DAPETIN UPDATE BERITA MELALUI LINE DENGAN FOLLOW TOMBOL DIBAWAH INI
Tambah Teman
loading...

SUARABMI.COM - Seorang hakim disebuah pengadilan Negeri di Hongkong menolak permintaan banding oleh majikan Erwiana yang mengalami penganiayaan semasa masih bekerja kepadanya.

Law Wan-tung dipenjara selama enam tahun pada bulan Februari 2015 karena menyalahgunakan mantan pelayan pribadinya, Erwiana Sulistyaningsih. Pada bulan Maret 2015, Erwiana mengajukan tuntutan perdata yang meminta kompensasi HK $ 700.000.

Pada hari Rabu kemarin, Law mengajukan banding atas keputusan tersebut, dengan mengatakan bahwa dia ingin memanggil psikiater yang lain.

Tapi Hakim Winnie Tsui menolak ini, karena UU tersebut tidak berlaku dalam 42 hari setelah persidangan terakhir. Permohonannya dibuat setelah beberapa bulan namun tidak memberikan penjelasan untuk penundaan tersebut.

Hakim mengatakan bahwa Law telah menarik keluar kasus ini dengan sengaja dan memerintahkannya untuk membayar HK $ 50.000 untuk biaya pengadilan.

Sebelumnya perlu diketahui bahwa Erwiana Sulistyaningsih (lahir 7 Januari 1990) adalah seorang wanita Indonesia asal Ngawi yang disiksa oleh majikannya saat bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Hongkong. Kasus ini menarik perhatian pemimpin kedua negara, Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono dan Kepala Eksekutif Hong Kong Leung Chun-ying.

Erwiana disiksa secara fisik dalam waktu 8 bulan oleh majikannya, Law Wan-tung. Ia mengaku bahwa ia dipaksa tidur di lantai, bekerja 21 jam per hari, dan tidak diizinkan libur. Jika ia tidak membersihkan rumah atau lambat menanggapi panggilan majikan, ia akan dipukuli.
[ads-post]
Ia mengaku bahwa ia kerap dipukuli dengan berbagai peralatan rumah tangga seperti gagang sapu, penggaris, dan gantungan baju.

Setelah disiksa selama 8 bulan, luka-lukanya terinfeksi dan Erwiana tidak dibawa berobat ke dokter . Ia dibiarkan dalam kondisi lemah dan tidak mampu berjalan. Majikannya mengatur keberangkatannya ke Indonesia dan memberinya uang sejumlah $70HKD serta mengancam akan membunuh orangtuanya jika ia berani menceritakan penyiksaannya pada orang lain.

Majikannya meninggalkannya di Bandar Udara Internasional Hong Kong dengan rute sambung menuju Jakarta dan Solo menggunakan pesawat Garuda Indonesia. Ditinggalkan sendirian di bandara dan tidak mampu berjalan, Erwiana bertemu dengan Rianti, rekannya sesama warga negara Indonesia, yang membantu mengantarkannya ke rumahnya di Ngawi. Rianti juga membawanya ke Rumah Sakit Amal Sehat di Sragen untuk merawat luka-lukanya.

Law Wan-tung ditangkap di Bandar Udara Internasional Hong Kong saat berupaya untuk terbang ke Thailand. Ia didakwa oleh pengadilan Kwun Tong telah melakukan tindakan kekerasan fisik dan empat dakwaan kriminal lainnya.

Hakim Menolak Pengajuan Banding Mantan Majikan Erwiana, Ia Menuntut Majikannya Dengan HK $ 700.000

Post a Comment

Suara BMI

{picture#https://4.bp.blogspot.com/-d815yzHBHls/WT4_fgfVgdI/AAAAAAAALNY/b6WBmhQn55kw2Ax8-1iwXe1qF30zmlIsgCLcB/s1600/Untitled-1.png} Suara BMI adalah portal berita Buruh Migran Indonesia di Luar Negeri yang menyajikan berita seputar BMI dan kehidupannya dari berbagai sudut pandang, kredibel dan independen {facebook#https://www.facebook.com/suarabmi/} {twitter#https://www.twitter.com/suarabmi/} {google#https://plus.google.com/+EniLestarisbmi} {pinterest#https://id.pinterest.com/} {youtube#https://www.youtube.com/channel/UCWS5cxHkSUsQcT2zWwn4OEA} {instagram#https://www.instagram.com/suarabmi}
Powered by Blogger.