loading...

Ilustrasi
SUARABMI.COM - Cukup ini yang terakhir aku meneteskan air mata untuk rumah tanggaku. Begitu bahagianya wanita pelakor itu menyuruhku telpon di WAnya disaat dia dalam 1 kamar bersama suamiku.

Dan begitu mudahnya juga kata-kata yang keluar dari mulut suamiku bahwa dia memilih pelakor itu didalam pelukan didalam pelukannya.

Bukannya saya tidak mau memaafkanmu, tidak hanya satu atau dua kali bahkan sampai tidak bisa dihitung dengan jari tapi apa yang kamu lakukan buatku?

Kamu tetap membohongiku dengan perkataan sudah tidak ada hubungan lagi sama pelakor itu dan begitu bodohnya aku mempercayai omongan-omonganmu.

Untuk kebohonganmu kali ini pun kalau hanya soal perselingkuhanmu mungkin aku juga masih bisa memaafkan demi keutuhan rumah tanggaku, karena aku hanya percaya omonganmu.
[ads-post]
Kamu melakukan perselingkuhan itu karena aku tidak ada disampingmu, ya itu bisa ku maklumi dan selalu ku maafkan perselingkuhanmu yang ke sekian kalinya.

Tapi kali ini omonganmu sudah sangat melampuai batas, kamu tega bilang ke selingkuhanmu kalau aku bukan istrimu, kamu lebih memilih pelakor daripada aku, terus harus darimana lagi aku memaafkanmu?

Terlalu rendah martabatku sebagai seorang istri kamu injak-injak seperti itu. Bahkan kamu masih bisa membela pelakor itu saat teman-temanku menghujat pelakor itu.

Kamu denagn ringannya bisa bisa kalau pelakor itu tidak salah, padahal seorang perempuan mengaggu suami orang yang dia sendiri sudah jelas tau laki-laki itu punya anak dan istri, bahkan dia juga tau dulu rumah tanggaku sudah pernah di hancur kan sampai bercerai dan kini ku coba untuk mempertahankan lagi untuk rujuk kembali.

Tapi dia masih mau kamu ganggu.....masih mau kamu keloni.....apa ini bisa di anggap dia benar? Tolong jawab yang bisa menjawab kalau memeng pelakor itu benar berarti kesalahan ada di saya semua. Ini terkahir curahan hati saya (Ike Octa Viana)

Cukup ini yang terakhir aku meneteskan air mata untuk rumah tanggaku. Begitu bahagianya wanita pelakor itu menyuruhku telpon di WAnya disaat dia dalam 1 kamar bersama suamiku.

Powered by Blogger.
close