loading...
DAPETIN UPDATE BERITA MELALUI LINE DENGAN FOLLOW TOMBOL DIBAWAH INI
Tambah Teman
loading...

SUARABMI.COMMasih menduduki posisi runner-up, kasus perceraian di malang menduduki peringkat ke 2 setelah Indramayu yang masih bertahan di posisi pertama se-Indonesia.

Selain jumlah kasus perceraian yang mengalami kenaikan setiap tahunnya dengan angka sekitar 300 kasus, yang menarik adalah gugatan cerai didominasi oleh kaum istri yang rata-rata berprofesi sebagai Tenaga Kerja Wanita (TKW) Indonesia di luar negeri.

Sebagaimana dilansir dalam laman malangtimes.com hal ini disampaikan oleh Lilik Muliana Ketua Pengadilan Agama (PA) Kabupaten Malang yang memberikan ilustrasi angka gugat cerai istri dalam rentang tahun 2012 sampai dengan pertengahan tahun 2017 di atas kasus cerai talak.

"Prosentase memang didominasi gugat cerai. Disebabkan faktor ekonomi dan ketidakharmonisan dalam membina keluarga," kata Lilik, Jumat (15/09).

Para istri yang menggugat cerai tersebut didominasi mereka yang bekerja di luar negeri sebagai TKW dan berasal dari kantong-kantong merah pengirim tenaga kerja wanita. Seperti Bantur, Sumbermanjing Wetan, Lawang, dan Singosari yang terkenal sebagai wilayah TKW di Kabupaten Malang.

Bahkan menurut catatan PA Kabupaten Malang gugat cerai dari pihak istri yang bekerja sebagai TKW di luar negeri, mendominasi beberapa faktor kasus  perceraian. 

Hingga September tahun ini, kasus perceraian yang masuk dan didominasi gugat cerai pihak istri sebanyak 5.697 kasus, dan akan bertambah hingga akhir tahun nanti.
[ads-post]
Kondisi kasus gugat cerai yang dikarenakan banyaknya perempuan menjadi TKW di luar negeri, sebenarnya telah juga diantisipasi oleh pemerintahan Kabupaten Malang.

Hal ini terlihat dari adanya penurunan warga Kabupaten Malang yang menjadi TKW. Tahun 2015 ada 1.969 warga merantau ke luar negeri. Menurun, pada tahun ini, menjadi 1.820 orang.

Penurunan ini dikarenakan mulai banyaknya terobosan-terobosan dari Pemerintah Kabupaten Malang dalam menumbuhkan berbagai potensi usaha di kantong-kantong TKW.

"Kita memang fokus pada program kerja yang berbasis penguatan ekonomi dalam masyarakat, khususnya bagi TKW yang pulang kampung," ujar Yoyok Wardoyo Kepala Dinas Tenaga Kerja (Kadisnaker) Kabupaten Malang.

Target program tersebut adalah agar para TKW tidak kembali lagi menjadi buruh migran di luar negeri, tapi berusaha di desanya masing-masing.

Karena, menurut Lilik kasus gugat cerai dari pihak isteri yang menjadi TKW di luar negeri dipengaruhi faktor ekonomi dan ketidakharmonisan keluarga yang bertahun-tahun berjauhan.

Usaha-usaha pemerintah Kabupaten Malang tersebut, ternyata cukup berhasil. Dari tahun 2016 sampai sekarang telah terjadi penurunan angka perceraian sekitar 3 persen.

"Walau masih terlihat sedikit, tapi ini sudah merupakan kemajuan dalam menekan angka perceraian di Kabupaten Malang," kata Lilik yang berharap angka perceraian di tahun-tahun berikutnya semakin menurun. | Malang Express

Masih menduduki posisi runner-up, kasus perceraian di malang menduduki peringkat ke 2 setelah Indramayu yang masih bertahan di posisi pertama se-Indonesia.

Post a Comment

Suara BMI

{picture#https://4.bp.blogspot.com/-d815yzHBHls/WT4_fgfVgdI/AAAAAAAALNY/b6WBmhQn55kw2Ax8-1iwXe1qF30zmlIsgCLcB/s1600/Untitled-1.png} Suara BMI adalah portal berita Buruh Migran Indonesia di Luar Negeri yang menyajikan berita seputar BMI dan kehidupannya dari berbagai sudut pandang, kredibel dan independen {facebook#https://www.facebook.com/suarabmi/} {twitter#https://www.twitter.com/suarabmi/} {google#https://plus.google.com/+EniLestarisbmi} {pinterest#https://id.pinterest.com/} {youtube#https://www.youtube.com/channel/UCWS5cxHkSUsQcT2zWwn4OEA} {instagram#https://www.instagram.com/suarabmi}
Powered by Blogger.