loading...
DAPETIN UPDATE BERITA MELALUI LINE DENGAN FOLLOW TOMBOL DIBAWAH INI
Tambah Teman
loading...

SUARABMI.COMBekerja di luar negeri, walaupun di sektor domestik, masih jadi pilihan warga Kabupaten Malang. Banyak faktor bekerja di luar negeri atau menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ke luar negeri, masih menjadi pilihan banyak warga.

Penghasilan atau gaji yang terbilang besar, kebiasaan turun temurun di desa terutama di kantong-kantong TKI, sumber daya manusia dan akses mendapatkan pekerjaan di dalam negeri yang tidak sepadan dengan pencari kerja. Faktor-faktor tersebut yang membuat warga, khususnya Kabupaten Malang setiap tahunnya berbondong-bondong menjadi TKI.

Data dari Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Malang mencatat, warga yang menjadi TKI di tahun 2016 mencapai 2.496 jiwa meningkat sekitar 26,76 persen dibanding tahun 2015. Di tahun 2017, jumlah TKI dari Januari-Juni kembali meningkat menjadi 3. 168 jiwa.

Artinya, setiap tahun masyarakat Kabupaten Malang yang berangkat ke luar negeri untuk menjadi TKI mengalami peningkatan. Walaupun secara prosentase terbilang kecil dari total jumlah pencari kerja di Kabupaten Malang yaitu 82.719  jiwa. Tapi, tentunya kondisi tersebut tidak dijadikan alasan bagi Pemerintahan Kabupaten Malang yang kini terus berusaha mensejahterakan masyarakatnya dengan berbagai program kerja nyata yang bersifat pro-poor.
[ads-post]
Kepala Dinas Tenaga Kerja (Kadisnaker) Kabupaten Malang menyatakan, bahwa warga yang memilih menjadi TKI merupakan hak pribadinya. Tidak ada yang bisa melakukan pencegahan apalagi melakukan pelarangan. “Itu pilihan yang dilindungi Undang-undang juga. Kita tidak bisa melarangnya. Yang kita bisa adalah memberikan perlindungan terhadap warga yang menjadi TKI,” kata Yoyok Wardoyo Kadisnaker Kabupaten Malang, Minggu (24/09).

Perlindungan terhadap TKI adalah dengan memberikannya penguatan keterampilan maupun dengan mengarahkannya sesuai dengan regulasi ketenagakerjaan di luar negeri. Selain tentunya dengan cara melakukan pengawasan terhadap para PJTKI sebagai pihak ketiga dalam menyalurkan warga ke berbagai negara tujuan.

Pola-pola program kerja di Disnaker Kabupaten Malang dalam menguatkan perekonomian warga melalui berbagai pelatihan keterampilan, sebagai bagian upaya menguatkan sendi ekonomi masyarakat terus digalakkan. Hal ini, menurut Yoyok juga sebagai bentuk kepedulian pemerintah kepada warganya untuk bisa sejahtera di rumahnya sendiri. “Faktor warga menjadi TKI juga karena alasan ekonomi. Kalau kita berdayakan perekonomiannya, saya kira warga akan lebih memilih kerja yang dekat dengan keluarganya,” ujarnya kepada MalangTIMES.

Melalui asumsi tersebut serta dengan semakin dikentalkannya program pengentasan kemiskinan di Kabupaten Malang, Disnaker terus berupaya memperbanyak program kerjanya dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat. Walaupun, tidak secara masif di pemberdayaan perekonomian, karena tupoksinya, Yoyok terus mendorong di dinasnya untuk mengoptimalkan program tersebut.

Misal, dengan adanya pelatihan dan penguatan pemberdayaan ekonomi di beberapa desa yang menjadi kantong TKI. Seperti Kalipare yang menyumbang 192 jiwa di tahun 2016 sebagai TKI di berbagai Negara. Sejak awal tahun 2017, Disnaker Kabupaten Malang bekerjasama dengan Balai Besar Pelatihan dan Produktivitas Ditjen Bina Kartasura Kementerian Ketenagakerjaan RI  telah meluncurkan Desa Migran Produktif.

Harapan dengan adanya Desa Migran Produktif ini adalah masyarakat, khususnya TKI memiliki tingkat kesejahteraan ekonomi yang berada di desanya. Sehingga seorang TKI tidak perlu kembali lagi bekerja di luar negeri, tapi tetap bisa produktif dengan berbagai hasil dari program pemerintah tersebut.

“Berbagai program ini juga merupakan kebijakan yang sekiranya bisa menurunkan angka TKI setiap tahunnya,” ujar Yoyok yang juga menyampaikan bahwa peningkatan jumlah TKI setiap tahunnya memang terjadi. “Tapi secara kuantititas menurun dari tahun-tahun lalu. Misal di tahun 2013 TKI Kabupaten Malang sebanyak 4.178 jiwa,” imbuhnya.

Dia juga menyampaikan bahwa untuk meminimalisir TKI Kabupaten Malang perlu adanya sinergi secara utuh dengan berbagai dinas terkait, masyarakat, pelaku usaha bahkan akademisi. “Karena satu sama lain memiliki pengaruh dalam persoalan ini. Kalau bersatu saya pikir, lambat laun masyarakat akan lebih memilih bekerja di rumahnya sendiri,” pungkas Yoyok. ***jatimtimescom

Bekerja di luar negeri, walaupun di sektor domestik, masih jadi pilihan warga Kabupaten Malang. Banyak faktor bekerja di luar negeri atau menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ke luar negeri, masih menjadi pilihan banyak warga.

Post a Comment

Suara BMI

{picture#https://4.bp.blogspot.com/-d815yzHBHls/WT4_fgfVgdI/AAAAAAAALNY/b6WBmhQn55kw2Ax8-1iwXe1qF30zmlIsgCLcB/s1600/Untitled-1.png} Suara BMI adalah portal berita Buruh Migran Indonesia di Luar Negeri yang menyajikan berita seputar BMI dan kehidupannya dari berbagai sudut pandang, kredibel dan independen {facebook#https://www.facebook.com/suarabmi/} {twitter#https://www.twitter.com/suarabmi/} {google#https://plus.google.com/+EniLestarisbmi} {pinterest#https://id.pinterest.com/} {youtube#https://www.youtube.com/channel/UCWS5cxHkSUsQcT2zWwn4OEA} {instagram#https://www.instagram.com/suarabmi}
Powered by Blogger.