SUARABMI.COM - Mimpinya untuk dapat membantu melunasi utang ayahnya di sebuah bank pemerintah, pupus sudah. Soalnya Nina Dwi Kodriah, 30, TKI asal dusun Winong, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, pulang dari negara singa dalam keadaan cidera serius. Ia jatuh dari apartemen lantai 2 saat hendak melarikan diri dari kediaman seorang agen penyalur TKI di Singapura lantaran tak tahan dikasari dan dihina bertubi-tubi.

Kami bertemu di rumah orang tuanya  di dusun Winong akhir tahun lalu.  Nina mengatakan  tangan kanannya masih ngilu kalau digerakkan. Pinggulnya juga terasa sakit saat berjalan.

“Tangan ini sakit sekali. Saya nggak bisa kerja apa-apa,” katanya lirih. Ia masih harus bolak-balik kontrol ke rumah sakit. Biayanya tidak sedikit. “Setidaknya perlu uang Rp 700 ribu untuk sekali kontrol. Jadi, kalau lagi ada uang saja  saya kontrol.”

Kini ia tidak lagi mampu melakoni pekerjaan yang mengandalkan fisik yang prima; bahkan untuk sekadar membersihkan rumah ia tak kuasa. Maka, ia menjadi beban baru keluarga. Padahal dulu niatnya berangkat ke Singapura tak lain dari membantu meringankan beban ekonomi keluarga.

“Di rumah tidak ada apa-apa. Kami punya utang ke BRI,” kata Mukshin, 57, ayah Nina, petani penggarap sawah dan pekerja serabutan. Adapun sang istri, ia kini bekerja sebagai asisten rumah tangga di sebuah keluarga di Surabaya, sekitar 200 kilometer dari Ngawi atau 7 jam berkendaraan; pulang tak musti sebulan sekali.

“Sebenarnya dulu saya tidak izinkan Nina berangkat, tapi gimana lagi, untuk penuhi kebutuhan,” ucap Mukhsin.
[ads-post]
Mengenang nasibnya  Nina  senantiasa bersedih. Airmata ibu dua anak ini jatuh saat kembali berkisah walau sesaat kemudian ia masih dapat tersenyum dan bersyukur dapat pulang dalam keadaan masih bernyawa. “Saya tidak pernah menyangka akan seperti ini. Kasihan Bapak dan suami saya,” katanya lirih.

Suami Nina, Mansyur (41), yang mendampingi kami berbincang, lebih banyak terdiam. Ia hanya bisa membesarkan hati  agar istrinya fokus saja memulihkan kesehatannya sehingga setidaknya dapat mencari pekerjaan di sekitar Ngawi. Sebagai penjaga toko, misalnya, demi meringankan beban keluarga.

Nina pergi meninggalkan Indonesia pada 7 Maret 2016. Kala itu putra bungsunya, Safa Mustajab masih belum genap 3 tahun. “Dia sempat tidak mau dekat ke saya waktu saya baru datang,” kata Nina. Sedangkan putri pertamanya, Mahmudah Ayu Asharari, sudah mulai beranjak remaja. Saat ditinggal ia berusia 10 tahun.

Kesulitan ekonomi keluarga yang membuat Nina berkeras hati mengadu nasib ke Singapura. Proses pemberangkatannya cepat saja sehingga tak cukup waktunya untuk mempersiapkan mental maupun ketrampilan. Semula ia mencari lowongan merawat orang lansia. Namun yang didapatnya adalah pekerjaan sebagai asisten rumah tangga pada sebuah keluarga beranak tiga.

Tiba di Bandara Changi Singapura ia langsung dijemput seseorang yang ia panggil ‘Mam Nora’. Dia adalah agen penyalur tenaga kerja di Singapura yang tentunya bermitra dengan agen di Indonesia. Menurut penelusuran Law-justice Nina tidak berangkat melalui perusahaan penyalur tenaga kerja resmi yang terdaftar di Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) Indonesia melainkan lewat seseorang yang mengaku agen penyalur TKI. Orang itu adalah veteran buruh migran yang masih berhubungan dengan sejumlah agen di negara penempatan.

Nina menginap semalam di tempat Nora. Keesokan harinya baru dia diantar ke apartemen calon majikan. Segala urusan dokumen—berupa kontrak kerja dan hak-haknya—diteken kemudian di Singapura. Ia mengatakan mendapat salinan kontrak namun dokumen itu hilang saat kejadian tragis yang menimpa dirinya, kemudian. (Bersambung)

Nestapa Nina, TKW yang Jatuh dari Lantai 2 Apartemen di Singapura Karena Ingin Kabur

loading...
Powered by Blogger.
close