loading...
============

SUARABMI.COM - Sukani (51) warga Dusun Pandansari, Desa Sarimulyo, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, merupakan satu dari sekian mantan Tenaga Kerja Indonesia asal Banyuwangi yang memiki keterampilan.

Dari keterampilan yang ditekuninya, Sukani enggan pulang ke luar negri menjadi TKI, lantaran ia sukses membuka usaha produksi alat iris seperti pisau dapur, sabit dan golok di Pande miliknya.

Peralatan Pande milik Sukani tidak sama dengan di tempat lain yang masih menggunakan alat tradisional, karena seluruh alat produksi mulai dari alat pemanas besi, baja hingga alat penipis besi menggunakan alat modern. Untuk menyelesaikan kerajinannya, Sukani dibantu 3 karyawannya.

Proses pembuatan clurit, pisau dapur dan golok itu dimulainya dari memanaskan alat bakunya berupa besi atau baja terlebih dahulu, di alat pemanasnya yang sudah diberi arang. Setelah besi itu mulai memerah, ia melanjutkan langkah keduanya, yakni menipiskan besi itu menggunakan alat penipis besi.

Kemudian dia membentuk besi baja panas itu menyerupai pisau, clurit dan golok. Kemudian besi yang sudah terbentuk kemudian dinginkan menggunakan air. Setelah dingin, barulah ke tiga kerajinan itu dihaluskan menggunakan gerinda.

Langkah selanjutnya, besi yang sudah jadi itu dibuatkan tempat pegangan menggunakan kayu yang sudah dibentuk. Setelah jadi, barulah ketiga kerajinannya ini siap dipasarkan.
[ads-post]
"Prosesnya melalui beberapa langkah. Kerajinan ini banyak dipesan ke luar pulau Jawa," terang Sukani, kemarin.

Selain banyak dipesan dari luar Jawa, Sukani juga memasok kerajinan itu ke wilayah Banyuwangi, menurutnya harga satuan di luar Jawa lebih murah dari pada Banyuwangi, lantaran pesanan dari luar Jawa lebih banyak ketimbang di daerah asalnya.

"Kalau luar Jawa memesan Banyak, kalau Banyuwangi hanya pesanan perorangan saja. Harga kerajinan ini kalau di kirim ke luar Jawa, clurit atau sabit saya bandrol Rp. 80 ribu, pisau dapur Rp. 35 ribu, golok seharga Rp. 85 ribu," paparnya.

Sukani menekuni kerajinan ini di Banyuwangi masih sekitaran 11 bulan. Sebenarnya dia sudah menekuni kerajinan itu di Lampung, sebelum ia menjadi TKI di Negri Jiran selama 6 bulan. Sepulang menjadi TKI dia meneruskan usaha yang sudah digelutinya sejak ia berusia 10 tahun, ini.

"Saya eks Malaysia. Awal saya menekuni usaha ini waktu harganya masih 5 rupiah," kata Sukani, yang sudah memilki 4 anak dan satu istri ini.

Dari kerajinan yang ia tekuni, dalam sehari dia mengaku mendapat omset Rp. 2 juta, karena Sukani mampu memproduksi kerajninan itu sebanyak 40 biji, sehari. Sebulan bisa memperoleh 60 juta omsetnya, Namun omset itu masih belum terpotong biaya bahan baku dan gaji para karyawannya.

"Alhamdulillah omsetnya lumayan," terangnya.

Dari usahanya itu, kepada wartawan dia mengaku tidak akan kembali menjadi TKI lagi, karena usaha yang ditekuninnya itu sudah sangat membantu biaya kebutuhan hidup bersama keluarga kecilnya di Banyuwangi.

"Dirumah sudah cukup. Jika kita punya keterampilan ya harus ditekuni dengan baik, karena dari karya itu kita bisa mendapatkan rizki untuk membantu kebutuhan sehari - hari," pungkasnya.

Penulis suarajatimpost
Editor redaksi

Sukani (51) warga Dusun Pandansari, Desa Sarimulyo, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, merupakan satu dari sekian mantan Tenaga Kerja Indonesia asal Banyuwangi yang memiki keterampilan.

Powered by Blogger.
close