loading...
DAPETIN UPDATE BERITA MELALUI LINE DENGAN FOLLOW TOMBOL DIBAWAH INI
Tambah Teman
loading...

SUARABMI.COM Gara-gara membawa bedil (senapan) listrik untuk oleh-oleh pulang kampung ke Tanah Air, N. Sarwo Edi Wibowo, 22 tahun, seorang BMI Taiwan, batal berkumpul dengan keluarga dan malah ditahan sekitar 28 hari di penjara Hong Kong. 

Pihak sekuriti Bandara Chek Lap Kok tetap menahan Edi dan melaporkannya ke polisi Hong Kong, sekalipun BMI Taiwan itu sebenarnya hanya transit saja.

“Begitu petugas sekuriti melihat bedil listrik itu lewat kamera x-ray, mereka menghentikan terdakwa, dan memintanya menunjukkan izin atas bedil itu. Setelah terdakwa tidak dapat menunjukkan izin apapun, petugas sekuriti bandara segera melapor ke polisi,” kata staf Pengadilan West Kowloon saat membacakan fakta kasus di persidangan, Kamis, (29/6/2017), seperti yang diliput langsung oleh SUARA.

Polisi yang datang kemudian membawa dan menahan Novenda sampai sidangnya digelar di West Kowloon. Alhasil, WNI inipun harus gigit jari menunggu di penjara sekitar 28 hari dan harus rela tiket pulangnya ke Tanah Air hangus.
[ads-post]
Di depan pengadilan West Kowloon, Edi mengaku bersalah melanggar Undang-Undang Senjata dan Amunisi Hong Kong, pasal 238, yang mengharuskan semua orang yang memiliki senjata api atau amunisi harus memiliki surat ijin khusus. 

Senjata api yang dimaksud di sini tidak hanya pistol yang menggunakan peluru bermesiu seperti senjata milik polisi, tapi juga senapan angin, pistol angin dan sejenisnya, yang dapat menembakkan peluru (bermesiu ataupun tidak) dengan kekuatan lebih dari 2 jul atau sekitar 12,4 volt.

Begitu pula orang yang menjual senjata-senjata semacam ini di Hong Kong, harus memiliki izin khusus. Tanpa izin tersebut, mereka juga dapat dikenai denda maksimal HK$ 100.000 atau penjara hingga 14 tahun.

Bedil listrik yang dibawa Novenda dari Taiwan tersebut pun sebenarnya bukan senjata bermesiu seperti senjata polisi, namun hanya berkekuatan listrik, terbuat dari logam, dan sepanjang 170 cm.

Undang-Undang Senjata dan Amunisi Hong Kong, pasal 238, menyatakan setiap orang yang memiliki senjata api atau bedil tanpa izin dapat dikenai denda maksimal HK$ 100.000 atau penjara hingga 14 tahun. 

Namun Hakim So Wai-tak mempertimbangkan fakta bahwa Novenda yang sebenarnya hanya transit di Hong Kong ini tak mengetahui tentang hukum tersebut dan tak memiliki catatan kriminal apapun di Hong Kong.

Hakim So akhirnya hanya menjatuhkan denda HK$ 1000 untuk Edi dan bedil listrik tersebut disita. Pria yang hadir di ruang pengadilan dengan berkaos hitam bertuliskan “Pride of Yogyakarta” inipun mengangguk pasrah sebelum akhirnya petugas menggiringnya untuk membayar denda tersebut. Novenda diharuskan segera meninggalkan Hong Kong segera setelah membayar denda tersebut.

*sumber suaraHK

Post a Comment

Suara BMI

{picture#https://4.bp.blogspot.com/-d815yzHBHls/WT4_fgfVgdI/AAAAAAAALNY/b6WBmhQn55kw2Ax8-1iwXe1qF30zmlIsgCLcB/s1600/Untitled-1.png} Suara BMI adalah portal berita Buruh Migran Indonesia di Luar Negeri yang menyajikan berita seputar BMI dan kehidupannya dari berbagai sudut pandang, kredibel dan independen {facebook#https://www.facebook.com/suarabmi/} {twitter#https://www.twitter.com/suarabmi/} {google#https://plus.google.com/+EniLestarisbmi} {pinterest#https://id.pinterest.com/} {youtube#https://www.youtube.com/channel/UCWS5cxHkSUsQcT2zWwn4OEA} {instagram#https://www.instagram.com/suarabmi}
Powered by Blogger.