DAPETIN UPDATE BERITA MELALUI LINE DENGAN FOLLOW TOMBOL DIBAWAH INI
Tambah Teman
loading...

SUARABMI.COM - Tragis nasib Jumiah (35), mantan TKW asal Losari Kidul Cirebon ini. Seluruh hasil kerjanya dari luar negeri dia kirim ke suaminya yang pengangguran, giliran Jumiah pulang, menderita kelumpuhan, malah ditinggal tanpa pesan.  Jumiah merupakan warga RT 17 RW 06 Desa Losari Kidul, Kecamatan Losari, Kabupaten Cireron Provinsi Jawa Barat. Tiga tahun silam, Jumiah (35) kaget sekaligus heran. Saat bangun tidur, anggota tubuhnya susah untuk digerakkan. Dua kaki dan lengannya seketika mati rasa dan lumpuh. Sebelumnya dia tak mengeluhkan sakit apa pun. Sejak saat itu dia mulai sulit beraktivitas. Hidup pas-pasan membuat Jumiah belum berobat ke mana-mana.  Tempat tinggal Jumiah sendiri berada di gang sempit, Di rumah dengan dua kamar, satu ruang tamu, dapur dan kamar mandi itu dia tinggal bersama kakak laki-lakinya, Karim (40). Nasib Karim juga kurang beruntung, hanya bekerja sebagai kemit di Desa Losari Kidul yang hanya dibayar Rp 20 ribu per hari.  Jumiah sendiri punya tiga orang saudara. Kakak pertamanya menikah dengan orang Jawa Tengah. Sementara kedua orang tuanya sudah meninggal 17 tahun lalu. Jumiah muda yang kala itu berumur 18 tahun, pernah bekerja menjadi  TKW di Arab Saudi selama tiga tahun. Setelah itu dia pulang kampung karena kontrak habis. [ads-post] Namun, dia kembali menjadi  TKW ke Abu Dhabi dan Singapura. Di dua negara itu, dia hanya bekerja beberapa bulan.  "Habis itu saya di rumah saja," tutur Jumiah seperti dilansir dari Radar Cirebon, Selasa (4/7).  Kondisi Jumiah masih bisa berbicara dan beraktivitas. Dengan tubuhnya yang lumpuh itu, dia masih bisa menggerakan meskipun responsnya amat lambat. Untuk mandi, dia butuh waktu dua jam.  "Biasanya jam 6 sampai jam 8 dia mandi sendiri ke kamar mandi, sambil ngesot," kata Karim.  Untuk makan sehari-hari, Jumiah memang “diasuh” atau disuapi oleh kakaknya, Karim. Sejak menderita lumpuh, Jumiah belum pernah berobat.  “Gak ada uangnya,” ucap Jumiah singkat.  Uang hasil jerih payah selama menjadi PMI seluruhnya telah  diserahkan kepada suaminya. Sementara saat itu suaminya hanya pengangguran. Kondisi rumah tangganya pun tak menentu.  Sejak dia terkena lumpuh, Jumiah ditinggal suaminya. Sementara anak perempuannya yang kini berumur 7 tahun diurus mertuanya.  “Saya belum dicerai, ditinggal gitu saja,” tukas Jumiah.  Kalau mau makan, perempuan kelahiran tahun 1982 itu biasanya menghabiskan waktu dari duhur sampai waktu asar.  “Kalau makan lama pisan,” ucap Jumiah.  Untuk menggerakkan lengan dan kakisaja dia butuh waktu yang cukup lama. Sehingga dia merasa capek dan kelelahan sendiri. “Gak kuat berdiri, kalau jalan ya ngesot,” katanya.  Seluruh tubuhnya nyaris sudah mati rasa. Terkecuali bagian perut, dada, hingga kepala. Dengan kondisi itu, dia berharap bisa sembuh. Apalagi dia belum pernah berobat sama sekali. Umurnya yang masih cukup muda. Dia ingin bisa hidup normal kembali.  Sering  dia juga kangen bertemu dengan anaknya. Namun apa daya, dia tak bisa berjalan normal.  “Ya anak kadang-kadang suka ke sini. Sekarang dia tinggal di Desa Astanalanggar sama nenek mertua,” ucapnya, yang mengaku terakhir bertemu anaknya sekitar setahun silam.  Jumiah memang sudah pasrah. Meskipun sedikit pahit mengenang masa silam, saat dirinya ditinggalkan begitu saja oleh suaminya.  “Saya sedih, suami gak ada kata-kata. Uang hasil kerja habis entah kemana, saat sakit, saya langsung di pulangkan pulang ke rumah sini, pindah dari rumah mertua,” pungkasnya.  apakabarplus
SUARABMI.COM - Tragis nasib Jumiah (35), mantan TKW asal Losari Kidul Cirebon ini. Seluruh hasil kerjanya dari luar negeri dia kirim ke suaminya yang pengangguran, giliran Jumiah pulang, menderita kelumpuhan, malah ditinggal tanpa pesan.

Jumiah merupakan warga RT 17 RW 06 Desa Losari Kidul, Kecamatan Losari, Kabupaten Cireron Provinsi Jawa Barat. Tiga tahun silam, Jumiah (35) kaget sekaligus heran. Saat bangun tidur, anggota tubuhnya susah untuk digerakkan. Dua kaki dan lengannya seketika mati rasa dan lumpuh. Sebelumnya dia tak mengeluhkan sakit apa pun. Sejak saat itu dia mulai sulit beraktivitas. Hidup pas-pasan membuat Jumiah belum berobat ke mana-mana.

Tempat tinggal Jumiah sendiri berada di gang sempit, Di rumah dengan dua kamar, satu ruang tamu, dapur dan kamar mandi itu dia tinggal bersama kakak laki-lakinya, Karim (40). Nasib Karim juga kurang beruntung, hanya bekerja sebagai kemit di Desa Losari Kidul yang hanya dibayar Rp 20 ribu per hari.

Jumiah sendiri punya tiga orang saudara. Kakak pertamanya menikah dengan orang Jawa Tengah. Sementara kedua orang tuanya sudah meninggal 17 tahun lalu. Jumiah muda yang kala itu berumur 18 tahun, pernah bekerja menjadi  TKW di Arab Saudi selama tiga tahun. Setelah itu dia pulang kampung karena kontrak habis.
[ads-post]
Namun, dia kembali menjadi  TKW ke Abu Dhabi dan Singapura. Di dua negara itu, dia hanya bekerja beberapa bulan.

"Habis itu saya di rumah saja," tutur Jumiah seperti dilansir dari Radar Cirebon, Selasa (4/7).

Kondisi Jumiah masih bisa berbicara dan beraktivitas. Dengan tubuhnya yang lumpuh itu, dia masih bisa menggerakan meskipun responsnya amat lambat. Untuk mandi, dia butuh waktu dua jam.

"Biasanya jam 6 sampai jam 8 dia mandi sendiri ke kamar mandi, sambil ngesot," kata Karim.

Untuk makan sehari-hari, Jumiah memang “diasuh” atau disuapi oleh kakaknya, Karim. Sejak menderita lumpuh, Jumiah belum pernah berobat.

“Gak ada uangnya,” ucap Jumiah singkat.

Uang hasil jerih payah selama menjadi PMI seluruhnya telah  diserahkan kepada suaminya. Sementara saat itu suaminya hanya pengangguran. Kondisi rumah tangganya pun tak menentu.

Sejak dia terkena lumpuh, Jumiah ditinggal suaminya. Sementara anak perempuannya yang kini berumur 7 tahun diurus mertuanya.

“Saya belum dicerai, ditinggal gitu saja,” tukas Jumiah.

Kalau mau makan, perempuan kelahiran tahun 1982 itu biasanya menghabiskan waktu dari duhur sampai waktu asar.

“Kalau makan lama pisan,” ucap Jumiah.

Untuk menggerakkan lengan dan kakisaja dia butuh waktu yang cukup lama. Sehingga dia merasa capek dan kelelahan sendiri. “Gak kuat berdiri, kalau jalan ya ngesot,” katanya.

Seluruh tubuhnya nyaris sudah mati rasa. Terkecuali bagian perut, dada, hingga kepala. Dengan kondisi itu, dia berharap bisa sembuh. Apalagi dia belum pernah berobat sama sekali. Umurnya yang masih cukup muda. Dia ingin bisa hidup normal kembali.

Sering  dia juga kangen bertemu dengan anaknya. Namun apa daya, dia tak bisa berjalan normal.

“Ya anak kadang-kadang suka ke sini. Sekarang dia tinggal di Desa Astanalanggar sama nenek mertua,” ucapnya, yang mengaku terakhir bertemu anaknya sekitar setahun silam.

Jumiah memang sudah pasrah. Meskipun sedikit pahit mengenang masa silam, saat dirinya ditinggalkan begitu saja oleh suaminya.

“Saya sedih, suami gak ada kata-kata. Uang hasil kerja habis entah kemana, saat sakit, saya langsung di pulangkan pulang ke rumah sini, pindah dari rumah mertua,” pungkasnya.

apakabarplus

Post a Comment

Suara BMI

{picture#https://4.bp.blogspot.com/-d815yzHBHls/WT4_fgfVgdI/AAAAAAAALNY/b6WBmhQn55kw2Ax8-1iwXe1qF30zmlIsgCLcB/s1600/Untitled-1.png} Suara BMI adalah portal berita Buruh Migran Indonesia di Luar Negeri yang menyajikan berita seputar BMI dan kehidupannya dari berbagai sudut pandang, kredibel dan independen {facebook#https://www.facebook.com/suarabmi/} {twitter#https://www.twitter.com/suarabmi/} {google#https://plus.google.com/+EniLestarisbmi} {pinterest#https://id.pinterest.com/} {youtube#https://www.youtube.com/channel/UCWS5cxHkSUsQcT2zWwn4OEA} {instagram#https://www.instagram.com/suarabmi}
Powered by Blogger.