SUARABMI.COM - Dunia ini memang kejam bagi sebagian orang karena perilaku nekad mereka tanpa berpikir panjang hingga menyebabkan orang yang paling dekat menjadi korban.

Seperti yang sedang heboh ini, gara - gara tak di izinkan lihat hp istrinya, Suami tebas leher istri kemudian belah perut istrinya yang sedang hamil tua dan mengambil bayi dari perutnya. Beruntung bayinya masih hidup walaupun istri seketika tewas.

Kejadiannya pada hari Kamis, 21 Februari 2019 Jam 14.00 Wib dilokasi kejadian Jl.Irian Kel.Tanjung Jaya Kec.Sungai Serut Kota Bengkulu.

Pelaku bernama Romi Sepriawan, 30 tahun dengan korban istrinya sendiri bernama Erni Susanti, S.pd.
[ads-post]
Berawal dari pelaku marah kepada korban karna tidak diperbolehkan melihat handphone korban, setelah itu terjadilah cek cok, dan kemudian pelaku keluar rumah setelah itu kembali lagi meminjam parang milik tetangga dengan alasan ingin membuka kelapa.

Setelah meminjam parang ke tetangga nya, pelaku masuk ke dalam rumah lagi dan masuk kedalam kamar menaruh parang tersebut di atas kasur dengan ditutupi selimut dalam posisi korban tertidur.

Melihat pelaku masuk membuka pintu kamar korban terbangun setelah itu terjadi cek cok lagi antara korban dan pelaku, setelah itu pelaku langsung mengambil parang yang di tarok di balik selimut dan langsung menebas leher korban dalam posisi korban sedang tiduran di atas kasur.

Kemudian pelaku membela perut korban yang dalam posisi hamil dan mengambil anak yang ada didalam perut korban.

Kemudian pelaku keluar rumah dan sempat memberitahu tetangga sebelah rumah dan pelaku langsung kabur melarikan diri.

Adapun proses saat dilakukan penangkapan terhadap pelaku, yang pada saat itu sedang berada di
Tanjung Jaya Kota Bengkulu.

Lalu Tim Buser Polres Bengkulu langsung melakukan penangkapan terhadap pelaku yang Dipimpin IPDA Angga Faisal Sitepu S.Tr,K , KBO Reskrim Polres Bengkulu, Kanit Tipikor Polres Bengkulu, Kanit Tipidter Polres Bengkulu beserta Anggota Reskrim Polres Bengkulu.

SUARABMI.COM - Sebenarnya aturan itu sudah banyak menguntungkan para TKI namun karena ulah oknum - oknum nakal, banyak TKI yang tidak mendapatkan kemudhan -kemudahan itu.

Nah kali ini kita akan berikan 5 hak yang seharuskan kamu dapat saat kamu sudah finish kontrak dan akan pulang ke Indonesia. 5 Hak tersbeut adalah:
  1.  Tiket pulang ditanggung majikan (hanya 1 majikan selama 1 kontrak)
  2. Uang cuti tahunan (jika tidak digunakan atau anda belum cuti selama kontrak), Disebutkan di PK bahwa setelah PMI genap bekerja 1 tahun dan dibawah 3 tahun maka setiap tahun majikan wajib memberikan PMI 7 hari cuti tanpa potong gaji atau bisa digantikan dengan Uang. [ads-post] Untuk PMI Sektor Informal (PRT, Caregiver (Penjaga Orang Sakit). Sedangkan untuk Sektor Formal (Manufaktur, Pekerja pada Rumah Sakit / Panti Jompo, Pekerja Konstruksi dan Nelayan)
  3. Gaji pastikan sudah dibayar semua, jika masih nunggak jangan lupa minta.
  4.  Lembur-lembur jangan lupa minta, termasuk uang minggu ke-lima (informal)
  5. Pengembalian kelebihan pembayaran pajak bila ada sisa (biasanya nunggu beberapa bulan), agar hubungi agensinya nanti
Nah sudahkah kamu mendapatkan kelima hak ini? Jika tidak kamu bisa mengadukan ke 1955 khususnya di Taiwan.

SUARABMI.COM -  Dalam prahara rumah tangga, anak selalu sering menjadi korban saat kedua orang tuanya berpisah atau bercerai karena berbagai hal.

Seperti yang ditemukan di Ngargoyoso Karanganyar, TS, gadis kecil berusia 9 tahun yang sedianya duduk di bangku kelas 3 SD kini tidak mau masuk sekolah lagi.
 
"Setelah tiba-tiba saya menerima akte cerai, dia diambil ibunya dari sini, dibawa ke Klaten sana ke rumah nenek yang dari ibunya. Tapi terus dipulangkan lagi kesini dan kondisinya seperti sekarang ini" terang Didik (37) warga Ngargoyoso yang merupakan ayah kandung dari TS.
 
Jangan Rebutan, Karena Anak Korban Perceraian Bukanlah Piala Bergilir. Mendengar penuturan Didik, proses perceraian yang dia alami sungguh diluar dugaan. Bermula dari teguran Didik kepada istrinya yang sering berperilaku tidak wajar dan tidak etik di laman media sosial, Didik malah diam-diam digugat cerai dari Hong Kong dengan proses yang misterius.

"Panggilan sidang saya tidak pernah dapat, yang saya dapat hanya panggilan mengambil akte cerai" lanjut Didik.

Didik yang sehari-hari menjalankan usaha menjadi petani jamur dan menjadi petani sayuran di beberapa bidang yang dia miliki dari hasil bekerja di Malaysia saat masih bujang silam hingga setelah menikah dengan Yayuk.

Didik memutuskan untuk pulang ke Karanganyar dengan terpaksa bukan karena diberhentikan dari perusahaan Sawit tempatnya bekerja, namun karena tiba-tiba Yayuk ngotot dan diam-diam telah berangkat ke Hong Kong saat TS anak perempuan sematawayang mereka masih berusia 1 tahun.

Praktis, sejak ditinggal ke Hong Kong 8 tahun silam, TS sehari-hari hidup dengan Didik, ayahnya. Kemanapun Didik pergi, TS selalu turut serta. Pun demikian ketika TS masuk di PAUD hingga TK, setiap hari Didik menunggui sampai jam sekolah selesai.

Siapa sangka, saat TS sudah masuk kelas 1 SD, tiba-tiba prahara rumah tangga meniup Didik dan Yayuk. Berawal dari kemarahan Didik yang melihat foto istrinya dengan pria lain dalam ekspresi dan pose yang tidak sewajarnya sebagai teman, Yayuk merespon dengan menggugat cerai secara diam-diam, dan setelah proses cerai selesai, Yayuk kemudian memproklamirkan diri telah menikah dengan pria tersebut. Belakangan, pria tersebut diketahui sebagai seorang pria berkewarganegaraan Nepal.
[ads-post]
TS yang hak asuhnya ternyata dimenangkan oleh Yayuk, harus meninggalkan Karanganyar sebelum naik kelas dua SD. Namun, sesampai di Klaten, kampung halaman Yayuk, TS diduga syok dan mengalami guncangan mental lanrtaran melihat Yayuk pulang, bermesraan dengan laki-laki asing yang dikenalkan kepada TS sebagai bapak barunya.

"Saya berterimakasih sekali, ada temen-temen mas Wartawan dari yayasan Psikologi  yang dengan sukarela menerapi kejiwaan anak saya. Semoga dia mau masuk sekolah lagi dan ceria seperti dulu."
terang Didik.

"Setelah anak saya pulih lagi, nanti tidak akan saya ijinkan siapapun membawanya pergi. Dia tidak ingin pergi dari sini, karena dia dibawa pergi dari sini lalu melihat ibunya yang tidak senonoh kelakuannya, dia jadi begini. Akan saya jaga sampai dia ada yang menjaga mas. Saya hanya akan fokus pada anak saya, saya tidak akan menikah lagi." tegas Didik.

Psikolog Mira Karunia yang memimpin penanganan kasus depresi pada TS menyatakan, perilaku buruk anak korban perceraian sangat mungkin dihubungkan sebagai konsekuensi karena ia telah menyaksikan pertengkaran orang tua dan berpikir bahwa hal tersebut sah-sah saja untuk dilakukan.

"Anak korban perceraian selalu hidup dengan ketakutan bahwa ia tak bisa lagi memiliki keluarga yang bahagia atau orangtua yang menyayanginya." Terang Mira

Mira menambahkan, ayah dan ibu yang berselisih menyebabkan rasa sakit hati dan kesedihan mendalam pada anak. Anak merasa takut kehilangan hubungan dengan salah satu orang tua secara permanen.

"Anak-anak korban perceraian juga akan cenderung lebih pemarah, agresif, sering mengalami masalah pencernaan yang disebabkan karena perasaan tidak menentu. Di usia remaja, anak-anak akan merasa jauh lebih malu dibandingkan mereka yang masih kecil, namun lebih bisa menerima keputusan orang tua seiring dengan pemikirannya yang lebih matang."
Lanjutnya.

"Yang perlu digarisbawahi adalah perasaan takut, sakit hati dan sedih yang mendalam akan tetap menjadi hal yang dirasakan oleh semua anak korban perceraian." Pungkas Mira.

apakabaronline. gambar ilustrasi
Powered by Blogger.
close