DAPETIN UPDATE BERITA MELALUI LINE DENGAN FOLLOW TOMBOL DIBAWAH INI
Tambah Teman
loading...

SUARABMI.COM - “Mbak Tum, Tolong, dengan segala kerendahan hati, telpon ke rumah sekarang. Mas Supirlan, Suamimu, sekarang dalam kondisi kritis. 

Sejak Hari Rabu kemarin, suamimu di rumah sakit. Habis rutin cuci darah, kondisinya ngedrop dan semakin lemah. 

Sekarang kondisinya kritis. Kesadarannya sudah timbul tenggelam” bujuk Sunarti kepada Tumi melalui Apakabaronline, hari ini (04/08).

Sunarti, adalah adik kandung Tumi (45), TKW Hong Kong asal RT 02 RW 03 Desa Banggle Kecamatan Ngadiluwih Kabupaten Kediri Jawa Timur.

Sunarti mewakili keluarga besar di kampung berharap, agar Tumi bisa segera menghubungi keluarga di rumah lantaran kondisi Supirlan (57), suami Tumi saat ini sedang kritis.
Tumi terakhirkali pulang ke kediri tahun 2013. Sejak saat itu, hingga sekarang, Tumi tidak pernah berkomunikasi lagi dengan keluarga. 

Bahkan saat ibu kandung Tumini meningggal dunia, Tumi yang saat itu juga mengetahui, tak juga menampakkan diri pulang kampung ikut berbelasungkawa.
[ads-post]
Kini, Suparlan Suami Tumi sedang bertarung dengan maut. Kondisi gagal ginjal yang diderita Suparlan sejak setahun terakhir, membuatnya tak berdaya. Bahkan, 8 bulan terakhir  hidup Suparlan bergantung dengan mesin pencuci darah yang dilakukan seminggu sekali.

Sudah jatuh, tertimpa tangga. Pria kelahiran 57 silam ini harus menderita lahir dan batin. Sehari-hari, biaya pengobatan dan seluruh keperluan Supirlan ditanggung oleh adik-adik Tumi dan keluarga lainnya.

“Entah ada masalah apa, saya tidak tahu, itu urusan rumah tangga mereka. Yang pasti, selama ini saya lihat baik-baik saja, tidak ada yang aneh dari kakak saya dan suaminya. Kok tiba-tiba, sudah beberapa tahun, kakak saya malah menterlantarkan suaminya. “ aku Sunarti.
“Tapi saat ini kondisinya darurat, mas Supirlan sedang dalam keadaan kritis. Semestinya, sebagai istri kan harus mendampingi, atau setidaknya berkomunikasi. Kalau nanti, terjadi sesuatu, apakah juga akan terus bertahan seperti ini ? “ imbuh Sunarti.

Beberapa waktu yang lalu, Dewi Handayani, anak semata wayang Supirlan juga terbang ke Hong Kong. Menyusul ibunya bekerja di Hong Kong. 

Namun, hingga saat berita ini diturunkan, keberadaan Dewi Handayani, juga belum diketahui, selain informasi bahwa Dewi masih berada di penampungan agency.

Dalam kondisi kritisnya, beberapa waktu yang lalu, Sunarti menuturkan, bahwa Supirlan ingin mendengar suara Dewi, anak semata wayangnya, dan suara Tumi, istri tercinta yang sekian lama telah menterlantarkan batinnya. Namun, keinginan Supirlan, hingga kini belum juga terpenuhi.

Sunarti dan keluarga besar Tumi serta keluarga besar Supirlan, berharap bantuannya untuk menyebarkan kabar ini agar sampai di telinga Tumi dan atau Dewi Handayani.

“Tolong, bantu sebarkan berita ini, supaya sampai ke kakak saya Tumi dan anaknya Dewi. Kalau bisa juga tolong banttu kami memberi pengertian ke mereka berdua agar peduli dan punya hati” pungkas Sunarti.

“Mbak Tum, Tolong, dengan segala kerendahan hati, telpon ke rumah sekarang. Mas Supirlan, Suamimu, sekarang dalam kondisi kritis.

Post a Comment

Suara BMI

{picture#https://4.bp.blogspot.com/-d815yzHBHls/WT4_fgfVgdI/AAAAAAAALNY/b6WBmhQn55kw2Ax8-1iwXe1qF30zmlIsgCLcB/s1600/Untitled-1.png} Suara BMI adalah portal berita Buruh Migran Indonesia di Luar Negeri yang menyajikan berita seputar BMI dan kehidupannya dari berbagai sudut pandang, kredibel dan independen {facebook#https://www.facebook.com/suarabmi/} {twitter#https://www.twitter.com/suarabmi/} {google#https://plus.google.com/+EniLestarisbmi} {pinterest#https://id.pinterest.com/} {youtube#https://www.youtube.com/channel/UCWS5cxHkSUsQcT2zWwn4OEA} {instagram#https://www.instagram.com/suarabmi}
Powered by Blogger.