingga lebaran menjadi musim panennya rupiah palsu di Tanah Air. 

“Musim menjelang lebaran biasanya marak (banyak-Red) terjadi peredaran uang palsu dan juga penipuan berkedok hadiah,” kata Komisaris Besar (Kombes) Polisi Whisnu Hermawan, saat memberikan penjelasan seputar uang palsu di Admiralty, Minggu, (18/5/2017).

Kombes Polisi Wishnu menerangkan sambil menayangkan video rekaman penggebrekan kasus uang palsu di Wonosobo. Juga ikut ditayangkan saat pelaku diminta memaparkan cara-cara yang bisa dilakukannya untuk membuat rupiah palsu tersebut.

“Ada dua macam uang palsu, yaitu yang tidak berbahaya seperti uang monopoli untuk mainan, karena pembuatannya kasar dan orang pasti mengerti bahwa itu bukan uang beneran. Tapi ada yang berbahaya yaitu uang palsu yang dibuat biasanya dengan cara disablon, bahkan juga ada yangmenjahitkan kertas pengaman ke dalam uang palsu itu,”
kata Kombes Polisi Wishnu.

Pada tayangan video tersebut, tampak terpidana mempraktekkan cara-cara membuat uang palsu di hadapan para polisi. Uang yang biasa jadi sasaran pemalsuan biasanya rupiah yang bernominal besar yaitu Rp 100 ribu dan Rp. 50 ribu.
[ads-post]
Bahan kertas yang biasanya dipakai adalah kertas minyak atau HVS tipis, yang lalu disablon berulang kali bahkan ditempeli water mark atau gambar jejak air benar-benar menyerupai uang asli. Namun ada pula uang palsu yang dibuat dari dua kertas minyak yang disablon lalu ditempel jadi satu.

“Orang yang ada di video ini belajar sendiri 5 tahun sampai ahli membuat uang palsu, jadi benar-benar tekun,” kata Kombes Polisi Wishnu.

Namun sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya jatuh juga. Polisi mulai mendapat laporan banyaknya uang palsu yang beredar dari warga, sampai akhirnya investigasi polisi membawa mereka menggrebek tempat pembuatan uang palsu itu.

Untuk itu, Kombes Polisi Whisnu meminta para BMI untuk tak segan-segan melapor jika merasa tertipu mendapatkan uang palsu. “Seringnya kalau sampai kita dapat uang palsu, lantas berpikir, ah, disimpan sajalah, atau malah nanti diam-diam belanjain ke warung. 

Jangan, tidak boleh itu, karena kalau begitu kita malah bisa dipidana penjara sebagai penyalur uang palsu. Menyimpan saja tidak boleh apalagi membelanjakannya. Satu-satunya cara adalah, dengan melaporkannya,” kata Kombes Polisi Whishnu, menambahkan.

Sementara Hasiholan Siahaan dari Divisi Pengelolaan Uang (DPU), Bank Indonesia mengimbau para BMI yang cuti pulang ke Indonesia untuk menghindari menukar uang sembarangan, untuk menghindari jadi korban menerima uang palsu. 

“Lebih baik kalau mau tukar uang, ke kantor-kantor valuta asing yang ada ijinnya dari Bank Indonesia. Intinya supaya jangan kerja keras teman-teman BMI di sini habis jadi korban penipuan,” kata Hasiholan.

** Berita telah dimuat di SUARA edisi June Main 2017, terbit 9 Juni 2017-all rights reserved by HK Publication.

Post a Comment

Suara BMI

{picture#https://4.bp.blogspot.com/-d815yzHBHls/WT4_fgfVgdI/AAAAAAAALNY/b6WBmhQn55kw2Ax8-1iwXe1qF30zmlIsgCLcB/s1600/Untitled-1.png} Suara BMI adalah portal berita Buruh Migran Indonesia di Luar Negeri yang menyajikan berita seputar BMI dan kehidupannya dari berbagai sudut pandang, kredibel dan independen {facebook#https://www.facebook.com/suarabmi/} {twitter#https://www.twitter.com/suarabmi/} {google#https://plus.google.com/+EniLestarisbmi} {pinterest#https://id.pinterest.com/} {youtube#https://www.youtube.com/channel/UCWS5cxHkSUsQcT2zWwn4OEA} {instagram#https://www.instagram.com/suarabmi}
Powered by Blogger.