DAPETIN UPDATE BERITA MELALUI LINE DENGAN FOLLOW TOMBOL DIBAWAH INI
Tambah Teman
loading...

suara
SUARABMI.COM - Sebutlah namanya SY, salah seorang BMI Hong Kong asal Indramayu yang statusnya paperan hampir saja meregang nyawa karena ulah kekasihnya Singh asal India yang pada Februari 2017 lalu dimana SY ditusuk pisau dapur bagian leher dan perutnya hingga darah membuncar keluar.

Akibat ulah Singh ini, ia mendekam di penjara dan SY menjadi saksi pengadilan untuk menjebloskan Singh ke penjara sebelum akhirnay di deportasi. Walaupun demikian, SY sebenarnya takut menjadi saksi karena ia takut dibunuh oleh Singh yang raja tega.

"Ke petugas CID (Crime Investigation Division-polisi Hong Kong) aku kan selalu nanya, aku ini sebenarnya takut dia keluar dari penjara, pasti mau nyari saya lagi. Tapi petugas (polisi) bilang: kamu jangan takut, dia nggak akan pernah bisa keluar, begitu hukuman penjara selesai juga dia pasti langsung dipulangkan ke negaranya," Ujar SY sebagaimana dilansir suara.

SY hingga saat ini masih berada di Hong Kong dengan jaminan pemerintah Hong Kong sampai kasusnya usai.

"Pokoknya sekarang aku bertahan di sini cuma supaya dia itu bayar apa yang sudah dia lakuin ke aku. Aku sekarang ini bisa dibilang cacatlah, kalau ngangkat barang berat sedikit langsung senut-senut kayak diiris pisau, mana bisa kerja lagi," Ujar Sy sambil menunjukkan lukanya di perut. (lihat gambar)

Awal perkenalannya dengan Singh, SY menuturnya kalau dirinya kasihan melihatnya yang sama sama paperan dan terkena razia di kawasan Pak Sa Chon. Ia ajaklah Singh kerumah kostnya dan tinggal bersama. Belum ada 1 minggu Singh sudah menunjukkan sifat buasnya hingga berani memukul dan melakukan kekerasan.

Bahkan selama 3 bulan memadu kasih, Sy sering dicekik, ditampar, dipukul dan lainnya hanya karena SY menyapa teman dikompleknya.

Pertikaian semakin sering terjadi terutama karena pengajuan paper Singh sebagai pengungsi diterima Pemerintah Hong Kong. Singh kemudian ditempatkan di shelter yang sama dengan SY di Tai Tong. Hanya saja, SY di kamar nomor 5 sementara Singh di kamar nomor 2.

“Tetangga kamar (di flat tempat pengungsi) itu kan banyak orang Nepal, orang India, terus kalau hari Minggu pacar-pacarnya yang Mbak Indonesia banyak yang datang, yah, apa salahnya saya nyapa, piye kabare Mbak, apa ngobrol gitu. Eh, dia pasti marah dan tangannya ngegampar aku,” kata SY.

Puncaknya pada 6 Februari 2017. SY saat itu hendak berbelanja ke City Mall di Yuen Long.  SY langsung naik pitam saat menyadari Singh ternyata diam-diam membuntutinya. “Dia itu cemburu! Aku nggak boleh ngomong, nggak boleh senyum ke orang lain, kayak orang gila begitu!,” kata SY.

Sepasang kekasih ini tak pelak terlibat perang mulut di halte syupa City Mall menuju Tai Tong. Amarah memuncak sampai akhirnya Singh menggampar SY sampai gadis itu terjatuh roboh ke tanah. Singh langsung pergi, sementara orang-orang mendekati dan membantu SY.
[ads-post]
Sesampainya di shelter pengungsi, SY mendatangi Singh. Kali ini dia minta putus. Alih-alih menerima, Singh balik berusaha memukulinya dengan sebatang pipa besi. “Untung ada orang Nepal tetangga aku belain, kalau tidak pasti aku sudah mati kali,” kata SY.

Pada 7 Februari 2017,  petugas shelter dan land lord datang untuk melakukan pengecekan rutin. Ketujuh penghuni kamar di shelter –termasuk Singh dan SY- harus ada di tempat, dan pengecekan pun mulai dilakukan seperti biasa.

Saat itulah, Singh tiba-tiba masuk lagi ke dalam kamarnya dan kembali keluar dengan sebuah pisau dapur di tangan. Tanpa sepatah kata apapun, Singh mendekati SY dan langsung menikam leher serta perut kanan atas kekasihnya tersebut.

SY sempat dirawat di ruang ICU Tuen Mun Hospital selama 2 hari, sebelum akhirnya dirawat inap selama 1,5 bulan.  Jahitan lukanya kini telah dibuka, namun mantan BMI asal Indramayu ini tetap harus datang cek satu bulan sekali ke rumah sakit.

SY mengaku, dulu keputusan untuk mengajukan paper sepertinya keputusan yang terbaik. Apalagi SY sempat masuk penjara Lo Wu 2 bulan akibat dituduh mencuri foto majikannya di Yuen Long.  Dengan paper di tangan, SY dapat tinggal di shelter pengungsi, dapat kupon belanja HK$ 1200 per bulan,sabun dan bahkan pembalut wanita secara gratis.

“Apalagi aku sudah nggak bisa pulang juga ke Indramayu, keluarga sudah tak peduli lagi, aku ini kerja jadi babu ke Malaysia, Singapura, Taiwan terus Hong Kong, ndak pernah dipeduliin bagaimana kondisi aku, apa yang aku inginkan sebagai anak, jadi saat itu aku mikirnya lebih baik proses (paper) daripada pulang,” kata SY. (suara)

Sebutlah namanya SY, salah seorang BMI Hong Kong asal Indramayu yang statusnya paperan hampir saja meregang nyawa karena ulah kekasihnya Singh asal India yang pada Februari 2017 lalu dimana SY ditusuk pisau dapur bagian leher dan perutnya hingga darah membuncar keluar.

Post a Comment

Suara BMI

{picture#https://4.bp.blogspot.com/-d815yzHBHls/WT4_fgfVgdI/AAAAAAAALNY/b6WBmhQn55kw2Ax8-1iwXe1qF30zmlIsgCLcB/s1600/Untitled-1.png} Suara BMI adalah portal berita Buruh Migran Indonesia di Luar Negeri yang menyajikan berita seputar BMI dan kehidupannya dari berbagai sudut pandang, kredibel dan independen {facebook#https://www.facebook.com/suarabmi/} {twitter#https://www.twitter.com/suarabmi/} {google#https://plus.google.com/+EniLestarisbmi} {pinterest#https://id.pinterest.com/} {youtube#https://www.youtube.com/channel/UCWS5cxHkSUsQcT2zWwn4OEA} {instagram#https://www.instagram.com/suarabmi}
Powered by Blogger.