DAPETIN UPDATE BERITA MELALUI LINE DENGAN FOLLOW TOMBOL DIBAWAH INI
Tambah Teman
loading...

Photo Ilustrasi
SUARABMI.COM - Seorang BMI asal Madiun Jawa Timur bernama Iis terpaksa menghabiskan lebaran tahun ini menunggu investigasi polisi gara-gara dituduh mencuri jam tangan rolex, cincin, liontin, gelang dan uang yen Jepang milik Majikannya di Hong Kong.

"Sebenarnya petugasnya (polisi) sempat bilang, ya sudah toh, kamu mulai cari-cari majikan (baru) lagi, paling-paling sebulan lagi kasus kamu ini selesai, tapi hari ini saya ke sana ( untuk wajib lapor), ternyata masih disuruh tunggu dan perpanjang visa lagi," kata Iis sebagaimana dilansir suara, saat ditemui di kantor Christian Action, Kamis, (28/6/2017).

Sudah hampir 7 bulan investigasi kasusnya berjalan, Iis terpaksa menunggu dan tak boleh bekerja di Hong Kong, namun BMI ini juga tak dapat keluar dari Hong Kong.

"Nggak, saya sehabis kasus ini mau pulang saja, nggak mau kerja lagi di Hong Kong, sakit (hati) rasanya dituduh begini," kata Iis, yang tak kuasa menahan tangis.

Iis mulai bekerja di majikannya yang kedua di Causeway Bay itu pada Februari 2016. Sebenarnya kontrak Iis hanya menuliskan bahwa BMI ini bertugas kerja di satu rumah, namun pada kenyataannya setiap hari Iis harus bersih-bersih dan masak di rumah anak dari Dai Dai di Tseung Kwan O. 

Iis pasrah saja disuruh kerja seperti itu karena pada kontrak sebelumnya pun, BMI ini disuruh melakukan hal yang sama. “Sebenarnya saya pasrah saja disuruh kerja dua rumah seperti itu kalau majikannya baik, tapi saya malah dituduh nyuri, sakit (hati) rasanya,sakit rasanya,” kata Iis, berulang-ulang.
[ads-post]

Baru sebulan lebih bekerja, Dai Dai telah menuduh Iis mencuri cincinnya. Dai Dai saat itu melepas dan menaruh cincin itu di atas meja di kamar pada malam hari, lalu esok paginya pergi ke China. 

“Tapi saya pagi itu kerja ke rumah anaknya sampai pukul 4-an sore gitu, jadi saya nggak lihat lah, cincin itu. Besoknya kan minggu, jadi pas aku lagi libur tiba-tiba Dai Dai telepon tanya kemana cincin itu,” kata Iis bercerita.

Dai Dai sempat meminta Iis mengembalikan cincinnya. Jika tidak, Dai Dai akan segera poking. “Ya aku bilang, kalau mau poking silahkan, karena aku benar-benar nggak tahu,” kata Iis.

Dai Dai sempat melapor ke polisi, dan para petugas pun datang untuk mengecek. Namun saat itu Iis luput dari tuduhan pencurian karena kurang bukti. Apalagi, anak dari Dai Dai sendiri sempat meminta Iis untuk tidak khawatir jika memang benar tidak mencuri. “Anaknya waktu itu bilang, jangan takut loh, kalau kamu memang tidak ambil cincin itu, mungkin Mama lupa naruhnya,” kata Iis menirukan perkataan anak Majikan.

Perkataan anak majikan itulah yang membuat Iis tenang dan memutuskan tidak break kontrak sekalipun telah dituduh mencuri tanpa alasan atau bukti apapun. Apalagi, Dai Dai setelah itu tak lagi menyinggung masalah itu.

Namun niat baik Iis bertahan kerja ternyata balik menempelaknya. Pada 24 Desember 2016, Dai Dai kembali melaporkan Iis ke polisi. 

Kali ini, Dai Dai menuduh Iis mencuri jam tangan rolex seharga HK$ 30.000, liontin, gelang, cincin dan sejumlah uang yen Jepang. “Dai Dai baru bilangnya kehilangan barang-barang itu dua hari setelahnya, jadi pas hari sabtu malam (26 Desember 2016), dia baru bilang kalau barang-barang dia itu hilang, dan polisi malam itu datang ke rumah,” kata Iis.

Pertama-tama Iis dibawa ke Kantor Polisi North Point sebelum akhirnya dipindah ke Wan Chai. Di ruang interogasi, polisi sempat bertanya di mana Iis menjual barang-barang milik Majikannya itu, dan menyuruhnya mengaku. 

“Katanya aku suruh milih, kalau mengaku, akan dibeliin tiket pulang, tapi kalau tidak, aku ditahan. Tapi aku memang benar-benar nggak ngelakuin, jadi aku nggak mau mengaku,” kata Iis.

Iis diinterogasi hingga pukul 4 pagi dengan didampingi penerjemah. Lalu BMI ini dibebaskan dengan kewajiban melapor, setelah membayar jaminan HK$ 200. Seorang teman sesama BMI menyuruhnya segera menghubungi Christian Action untuk minta bantuan saat mengetahui nasib apes Iis.

Sejak itu Iis didampingi Christian Action dan ditampung di shelter mereka. Iis pun didampingi menuntut Majikan membayar semua hak-hak ketenagakerjaannya ke Labour Tribunal. Ternyata tanpa tedeng aling-aling, Majikan memilih langsung membayar semua tuntutan Iis itu. 

“Tidak tahu kenapa. Aku cuma tahunya ada orang kantor Majikan telepon aku, bilang suruh ambil uangnya, semuanya dibayar,” kata Iis.

Namun kasus tuduhan pencurian tetap berlanjut. Saat berita ini diturunkan, Christian Action telah menelepon dan mengirim surat ke Kepolisian Wan Chai untuk meminta mempercepat investigasi kasus Iis. 

Pada Kamis, (28/6/2017) Iis diminta datang kembali untuk wajib lapor dan disuruh memperpanjang visa tinggalnya sebulan lagi. “Tapi katanya nggak akan sampai sebulan lagi kasusku ini bakal selesai, tapi nggak tahu loh,” kata Iis, sambil mengusap air matanya.

Post a Comment

Suara BMI

{picture#https://4.bp.blogspot.com/-d815yzHBHls/WT4_fgfVgdI/AAAAAAAALNY/b6WBmhQn55kw2Ax8-1iwXe1qF30zmlIsgCLcB/s1600/Untitled-1.png} Suara BMI adalah portal berita Buruh Migran Indonesia di Luar Negeri yang menyajikan berita seputar BMI dan kehidupannya dari berbagai sudut pandang, kredibel dan independen {facebook#https://www.facebook.com/suarabmi/} {twitter#https://www.twitter.com/suarabmi/} {google#https://plus.google.com/+EniLestarisbmi} {pinterest#https://id.pinterest.com/} {youtube#https://www.youtube.com/channel/UCWS5cxHkSUsQcT2zWwn4OEA} {instagram#https://www.instagram.com/suarabmi}
Powered by Blogger.