SUARABMI.COM - Seorang tenaga kerja wanita asal Indonesia berusia 35 tahun bermarga Chen, yang datang ke Taiwan untuk bekerja sebagai pengasuh pada tahun 2010 silam, melarikan diri pada tahun 2012.

Tak lama berselang, pada tahun 2013 ia melahirkan seorang anak di klinik kebidanan di daerah Taoyuan. Namun akibat statusnya sebagai TKI Kaburan ia pun lantas kembali melarikan diri usai melahirkan dan meninggalkan sang buah hati untuk dipelihara dan diasuh oleh pusat layanan sosial Taipei.

Mirisnya pada tahun 2015, TKI ini kembali melahirkan putra keduanya dan ia pun melakukan hal yang sama. Chen kembali kabur usai melahirkan anak keduanya dan meninggalkannya begitu saja. Hingga pihak pusat layanan sosial Taipei kembali mengambil hak asuh atas bayi tersebut.

Chen mengaku ia terpaksa melakukan hal ini karena statusnya yang merupakan seorang TKW kaburan dan kini menjadi tenaga kerja asing illegal, ia tidak bisa mengasuh kedua putranya. Saat rindu melanda hatinya, Chen hanya mampu diam-diam menyelinap masuk ke dalam pusat layanan sosial Taipei dan melihat buah hatinya dari kejauhan.

Namun anak-anak Chen tidak pernah bertemu ataupun mengetahui bahwa Chen adalah ibu kandung mereka. Sungguh ironis!
[ads-post]
Dari keterangan pihak kepolisian Taiwan disebutkan bahwa Chen diketahui bermukim di daerah pegunungan Yunlin dan bekerja sebagai buruh kasar di ladang petani lokal. Saat diciduk oleh badan imigrasi nasional Taiwan, pihaknya menemukan 2 surat tanda lahir kedua putranya yang disimpan di dalam tas Chen.

Dari hasil penyelidikan, pihak imigrasi menemukan bahwa dari setelah dilahirkan anak-anak Chen ditinggalkan begitu saja dan ditelantarkan oleh Chen hingga oleh badan eksekutif Yuan didaftarkan di panti layanan sosial Taipei.

Tim khusus dari kepolisian distrik Yunlin kemudian mulai melakukan penelusuran mengenai keberadaan anak-anak Chen. Mereka berupaya untuk menyatukan kembali ibu dan anak yang sudah berpisah selama bertahun-tahun lamanya.

Usai Chen dipersatukan dengan kedua anaknya, ia pun dihadapkan dengan persidangan di distrik Taoyuan guna mendapatkan hak asuh secara resmi atas kedua buah hatinya tersebut. Chen dan kedua anaknya pun kemudian meminta bantuan perlindungan dari pihak KDEI Taipei untuk memberikan solusi atas permasalahan ini.

Saat dibekuk oleh pihak kepolisian, pihaknya juga Chen mengaku hendak mengumpulkan uang untuk dapat memulangkan ia dan kedua anaknya ke Indonesia. Chen mengatakan ia tidak sepenuhnya berniat menelantarkan anak-anaknya, namun hanya berusaha mencari uang untuk biaya pemulangan mereka ke tanah air.

Pada tanggal 20 Desember kemarin, kesatuan kepolisian Yunlin dan badan imigrasi Taiwan mengantarkan Chen ke bandara Taichung untuk proses deportasi ke Indonesia. Chen yang untuk pertama kalinya melihat secara dekat kedua putranya berteriak takjub memanggil nama anaknya dan menangis haru. Namun kedua putranya yang tidak mengenali Chen tampak kaku dan ketakutan.

Pihak pusat layanaun sosial Taipei yang turut hadir dalam proses tersebut secara perlahan menjelaskan kepada 2 balita yang tampak canggung tersebut bahwa wanita ini adalah ibu kandung mereka. Sungguh pemandangan yang cukup mengharukan hingga Chen dapat berkumpul dengan kedua buah hatinya dan kembali ke tanah air dengan selamat.

Pihak kepolisian distrik Yunlin menegaskan masih ada 50 ribu pekerja asing illegal dan kaburan lainnya yang belum berhasil dilacak keberadaan dan kondisinya hingga saat ini. Pihaknya berharap seluruh pekerja migran kaburan dapat segera menyerahkan diri agar mendapatan perlindungan haknya secara layak. Mereka berharap tidak ada lagi kisah pilu seperti yang dialami Chen dan kedua putranya yang terpisah dan tidak dapat berkumpul bersama akibat status sang ibu yang merupakan TKI kaburan di Taiwan. | IndogoTW

Seorang tenaga kerja wanita asal Indonesia berusia 35 tahun bermarga Chen, yang datang ke Taiwan untuk bekerja sebagai pengasuh pada tahun 2010 silam, melarikan diri pada tahun 2012.

loading...
Powered by Blogger.
close