loading...
DAPETIN UPDATE BERITA MELALUI LINE DENGAN FOLLOW TOMBOL DIBAWAH INI
Tambah Teman
loading...

SUARABMI.COMFera Nuraini (32) yang memanfaatkan pengalamannya selama 10 tahun menjadi TKW di Hongkong dengan berbekal ketela pohon yang melimpah di Kota Ponorogo, Jawa Timur ia manfaatkan untuk membuat usaha nasi tiwul.

Ia pun mengawali bisnisnya dengan cara jualan nasi tiwul instan. Awal mula ia menggeluti pembuatan nasi tiwul instan ketika ada teman yang memberitahu kalau tetangganya menjual nasi tiwul instan. 

Kemudian ia mencoba untuk menjual tiwul instan tetangganya melalui akun jejaring sosial media Facebook dan ternyata ada yang tertarik membeli. Menjual barang dagangan milik tetangganya ternyata belum membuat Fera berpuas diri.

“Lama-lama kalau saya ambil dari orang untungnya tidak seberapa dan uangnya habis untuk biaya trasnportasi,” ujar Fera.

Itulah awal mula Fera memutuskan untuk memproduksi nasi tiwul instan yang diberi nama “Fera Tiwul Instan” dan dipasarkan sendiri. 
[ads-post]
Faktor lainnya yang membuat ia menekuni tiwul instan karena waktu merantau sebagai TKW, ia sering merindukan makanan kampung. Nasi tiwul, salah satu penganan yang ia rindukan ingin disantap.

“Saya memilih memproduksi tiwul instan karena makanan ini bisa tahan lama sampai 6 bulan, tidak seperti jualan makanan matang kalau tidak habis akan basi,” kata Fera yang sudah menggeluti usaha ini selama delapan bulan terakhir.

Proses pembuatan tiwul ini dari ketela ketan yang dikeringkan kemudian digiling kasar lalu di masak. Ketela ia peroleh dari tetangga atau dari pasar. Dalam satu hari ia bisa memproduksi 4-5 kg nasi tiwul.

“Saya produksi melihat cuaca, kalau cerah dan panas mendukung saya produksi, kalau dari pagi sudah terlihat mendung saya stop dulu,” ucap Fera sambil memperlihatkan nasi tiwul yang sudah dikemas.

Fera pun juga mengaku saat ini masih melakukan penjualannya online karena dirasa cukup efektif serta dapat menjangkau pembeli seluruh Indonesia bahkan dunia. Ia tak memungkiri, mayoritas konsumen loyalnya justru dari Hongkong, negara di mana ia pernah mengadu nasib sebagai pahlawan devisa. Liputan6com

Fera Nuraini (32) yang memanfaatkan pengalamannya selama 10 tahun menjadi TKW di Hongkong dengan berbekal ketela pohon yang melimpah di Kota Ponorogo, Jawa Timur ia manfaatkan untuk membuat usaha nasi tiwul.

Post a Comment

Suara BMI

{picture#https://4.bp.blogspot.com/-d815yzHBHls/WT4_fgfVgdI/AAAAAAAALNY/b6WBmhQn55kw2Ax8-1iwXe1qF30zmlIsgCLcB/s1600/Untitled-1.png} Suara BMI adalah portal berita Buruh Migran Indonesia di Luar Negeri yang menyajikan berita seputar BMI dan kehidupannya dari berbagai sudut pandang, kredibel dan independen {facebook#https://www.facebook.com/suarabmi/} {twitter#https://www.twitter.com/suarabmi/} {google#https://plus.google.com/+EniLestarisbmi} {pinterest#https://id.pinterest.com/} {youtube#https://www.youtube.com/channel/UCWS5cxHkSUsQcT2zWwn4OEA} {instagram#https://www.instagram.com/suarabmi}
Powered by Blogger.