loading...
DAPETIN UPDATE BERITA MELALUI LINE DENGAN FOLLOW TOMBOL DIBAWAH INI
Tambah Teman
loading...

SUARABMI.COMJawa Barat menjadi salah satu daerah “pengekspor” tenaga kerja Indonesia terbanyak di Indonesia. 

Rata-rata, dalam satu tahunnya Jawa Barat mengirimkan TKI ke luar negeri sebanyak 48 ribu orang. Melihat tingginya angka TKI yang berangkat ke luar negeri itu, maka diperlukan perubahan regulasi daerah terkait kesempatan kerja padat karya di daerah, yakni syarat penerimaan buruh pabrik.

“Saya kemarin bertemu dengan pak Gubernur Jabar (Ahmad Heryawan-red) membahas hal ini. Saya sampaikan harus ada satu peraturan yang diubah yaitu masalah kerja di pabrik. Kerja di pabrik itu yang dibutuhkan adalah kompetensi bukan ijasah. Saat ini, yang terjadi di pabrik itu selalu mensyaratkan ijasah minimal SMA. Padahal, di dalam pabrik dia (pekerja) hanya kerja memasang kancing atau mungkin hanya ngelem sepatu atau sekedar packing barang. Ini juga mendorong tingginya jumlah TKI yang berangkat bekerja ke luar negeri,” ungkap Ketua Komisi IX DPR RI, Dede Yusuf Macan Effendi, sebagaimana dilansir laman pikiran rakyat.com pada Minggu 8 Oktober 2017.

Masih dikatakan Dede, perubahan regulasi itu dapat dilakukan dengan memperbanyak pelatihan dan kursus untuk meningkatkan kompetensi. Pasalnya, keahlian atau kompetensi itu tidak diperoleh di bangku SMA. Oleh karena itu, lanjut Dede, harus ada kebijakan mengubah penerimaan buruh pabrik yang didorong adalah memiliki kompetensi dan sertifikasi melalui pelatihan-pelatihan yang nantinya akan menjadi salah satu motor yang utama untuk men-sortir orang-orang yang ingin bekerja di pabrik.
[ads-post]
Dengan optimalisasi pelatihan kompentensi dan didukung pula dengan regulasi yang memadai, dikatakan Dede, maka hal itu pun mampu menekan angka TKI yang bekerja di luar negeri. Sebab, tidak sedikit TKI yang bekerja di luar negeri itu menjadi TKI ilegal tanpa menempuh prosedur yang berlaku. Hal ini pun dikhawatirkan akan memicu tingginya tindak pidana perdagangan orang (TPPO).

Disinggung mengenai jumlah TKI yang saat ini berada di luar negeri, dijelaskan Dede Yusuf, per tahunnya jumlah TKI ini mencapai 8 juta, baik TKI prosedural maupun non-prosedural. Setiap tahunnya berdasarkan data Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan TKI (BNP2TKI), sebanyak 100 ribu TKI berangkat ke luar negeri. Diakui dia, memang saat ini pemerintah memberlakukan moratorium TKI ke luar negeri khususnya ke Timur Tengah.

Namun, dengan adanya moratorium itu dikhawatirkan juga akan meningkatkan TKI non-prosedural. Dia pun menyadari betul bahwa negara tidak bisa memberangus hak warga yang ingin bekerja di luar negeri. Akan tetapi, negara harus menyediakan jaminan pelatihan kepada setiap TKI sebelum bekerja di luar negeri.

“Ini yang harus kita tata ulang. Saya kemarin sudah merampungkan rancangan undang-undang tentang perlindungan pekerja migran Indonesia yang segera diparipurnakan. Dalam undang-undang ini nantinya akan memberikan mandat kepada pemerintah daerah untuk membuat layanan terpadu satu atap untuk menekan angka TKI non-prosedural ini. Memang di satu sisi, kita tidak bisa membatasi juga orang untuk mendapatkan kesempatan kerja di luar negeri,” tutur dia | pikiranrakyat

Saya kemarin bertemu dengan pak Gubernur Jabar (Ahmad Heryawan-red) membahas hal ini. Saya sampaikan harus ada satu peraturan yang diubah yaitu masalah kerja di pabrik. Kerja di pabrik itu yang dibutuhkan adalah kompetensi bukan ijasah. Saat ini, yang terjadi di pabrik itu selalu mensyaratkan ijasah minimal SMA. Padahal, di dalam pabrik dia (pekerja) hanya kerja memasang kancing atau mungkin hanya ngelemsepatu atau sekedar packing barang. Ini juga mendorong tingginya jumlah TKI yang berangkat bekerja ke luar negeri

Post a Comment

Suara BMI

{picture#https://4.bp.blogspot.com/-d815yzHBHls/WT4_fgfVgdI/AAAAAAAALNY/b6WBmhQn55kw2Ax8-1iwXe1qF30zmlIsgCLcB/s1600/Untitled-1.png} Suara BMI adalah portal berita Buruh Migran Indonesia di Luar Negeri yang menyajikan berita seputar BMI dan kehidupannya dari berbagai sudut pandang, kredibel dan independen {facebook#https://www.facebook.com/suarabmi/} {twitter#https://www.twitter.com/suarabmi/} {google#https://plus.google.com/+EniLestarisbmi} {pinterest#https://id.pinterest.com/} {youtube#https://www.youtube.com/channel/UCWS5cxHkSUsQcT2zWwn4OEA} {instagram#https://www.instagram.com/suarabmi}
Powered by Blogger.