loading...
DAPETIN UPDATE BERITA MELALUI LINE DENGAN FOLLOW TOMBOL DIBAWAH INI
Tambah Teman
loading...


SUARABMI.COM - Kasus kekerasan baik dari majikan maupun dari BMI kepada majikan, akhir-akhir ini meningkat tajam.

Sebuah penelitian yang dilakukan di Hong Kong dan Singapura tentang meningkatnyaa perilaku menyerang domestic helper terhadap majikan atau keluarga majikannya telah dilakukan oleh Melissa Chen, seorang pemerhati sekaligus peneliti pekerja rumah tangga yang tinggal di Singapura.

Dalam penelitiannya, Chen mampu menyimpulkan kekerasan terhadap majikan dari pembantunya ada 4 penyebab utama, yaitu:

Pertama, Buruknya kondisi psikologis baik majikan maupun domestic helper. Sebuah studi tahun 2015 yang dilakukan oleh Humanitarian Organization for Migration Economics (HOME) mengungkapkan bahwa 44% dari 670 pekerja rumah tangga asing yang disurvei menghadapi kesehatan mental yang buruk. Jumlah ini meningkat menjadi 65% pada tahun 2017.

Kedua, Istirahat kerja tidak ideal, jatah hari libur tidak maksimal. Bahkan, pada beberapa kasus, jatah hari libur sama sekali tidak diberikan. Semua manusia pasti memerlukan waktu istirahat yang ideal. Kerja paksa dan istirahat yang tidak memadai dapat menyebabkan masalah kesehatan fisik dan mental yang signifikan. Jika sudah seperti ini, sensitifitas seseorang akan meningkat. Hal sepele bisa menjadi hal serius. Orang sulit untuk bernalar jernih dalam menghadapi masalah sehari-hari.
[ads-post]
Ketiga, Merubah ekspektasi majikan dan domestic helper. Tuntutan pekerja rumah tangga asing jauh berbeda dari yang beberapa dekade yang lalu. Sebagian besar menginginkan libur setiap minggu (yang wajib, menurut Kementerian Tenaga Kerja), dan menuntut gaji yang lebih tinggi. Mereka tahu hak mereka – negara-negara seperti Indonesia, Filipina dan Myanmar telah menaikkan gaji minimum, dan bahkan mempertimbangkan untuk mengakhiri praktik pengiriman pekerja wanita ke luar negeri untuk bekerja sebagai pekerja rumah tangga. Mereka semakin terdidik – dengan banyak bahkan memiliki ijazah dan gelar akademik dari negara asal mereka. Banyak majikan yang tidak menyadari, bahkan tidak mengetahui akan perkembangan ini. Pola pikir majikan yang ketinggalan jaman. Banyak pembantu rumah tangga berharap untuk diperlakukan sebagai bagian dari keluarga, kenyataannya adalah bahwa majikan yang masih memperlakukan mereka sebagai orang luar yang bekerja di rumah mereka. Anak-anak mendengar orang dewasa dengan ceroboh menggosipkan masalah domestic helper yang mereka perkerjakan dengan sudut pandang yang superior. Praktik semacam itu menyebabkan pola pikir bos-bawahan diturunkan ke generasi muda. Arogansi akan terwarisi.

Keempat, Kekerasan fisik, pelecehan harga diri hingga pelecehan dan kekerasan seksual. Kerasnya kehidupan motropolis, seringkali membawa manusia pada pribadi yang kehilangan keindahan tata pergaulan. Bahasa, tata krama seringkali disingkirkan lantaran mengejar waktu. Cacian, makian, hingga bentuk pelecehan fisik seperti menampar, meludahi, sering mengisi lorong kekosongan ini. Bahkan, tak jarang, kekerasan seksual terjadi lantaran para majikan atau keluarga majikan mengalami kesepian ditengah hirup pikuk metropolitan.

Kasus kekerasan baik dari majikan maupun dari BMI kepada majikan, akhir-akhir ini meningkat tajam.

Post a Comment

Suara BMI

{picture#https://4.bp.blogspot.com/-d815yzHBHls/WT4_fgfVgdI/AAAAAAAALNY/b6WBmhQn55kw2Ax8-1iwXe1qF30zmlIsgCLcB/s1600/Untitled-1.png} Suara BMI adalah portal berita Buruh Migran Indonesia di Luar Negeri yang menyajikan berita seputar BMI dan kehidupannya dari berbagai sudut pandang, kredibel dan independen {facebook#https://www.facebook.com/suarabmi/} {twitter#https://www.twitter.com/suarabmi/} {google#https://plus.google.com/+EniLestarisbmi} {pinterest#https://id.pinterest.com/} {youtube#https://www.youtube.com/channel/UCWS5cxHkSUsQcT2zWwn4OEA} {instagram#https://www.instagram.com/suarabmi}
Powered by Blogger.