loading...
DAPETIN UPDATE BERITA MELALUI LINE DENGAN FOLLOW TOMBOL DIBAWAH INI
Tambah Teman
loading...

Siti Rukayah cukup populer di kalangan pejabat dan pengusaha Kediri, Jawa Timur. Pemilik usaha tenun ikat ini menjadi pelopor berdirinya kampung tenun dan menjadi tumpuan ekonomi puluhan perempuan yang bekerja kepadanya. Batik tenun buatannya bahkan menjadi seragam wajib pegawai negeri sipil Pemerintah Kota Kediri.

Namun penampilan ibu tiga anak ini tetap sederhana. Meski tergolong pengusaha besar dengan pendapatan Rp 280 juta per bulan. Sejumlah tamu yang datang ke rumahnya di Kelurahan Bandar Kidul, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri kerap terkecoh penampilannya dan menganggap Siti sebagai salah satu pekerja tenun yang bekerja di pabrik situ.

Hari itu, Siti Rukayah menemui SUARA hanya dengan mengenakan daster merah muda dengan corak bunga. Dia lantas duduk santai dan mulai berkisah.

Siti mulai membangun usaha tenun ikat dari modal hasil bekerja sebagai BMI di Arab Saudi. Saat BMI lain berfoya-foya membeli barang mewah di Tanah Air, Siti memilih membeli benang dan memperbaik mesin tenun yang telah dimilikinya dahulu.

Siti bertekat tak mau terjebak di negeri orang dan meninggalkan keluarga dalam waktu lama.

Nasib Siti sebenarnya serupa seperti para BMI lainnya. Dia berangkat bekerja ke Arab Saudi pada 1997 gara-gara uang di kantong yang mulai sekarat. Seiring jatuhnya perekonomian Indonesia ke lobang krisis finansial, bisnis tenun ikat Siti Rukayah dan suami, Munawar, ikut terjun bebas.

“Begitu (bisnis) tenun macet, saya nyales kosmetik ke daerah pegunungan untuk makan,” kata Siti, mengenang.
[ads-post]
Lagi-lagi usaha itu tak bernasib panjang. Hasil yang didapat tak sebanding dengan tenaga yang dikeluarkan.

Akhirnya Siti memberanikan diri pamit kepada suaminya untuk bekerja di luar negeri.

Munawar pertama-tama tak langsung merestui. Anak mereka masih berusia empat tahun. Apalagi Munawar banyak mendengar kisah BMI yang mengalami pelecehan seksual oleh majikan atau bahkan, ehem, terlibat perselingkuhan.

Setelah berdebat berhari-hari, Munawar pasrah juga. Siti mulai mendaftar ke agen untuk berangkat jadi BMI ke Arab Saudi. Alasannya, Siti sudah menguasai Bahasa Arab.

Sejenak percakapan kami terhenti. Siti diam-diam meneteskan air mata mengenang kisah lamanya saat akan berangkat jadi BMI. Sang anak baru saja masuk Taman Kanak-Kanak saat itu. Lagi lucu-lucunya. “Saya pergi saat anak saya berangkat sekolah,” kenang Siti sambil meneteskan air mata.

Kontrak kerja selama dua tahun di Tabuk, Arab Saudi terasa sangat lama. Apalagi delapan bulan pertama, sang majikan tak pernah menyampaikan surat-surat yang dikirim suaminya dari Indonesia. Katanya sih, supaya Siti fokus menjaga tiga anak majikan yang berusia 2 tahun, 4 tahun, dan 8 tahun.
Setelah 1,5 tahun bekerja, petaka mulai terjadi. Majikan laki-laki yang sebelumnya berdinas di Riyadh memutuskan pulang ke Tabuk. Sejak itulah Siti jadi korban tangan usil majikannya.

“Majikan laki-laki mulai usil saat ditinggal istrinya yang kerja jadi guru, untuk mengajar,” kata Siti.
Pelecehan seksual makin menjadi ketika sang istri hamil. Hampir tiga hari sekali Siti jadi sasaran pelampiasan syahwat majikannya. Berbagai ancaman harus ditelan mentah-mentah. Arab Saudi tak memiliki hukum seperti di Hong Kong. Siti tak tahu dan juga tak bisa mengadu ke siapa-siapa.

Majikan laki-laki menahan semua surat dari Munawar untuk Siti. Dia juga sering mengancam Siti dengan pistol jika nafsu setannya tak dipenuhi. Meski telah bonyok jadi sasaran remas sang majikan, Siti tak menyerah. Dia terus putar akal sebisanya agar jangan sampai benar-benar melayani di tempat tidur.

Ironisnya, Siti tak berani mengadukan nasibnya kepada majikan perempuan. Dia takut tak dipercaya. Bisa-bisa balik dituduh kegatelan sendiri. “Enam bulan terakhir di sana seperti neraka, ketakutan saat majikan perempuan pergi,” kata Siti.

Siti semakin dicekam ketakutan. Apalagi sang majikan laki-laki menolak memulangkan begitu kontrak Siti selesai. Seperti penasaran karena belum bisa memboyong Siti ke tempat tidur.

Ibu satu anak inipun nekat. Dia lari ke jalan. Lantas berteriak-teriak sendiri. Pura-pura gila. Majikan akhirnya ketakutan dan mengirimnya pulang ke Indonesia berbekal sisa gaji Rp 24 juta.

Dengan uang itulah, Siti dan Munawar membeli benang serta memperbaiki 4 mesin tenun lama milik mereka. Keduanya lantas kembali berbisnis batik tenun ikat hingga kini memiliki 98 karyawan dengan pendapatan sekitar Rp 280 juta per bulan.

Ibu ini terdiam sejenak. Mungkin dia teringat lagi bagaimana modal usahanya itu diperoleh dengan cucuran air mata. Siti lantas memandang saya dan berkata pelan. Hampir seperti berbisik.

“Silahkan menghubungi saya bagi kawan-kawan BMI yang ingin berbisnis tenun,” katanya. Siti meraih pena dan kertas, lalu menuliskan nomor telepon 081234169027.

Dia minta saya menuliskan nomor itu di artikel ini. Supaya, semua teman-teman BMI yang ingin pulang berbisnis bisa ikut bergabung dan belajar.

Siti tahu benar, bekerja sebagai BMI tidaklah seindah rayuan sponsor. Kini saatnya Siti balik membantu teman-teman senasib.| suara

Siti Rukayah cukup populer di kalangan pejabat dan pengusaha Kediri, Jawa Timur. Pemilik usaha tenun ikat ini menjadi pelopor berdirinya kampung tenun dan menjadi tumpuan ekonomi puluhan perempuan yang bekerja kepadanya. Batik tenun buatannya bahkan menjadi seragam wajib pegawai negeri sipil Pemerintah Kota Kediri.

Post a Comment

Suara BMI

{picture#https://4.bp.blogspot.com/-d815yzHBHls/WT4_fgfVgdI/AAAAAAAALNY/b6WBmhQn55kw2Ax8-1iwXe1qF30zmlIsgCLcB/s1600/Untitled-1.png} Suara BMI adalah portal berita Buruh Migran Indonesia di Luar Negeri yang menyajikan berita seputar BMI dan kehidupannya dari berbagai sudut pandang, kredibel dan independen {facebook#https://www.facebook.com/suarabmi/} {twitter#https://www.twitter.com/suarabmi/} {google#https://plus.google.com/+EniLestarisbmi} {pinterest#https://id.pinterest.com/} {youtube#https://www.youtube.com/channel/UCWS5cxHkSUsQcT2zWwn4OEA} {instagram#https://www.instagram.com/suarabmi}
Powered by Blogger.