DAPETIN UPDATE BERITA MELALUI LINE DENGAN FOLLOW TOMBOL DIBAWAH INI
Tambah Teman
loading...

SUARABMI.COM - Ada dua ribu lebih anak tenaga kerja Indonesia (TKI) di Tulungagung yang diduga lahir dari perselingkuhan (di luar nikah) atau nikah siri dan berstatus tanpa ayah. 

Anak "oleh-oleh" itu biasanya mempunyai hambatan dalam mengurus akta kelahiran sehingga berdampak administratif dan psikologis bagi kehidupannya. 

Kepala Unit Layanan Terpadu Perlindungan Sosial Anak Integratif (ULT PSAI) Kabupaten Tulungagung Sunarto menegaskan, meski tanpa ayah, para ibu bisa mengurus akta kelahiran anak-anak mereka. 

"Itu data sudah data lama. Sejak 2010-2014 data dari catatan sipil (capil) anak yang kelahirannya tidak diinginkan tersebut mencapai 2.000 anak," ungkapnya. 

Sunarto menerangkan ULT PSAI Tulungagung terbentuk tahun 2015 akhir. Jadi, untuk penanganan, pihaknya baru pada tahap penguatan pada ibu dan anak. 

"Di ULT PSAI itu hanya menangani respons aduan. Jika ada masalah terhadap akta yang muncul hanya nama ibunya lalu ada kendala psikologis, maka kita akan lakukan tindakan lanjutan," kata dia 
[ads-post]
Sunarto, kepala ULT PSAI Kabupaten Tulungagung / Foto : Tulungagung TIMES
PSAI Tulungagung mempunyai komitmen agar tiap anak meski tanpa ayah bisa mendapatkan akta. Untuk itu, pihaknya senantiasa mendampingi jika ada kendala terhadap masalah kependudukan itu, termasuk jika ada pengaduan anak terlantar bagi yang tidak mampu. 

Sementara itu, anggota Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Tulungagung melalui stafnya, Edi Subhan, mengaku ada beberapa informasi yang membuat kendala psikologis terhadap anak yang mempunyai akta tanpa ayah.

"Contohnya ada informasi bahwa jika dalam akta tidak muncul nama ayah, maka tidak bisa daftar PNS, Akabri. Ini pemerintah belum memberi solusi yang pas," tandas Edi 

LPA akan melakukan advokasi, termasuk masalah memperoleh akte. Menurut Edi, kasus anak yang kesulitan mendapatkan akta ini akan mendapatkan perhatiannya karena pengakuan ibu sering bisa menunjukkan siapa ayahnya namun karena hanya nikah siri, maka tidak mempunyai bukti hukum.

"Ada undang-undang yang mengatur jika anak tidak mempunyai ayah untuk dibuatkan akta, tapi praktiknya justru kadang ibu atau anak ingin dicantumkan nama ayahnya," kata Edi. 

Edi mengakui jika TKI mempunyai andil terbanyak terhadap masalah ini. TKI yang paling banyak sementara ini yang bekerja di Timur Tengah ( Arab Saudi). "Hampir rata sebenarnya, tapi yang terbanyak sementara ini Saudi, Pakistan dan negara lainnya," tambah Edi. 

Edi menyambut baik rencana pemerintah melalui Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) yang akan membuat program isbat nikah. Tujuannya agar nama ayah muncul dalam akta kependudukan keluarganya. ***jatimtimescom

Ada dua ribu lebih anak tenaga kerja Indonesia (TKI) di Tulungagung yang diduga lahir dari perselingkuhan (di luar nikah) atau nikah siri dan berstatus tanpa ayah.

Post a Comment

Suara BMI

{picture#https://4.bp.blogspot.com/-d815yzHBHls/WT4_fgfVgdI/AAAAAAAALNY/b6WBmhQn55kw2Ax8-1iwXe1qF30zmlIsgCLcB/s1600/Untitled-1.png} Suara BMI adalah portal berita Buruh Migran Indonesia di Luar Negeri yang menyajikan berita seputar BMI dan kehidupannya dari berbagai sudut pandang, kredibel dan independen {facebook#https://www.facebook.com/suarabmi/} {twitter#https://www.twitter.com/suarabmi/} {google#https://plus.google.com/+EniLestarisbmi} {pinterest#https://id.pinterest.com/} {youtube#https://www.youtube.com/channel/UCWS5cxHkSUsQcT2zWwn4OEA} {instagram#https://www.instagram.com/suarabmi}
Powered by Blogger.