SUARABMI.COMSebuah kutipan menarik yang tertulis didalam sebuah novel berjudul 'Lelaki yang sangat mencintai istrinya' karangan Muhammad B. Anggoro mengetuk hati para suami yang rela membiarkan istrinya banting tulang bekerja di luar negeri. Berikut kutipannya,

Karena itulah Puan tidak mengizinkan istrinya pergi menjadi buruh di luar negeri. Kalau ia mengizinkan kepergian Puri ke luar negeri dalam waktu yang begitu lamanya sama halnya telah membebaskan istrinya untuk tidak melaksanakan kewajibannya sebagai seorang istri maupun seorang ibu. Juga sama halnya telah membebaskan atau minimal mengurangi hak sebagai seorang istri, yaitu hak untuk mendapatkan nafkah lahir maupun batin, mendapatkan perlindungan, kasih sayang, dan sebagainya, walaupun untuk sementara waktu.

Demikian juga dengan dirinya sebagai seorang suami. Seorang suami yang telah mengizinkan istrinya untuk bekerja menjadi buruh migran itu sama halnya juga telah membebaskan, menghilangkan, [ads-post] atau setidak-tidaknya mengurangi dirinya untuk melaksanakan tanggung jawabnya sebagai seorang suami, yaitu kewajibannya memberikan nafkah batin karena jarak yang terlalu jauh memisahkan mereka, memberikan kasih sayang dan perlindungan terhadap istrinya dengan maksimal.

Ini semua tentu saja masalah, atau setidak-tidaknya memiliki potensi masalah yang tidak ringan. Seorang istri yang sudah mendapatkan perlindungan dan kasih sayang dari suaminya di rumah saja masih bisa dimungkinkan memunculkan masalah, apalagi bagi suami istri yang terpisah jarak yang begitu jauhnya, tentu saja masalah atau potensi masalah yang harus mereka hadapi jauh lebih serius jika dibandingkan mereka tetap berkumpul dalam satu rumah.

Kalau dia mengijinkan istrinya ke luar negeri, sama halnya sudah "setengah bercerai" dengan istrinya. Karena sama halnya telah membebaskan atau minimal mengurangi hak dan kewajibannya sebagai seorang istri dan seorang ibu, walau untuk sementara waktu.

Gimana menurutmu wahai para suami?

SUARABMI.COMSebuah kisah nyata mengetuk hati diungkapkan oleh Ani Dwi Arofah, salah satu TKI di Taiwan yang mengunjungi salah satu panti anak yang menampung ratusan anak TKI yang tak tahu dimana bapak dan ibunya.

"Di yayasan yatim piatu sini kebanyakan anak dari TKI... ngelus dodo kok bisanya... mau marah juga marahin siapa wong gak ketahuan ibu dan bapaknya...kok kebangetan ...masya allah...!!!" Ungkap Ani yang kebetulan mengunjungi panti tersebut.

Satu hal yang tak dapat Ani lupakan saat mengunjungi anak -anak malang itu, hal tersebut saat salah seorang anak membisikkan kepadanya, "AYI , IHO HAI HUE CHAI LAI MA...?" (Bibi, kamu akan datang kesinilagi kan?, sebuah ungkapan kerinduan seorang anak akan kehadiran ibunya.

"kalau ada waktu pasti kesini lagi" Jawab Ani kepada anak - anak tak berdosa itu sembari menyenangkan mereka.
[ads-post]
Ani yang sebenarnya ingin sering mengunjungi anak- anak itu pun mengaku tak bisa datang kedua kalinya karena memang ia kesitu diutus organisasi dan banyak lagi panti yang harus ia datangi.

"Namanya organisasi keputusan tidak ada diperorangan dan masih banyak yayasan yatim piatu lainnya yang belum kesambangi... belum panti jompo...kesekian tempat yg kami kunjungi (panti jompo, yayasan yatim piatu ataupun acara pembagian zakat) blm ada yg kami datangi 2X, ya krn hrs giliran...ingin datang dua kali sih..tapi pengaturan tempat semuanya diatur sama pemerintah... kecuali kita datang sendiri perorangan... klu kita datang sendiri pasti kitanya kuwalahan... klu kita positif satu dua anak yg lain pasti meri... serba bingung juga...krn saking banyak anak" Ungkapnya

Banyak yang menyayangkan hal ini dimana anak-anak menjadi korban cinta sesaat, mereka begitu mudah menumpahkan cairan speerrma namun mereka tak sanggup untuk merawat hasilnya, merekalah yang menjadi korban sesungguhnya.

"Ya sangat disayangkan..ingin kasih nasehat tapi juga percuma kalau hati dirinya sendiri belum bisa sadar dan belum mau untuk berubah.. kita orang lain tak bisa berbuat apa...orang kalau belum sadar sendiri atau terjatuh kita peringatkan tak akan mau mendengarkan. Cinta lokasi ya seperti itu...entar kalau habis kontrak pada pulang anak ditinggal, gimana bawa wong diindo dah ada keluarga" ungkapnya

SUARABMI.COMSeorang suami di Kalianda Lampung membuat postingan yang mengagetkan dimana ia menjual rugi rumah yang baru ia bangun demi menyelamatkan istrinya dari kekejaman majikannya.

Dalam postingan menjual rumahnya ia mengatakan kalau dirinya butuh segera dana untuk menebus istrinya yang saat ini bekerja di Hongkong.

Beberapa saat setelah di unggah di facebook, akhirnya rumahnya pun laku dengan harga hanya 80 juta rupiah, padahal biaya membuat rumahnya saja habis 110 juta menurutnya belum harga tanahnya.

"Mending kehilangan rumah daripada istri sengsara disana" Ungkap Dion saat di tanya kenapa dijual rumahnya.

Menurut Dion, istrinya di Hongkong mendapat majikan yang tidak baik, kerjanya sangat berat dari pagi hingga tengah malam.
[ads-post]
Ia juga mengatakan kerja yang demikian berat hanya diasih mie instant saja, itupun hanya satu biji. Menurt Dion, istrinya di Hongkong baru bisa tidur pukul 1 malam dan pukul 5 pagi sudah harus bangun.

Tak hanya itu nenek yang dijaga pun super cerewet dan marah - marah terus dan juga pelit. Istri Dion pun di Hongkong tak ada kamar dan harus tidur di depan TV.

Saat disarankan untuk pindah majikan, Dion menjawab kalau pindah harus keluarkan uang lagi dan belum tentu majikan barunya baik. "Intinya kapok istri saya gak bisa lagi kerja di Hongkong, trauma" Ungkapnya.

Postingan Dion pun menuai banyak simpati dari kalangan BMI dan banyak yang mau membantunya membeli rumahnya. Ia dinilai sebagai suami yang bertanggung jawab.

Dion menjua rumahnya kemungkinan untuk menebus potongan yang belum selesai di bayar oleh istrinay yang baru bekerja di Hongkong.
Powered by Blogger.
close