loading...
DAPETIN UPDATE BERITA MELALUI LINE DENGAN FOLLOW TOMBOL DIBAWAH INI
Tambah Teman
loading...

SUARABMI.COMMerantau ke negeri Jiran Malaysia, bagi warga Tulungagung bukan hal baru. Bahkan banyak warga kota marmer menggantungkan hidup disana atau menjadi bagian dari penduduk Malaysia dan pemegang Identitiy Card (IC) atau KTP Malaysia. 

"Suami saya pemegang IC, merantau sejak bujang. Anak kami ada dua yang menikah, satu kuliah dan satu masih duduk di bangku Sekolah Dasar," kata Yun (47) tahun warga salah satu desa di Kalidawir. 

Yun dulunya juga pernah diajak suami merantau, namun sudah sepuluh tahun lebih dirinya dirumah dengan alasan usia dan tak diizinkan anaknya untuk merantau lagi. "Dulu pernah jaga kantin disana, hidup pindah-pindah sesuai pekerjaan suami dapat kerja borongan dimana," kata Yun. 

Semenjak hidup dirumah, Yun kontan tidak bekerja sama sekali. Hari-harinya diisi dengan kegiatan bersama beberapa perempuan dari berbagai desa untuk mengadakan senam. Meski usia tergolong sudah tua, penampilan Yun masih bisa dibilang gaul dan tidak kalah dengan yang muda. Tidak tampak jika dirinya telah mempunyai 4 anak dan 3 cucu jika sedang jalan sendiri atau berkumpul dengan teman lain yang hobby nya sama yaitu senam aerobik. 

Wakil Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Kalibatur Sukardi mengaku jika di daerah Kalidawir khususnya di desa pinggiran bagian selatan, banyak wanita berstatus Janda Malaysia (Jamal), yaitu istri yang di tinggal merantau ke Malaysia. 

"Di desa kami banyak sekali, di dusun saya tinggal Papar saja, jumlah jamal atau janda swasta mencapai sekitar 90 orang," papar Sukardi. 

Sukardi tidak memungkiri jika kehidupan warga terutama jamal ini mengalami perubahan yang signifikan baik dalam penampilan, pergaulan hingga gaya hidup lainnya. 

"Pergaulannya amat sangat berubah, gaya hidup ala kebaratan baik dari  pakaian, gaya rambut. Pokoknya jadi banyak yang aduhai," katanya 

Selain pengaruh media sosial, para istri yang di tinggal suaminya dengan tempo lama juga ingin eksis dalam berbagai kegiatan positif seperti bisnis online, dagang baju hingga kosmetik. Namun, banyak juga yang justru memanfaatkan kesempatan dengan tidak baik sehingga timbul kesan negatif pada kehidupan jaman ini. 
[ads-post]
"Beberapa waktu lalu ada yang tertangkap di hotel, hal seperti ini sering  menjadi perhatian dan penyebab retak nya keluarga. Beberapa diantara jamal ini sudah keluar jalur, terkadang malah "noroki" (keluar uang) untuk lelakinya," tambahnya. 

Sudah puluhan tahun warga di Kalibatur dan sekitarnya banyak kepala keluarga merantau, bahkan Malaysia seperti rumah dan kampung halaman seperti persinggahan. Dalam setahun, rata-rata perantau ini hanya sebulan atau bahkan dua tahun sekali pulang ke kampung untuk menjenguk anak dan istri. 

"Di desa kami banyak sekali, memang hidupnya kebanyakan disana," kata Kepala Desa Rejosari Sudikan 

Sudikan menerangkan tentang kehidupan mereka di desanya Rejosari Kalidawir, yang menurutnya merantau akan bisa dilihat dari karakter atau watak orangnya. Jika karakter orang yang tulus memang merantau bertujuan memikirkan permodalan untuk masa depan. 

"Jika niatnya tulus, yang dirumah baik-baik saja, tapi jika karakter sudah biasa Wakel (wanita keluar) kadang ya bisa terjadi perceraian," papar Kades. 

Wanita keluar (Wakel) sering menjadi sebutan bagi para istri yang jika ditinggal suaminya mencari kesibukan diluar rumah. 

"Alhamdulillah di desa kami meski ada yang Wakil, tapi yang terjadi ya minim, kebanyakan memang dasarnya cari modal," tambah Kades Sudikan. 

Pola persaingan di desa menurut Sudikan kini lebih kuat dibanding dengan di kota, hal tersebut yang akhirnya keputusan merantau dan bekerja di luar negeri menjadi harapan untuk merubah kehidupannya. 

"Kadang wanita banyak juga yang merantau, dilihat dari asal bekerja, kalau pulang  dari Malaysia, Singapura dan Brunei (biasanya) pulang biasa. Kalau pulang dari Hongkong dan Taiwan, gaya rambut dan baju sudah berganti," pungkasnya. | tulungagungtimes

Merantau ke negeri Jiran Malaysia, bagi warga Tulungagung bukan hal baru. Bahkan banyak warga kota marmer menggantungkan hidup disana atau menjadi bagian dari penduduk Malaysia dan pemegang Identitiy Card (IC) atau KTP Malaysia.

Post a Comment

Suara BMI

{picture#https://4.bp.blogspot.com/-d815yzHBHls/WT4_fgfVgdI/AAAAAAAALNY/b6WBmhQn55kw2Ax8-1iwXe1qF30zmlIsgCLcB/s1600/Untitled-1.png} Suara BMI adalah portal berita Buruh Migran Indonesia di Luar Negeri yang menyajikan berita seputar BMI dan kehidupannya dari berbagai sudut pandang, kredibel dan independen {facebook#https://www.facebook.com/suarabmi/} {twitter#https://www.twitter.com/suarabmi/} {google#https://plus.google.com/+EniLestarisbmi} {pinterest#https://id.pinterest.com/} {youtube#https://www.youtube.com/channel/UCWS5cxHkSUsQcT2zWwn4OEA} {instagram#https://www.instagram.com/suarabmi}
Powered by Blogger.