loading...
DAPETIN UPDATE BERITA MELALUI LINE DENGAN FOLLOW TOMBOL DIBAWAH INI
Tambah Teman
loading...

SUARABMI.COM - Besarnya angka perceraian di Tulungagung juga mendapatkan respon dari ulama. Salah satu ulama Kharismatik yang juga merupakan ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Tulungagung, KH. Muhammad Hadi Mahfudz atau Gus Hadi berpendapat, juga bisa mengukur kekuatan norma dan moral jika faktor yang menjadi penyebab cerai karena ekonomi dan teknologi. 

"Tidak kokohnya pondasi norma agama dan moral  mengakibatkan rapuhnya kepribadian anak bangsa. Ketika menghadapi tantangan perubahan tarap kehidupan ekonomi dan derasnya laju tecknologi yg berdampak negatif, hal ini perlu dipikirkan konsep penangananya dengan serius kalo program revolusi mental yang canangkan oleh pemerintah itu sekarang tidak ingin gagal," kata Gus Hadi. 

Gus Hadi juga menyoroti jika perceraian di akibatkan oleh faktor perselingkuhan, maka makin jelas terukur seberapa kadar akhlak yang dimilikinya. 

" Gugat cerai, fasakh nikah maupun talaq adalah suatu hal yang oleh agama (syar'i) telah diberikan ruang untuk  dimungkinkan, tapi yang paling perlu dilihat adalah sebab dan motivasinya," jelasnya. 
[ads-post]
Gus Hadi sependapat dengan apa yang disampaikan oleh ketua BMIH Tulungagung Heni Wulandari yang mengatakan bahwa pemerintah perlu melakukan bimbingan dan menambah lapangan kerja di daerah asalnya di tanah air. 

"Semua tidak bisa lepas dari akibat pemerintah kita yang sampai sekarang masih juga belum mampu mewujudkan lapangan kerja yang bisa mensejahterakan warganya," tegas Gus Hadi. 

Sebelumnya, Untuk mengurangi angka perceraian yang meningkat, menurut ketua BMIH Tulungagung, lebih baik pemerintah meningkatkan tersedianya lapangan pekerjaan dan upah yang maksimal di kota Tulungagung. 

"Saya yakin, merantau meninggalkan keluarga, faktor ekonomi lah yang melatar belakangi. So, kalau ada banyak lapangan pekerjaan dan gaji yang lumayan, gak perlu lah merantau jauh, karena semua bisa tercukupi," tambahnya. 

Pembekalan tentang kewirausahaan untuk TKW dan TKI perlu diterapkan agar setelah pensiun nanti dapat mengembangkan apa yang sudah didapat dari luar negeri. 

"Kalau modal sudah cukup segera kembali ke tanah air dan ketika diluar negeri cari-cari ilmu tambahan yang mendukung untuk planing usaha kita nanti," paparnya memberi solusi. 

Pembekalan ini menurutnya secara otomatis akan membuat para eks TKW mempunyai ketrampilan yang berguna saat di luar negeri dan sepulang ke tanah air. 

Angka perceraian di Kabupaten Tulungagung masih tergolong tinggi. Data yang masuk untuk pengajuan gugat cerai di kisaran 200-400 pengajuan baru tiap bulan. 

Data dari bulan Januari hingga September disebutkan Januari 375 dan dinyatakan dikabulkan 248. Februari pengajuan masuk 267 dan dikabulkan 234, Maret 288,dikabulkan 278, April 300 dikabulkan 253, Mei 258 dikabulkan 310, Juni 146 dikabulkan 234, Juli 408 dikabulkan 248, Agustus 317 dikabulkan 349 dan september hingga tanggal 18 ini data masuk 175 dikabulkan 177 perkara. 

Dari yang dikabulkan itu terdapat permohonan lain diantaranya pengajuan poligami, izin kawin, penunjukan orang lain sebagai wali di pengadilan, perkara tentang harta bersama hingga dispensasi perkawinan. Namun lebih dari 90 persen terbanyak permohonan gugatan cerai talak dan cerai Gugat. 

"Gugatan perceraian itu ada dua hal, ceria talak dan gugat. Dilihat dari data kebanyakan justru cerai gugat yaitu pihak istri yang menggugat suami," kata Suyono Wakil Panitera Pengadilan Agama Kabupaten Tulungagung. 

Motif perceraian sendiri menurut Suyono bervariasi, namun faktor ekonomi dan berubahnya gaya hidup sering menjadi alasan gugatan cerai diajukan. 

"Biasanya mantan TKW yang pulang dari luar negeri gaya hidupnya berubah drastis, mulai dari dandanan rambut hingga pergaulan di medsos. Kasus yang begini itu sering terjadi, yang mana suaminya capek-capek bekerja justru istrinya main hp dan berhubungan dengan orang lain di hp itu," pungkasnya.  **jatimtimes

Besarnya angka perceraian di Tulungagung juga mendapatkan respon dari ulama. Salah satu ulama Kharismatik yang juga merupakan ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Tulungagung, KH. Muhammad Hadi Mahfudz atau Gus Hadi berpendapat, juga bisa mengukur kekuatan norma dan moral jika faktor yang menjadi penyebab cerai karena ekonomi dan teknologi.

Post a Comment

Suara BMI

{picture#https://4.bp.blogspot.com/-d815yzHBHls/WT4_fgfVgdI/AAAAAAAALNY/b6WBmhQn55kw2Ax8-1iwXe1qF30zmlIsgCLcB/s1600/Untitled-1.png} Suara BMI adalah portal berita Buruh Migran Indonesia di Luar Negeri yang menyajikan berita seputar BMI dan kehidupannya dari berbagai sudut pandang, kredibel dan independen {facebook#https://www.facebook.com/suarabmi/} {twitter#https://www.twitter.com/suarabmi/} {google#https://plus.google.com/+EniLestarisbmi} {pinterest#https://id.pinterest.com/} {youtube#https://www.youtube.com/channel/UCWS5cxHkSUsQcT2zWwn4OEA} {instagram#https://www.instagram.com/suarabmi}
Powered by Blogger.