SUARABMI.COM - Tuntutan untuk 'stay out' atau tinggal diluar rumah majikan yang dilayangkan TKW di Hongkong kini hanya menjadi pepesan kosong, pasalnya pengadilan menolak tuntutan tersebut.

Selama ini terhitung sejak 2003, para TKW (Tenaga Kerja Wanita) di Hongkong selalu 'live in' atau tinggal serumah dengan majikan mereka, hal ini dinilai memberatkan para pekerja karena harus berhadapan dengan majikan 24 nonstop.

Menurut organisasi Buruh di Hongkong hal ini rentan akan terjadinya tindak pelecehan oleh majikan kepada para pekerjanya. Selain itu tuntutan stay-out ini diharapkan akan menambahkan kesejahteraan bagi para pekerja. 
[ads-post]
Peninjauan kembali undang-undang tersebut diajukan oleh Lubiano Nancy Almorin dari Filipina. Dia diwakili oleh Penasihat Senior Paul Shieh dari Daly & Associates.

Ditolaknya tuntutan stay-out ini lantaran dainggap malah akan memberatkan para  pekerja. Benjamin Yu, Penasihat Pemerintah Daerah menjelaskan jika memang pekerja mengalami tindakan pelecehan atau over dalam bekerja, ia dapat melaporkan hal ini ke imigrasi dimana juga ada sanksi dan denda tegas untuk para majikan.

Hakim Anderson Chow mengatakan bahwa direktur imigrasi memiliki wewenang untuk menerapkan tindakan administratif yang menentukan bahwa seorang pekerja rumah tangga harus tinggal dengan majikan mereka. Dia juga mengatakan bahwa pekerja rumah tangga yang tidak setuju dengan peraturan tersebut dapat memilih untuk tidak bekerja di kota.

Sebuah pernyataan dari LSM Badan Koordinasi Migran Asia pada hari Rabu mengatakan: "Kebijakan live-in ini, yang diberlakukan oleh pemerintah, menciptakan kondisi untuk perbudakan modern ada di Hong Kong. Sekarang dengan keputusan ini, bahkan Pengadilan Tinggi terlibat dalam menjaga kondisi budak berkedok pekerja migran. Alih-alih menjadi upaya terakhir bagi mereka yang tertindas, Pengadilan Tinggi malah menghancurkan harapan tersebut"

Tuntutan untuk 'stay out' atau tinggal diluar rumah majikan yang dilayangkan TKW di Hongkong kini hanya menjadi pepesan kosong, pasalnya pengadilan menolak tuntutan tersebut.

loading...
Powered by Blogger.