loading...
DAPETIN UPDATE BERITA MELALUI LINE DENGAN FOLLOW TOMBOL DIBAWAH INI
Tambah Teman
loading...

SUARABMI.COM Mantan TKW asal Sambiroyong, Kecamatan Sumbergempol, Tulungagung, Fitria Yuliana (31), memiliki hobi memelihara ayam kalkun. Untuk hobi yang satu ini, jarang orang menekuninya.

Hobi itu pun menjelma menjadi usaha yang menguntungkan bagi Fitria. "Sepulang dari luar negeri, saya main ke rumah teman di Kediri. Saya beli sepasang kalkun. Saya suka, lalu di rumah saya ternak dan ternyata banyak yang minat," kata Fitri, sapaan akrabnya. 

Dia menganggap kalkun adalah hewan yang unik dan digemari karena bulunya yang indah. Jarangnya pemelihara membuat kalkun harganya tinggi serta membuatnya banjir pesanan. "Ya kini kerasan di rumah. Enak bisa senang dan bisa juga dapat hasil," ungkapnya. 

Fitri mempunyai beberapa koleksi kalkun. Di antaranya ayam asal Eropa yang ukurannya besar dan biasa dijadikan sebagai unggas hias. "Ini paling disukai karena bulunya yang lebat dan berwarna cerah. Ketika kalkun ini dalam keadaan terancam, akan mengepakkan bulu ekornya menjadi lebar layaknya burung merak. Indah sekali," kata dia. 
[ads-post]
Menurut Fitri, bagi yang hobi berternak, tips memelihara kalkun tidak rumit karena tidak harus diberi makan konsentrat. "Kan jika dimasak akan kurang lezat jika diberi makan konsentrat. Dengan alami begini, orang malah suka karena menurut informasi ini tidak banyak kolesterol," paparnya. 

Saat ini Fitri telah memeliki empat jenis kalkun. Di antaranya adalah kalkun obama atau white Holland, palem, bronsen, dan black Spanish. White Holland merupakan kalkun yang seluruh tubuhnya berwarna putih. Sedangkan black Spanish seluruh tubuhnya berwarna hitam. Sedangkan palem dan bronsen didapatkan dari hasil silang yang dilakukannya. Hasil silangnya yang menghasilkan jenis unik membuat penghobi kalkun lain mendatangi rumahnya.

“Pemasarannya yang enak karena tak pernah memasarkannya. Pembeli datang sendiri karena jarang yang tahu tentang kalkun ini. Di Tulungagung sedikit yang memelihara ini. Bahkan di Sumbergempol hanya saya yang menernakkan kalkun,” tuturnya.

Harga per ekor kalkun di kisaran Rp 350 ribu sampai Rp 700 ribu. Itu berdasarkan jenis kalkun dan berat kalkun. Sedangkan bibit atau anakan kalkun dia jual dengan Rp 23 ribu per ekor.

"Kalkun ini jika bertelur bisa mencapai 30 butir. Induknya hanya mampu mengerami 20 butir. Sisanya saya masukkan mesin penetasan," pungkas Fitri dengan ceria. (JT)

Mantan TKW asal Sambiroyong, Kecamatan Sumbergempol, Tulungagung, Fitria Yuliana (31), memiliki hobi memelihara ayam kalkun. Untuk hobi yang satu ini, jarang orang menekuninya.

Post a Comment

Suara BMI

{picture#https://4.bp.blogspot.com/-d815yzHBHls/WT4_fgfVgdI/AAAAAAAALNY/b6WBmhQn55kw2Ax8-1iwXe1qF30zmlIsgCLcB/s1600/Untitled-1.png} Suara BMI adalah portal berita Buruh Migran Indonesia di Luar Negeri yang menyajikan berita seputar BMI dan kehidupannya dari berbagai sudut pandang, kredibel dan independen {facebook#https://www.facebook.com/suarabmi/} {twitter#https://www.twitter.com/suarabmi/} {google#https://plus.google.com/+EniLestarisbmi} {pinterest#https://id.pinterest.com/} {youtube#https://www.youtube.com/channel/UCWS5cxHkSUsQcT2zWwn4OEA} {instagram#https://www.instagram.com/suarabmi}
Powered by Blogger.