============

SUARABMI.COM - Investigasi Bea dan Cukai Hong Kong yang dipaparkan di pengadilan IAS mengungkapkan bagaimana sebenarnya kasus IAS sama seperti kebanyakan kasus-kasus mantan BMI yang tertangkap jadi kurir narkoba di Hong Kong.

Namun yang menjadikan kasus IAS istimewa adalah jumlah kokain murni yang ada dalam paket tersebut yang mencapai harga yang cukup fantastis. Nilai kokain murni ini jugalah yang akhirnya menyeret IAS menjadi terdakwa ke High Court Hong Kong.

Petugas Pengadilan membacakan fakta kasus IAS yaitu pada 8 Maret 2017 sekitar pukul 1:10 siang mantan BMI itu datang ke kantor pos untuk mengambil sebuah paket yang dialamatkan kepadanya dari luar negeri. Namun IAS tak menyadari bahwa para petugas bea dan cukai telah mengetahui isi yang sebenarnya dari paket tersebut, yang adalah kokain murni bernilai tinggi.

Begitu IAS menandatangani surat pengambilan paket itu dan bersiap keluar kantor pos, mantan BMI yang kini telah berstatus paper itupun segera kena gerebek para petugas Bea dan Cukai Hong Kong yang telah menantinya.

Kepada para petugas, IAS menyerahkan secara sukarela surat tanda terima pos yang telah diterimanya itu untuk kemudian dijadikan bukti. Selain itu, petugas juga menyita 4 telepon genggam beserta nomornya dari IAS. Keempat nomor telepon genggam tersebut adalah prepaid alias nomor telepon berlangganan, dan salah satu telepon yang disita bermerk iPhone.

Di dalam telepon genggam bermerk iPhone milik IAS itulah ditemukan rekaman video yang menjelaskan bagaimana cara “memasak sabu-sabu” atau cara untuk membuat narkoba. Terdakwa IAS mengakui telepon genggam itu adalah miliknya dan tidak pernah dipinjam oleh siapapun.

IAS yang kemudian digiring untuk diinterogasi di kantor bea dan cukai, menolak mengaku bersalah sehingga kasusnya kemudian berlanjut hingga disidangkan di High Court.
[ads-post]
Sidang kasus IAS yang digelar pada tanggal 10, 11 dan 12 Januari 2018 di hadapan sekitar 7 juri warga Hong Kong tersebut berjalan alot. Ini karena terjadi beberapa terjadi ‘tabrakan’ kesaksian antara petugas bea dan cukai dan IAS sendiri, serta beberapa bukti.

Pada Jumat, 12 Januari 2018, Hakim menunda sidang untuk memberikan kesempatan bagi para juri berembuk mencapai kata mufakat untuk menentukan apakah IAS bersalah atau tidak. Namun sampai sekitar pukul 5 sore, juri gagal mencapai kesepakatan sehingga hakim memutuskan IAS akan kembali disidangkan dengan 7 juri baru. Ini artinya, proses sidang IAS akan kembali berulang dari awal dan mantan BMI tersebut tetap harus mendekam di tahanan tanpa bisa keluar dengan jaminan selama menunggu sidangnya dijadwalkan kembali.

Saat berita ini diturunkan, High Court belum menentukan kapan sidang ulang atas kasus IAS akan digelar.

Berdasarkan data KJRI Hong Kong, hingga Desember 2017 jumlah WNI yang menjadi narapidana dan ditahan di Hong Kong dan Macau mencapai 120 orang. Dari jumlah tersebut kasus narkotika menempati posisi terbanyak yaitu sejumlah 36 kasus. Sekitar 30 kasus diantaranya adalah WNI yang mendekam di penjara-penjara Hong Kong yaitu di Lowu Correctional Institution, Tai Lam dan Stanley Prison.

Tingginya kasus BMI atau mantan BMI yang dibujuk rayu untuk menjadi kurir narkoba oleh kartel-kartel internasional ini sendiri sempat diakui oleh Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komisaris Jenderal (Komjen) Budi Waseso saat menjadi pembicara acara Welcoming Program di KJRI Hong Kong, dengan tajuk “Indonesia Darurat Narkoba”.

Modus-modus yang sering digunakan para kartel narkoba internasional itu antara lain adalah dengan merayu menjadikan BMI atau mantan BMI yang biasanya telah berstatus sebagai Anak Paperan, untuk menjadi pacar. Kepala BNN Budi Waseso menyatakan para kartel narkoba internasional itu bahkan tak segan menikahi calon korban jika perlu, untuk menjeratnya masuk ke dalam jaringan perdagangan narkoba.

“Setelah itu biasanya dijadikan kurir. Kalau tertangkap, yang tadinya merayu malah menghilang tak tahu kemana. Ini yang biasa terjadi di beberapa negara,” kata Komjen Budi Waseso di KJRI, Jumat, (12/8/2016).

Modus lainnya adalah mengajak berkenalan lewat media sosial terutama Facebook, dan merayu para BMI atau mantan BMI untuk menjadi ‘teman’. Setelah akrab saling tegur sapa atau bahkan setia mendengarkan ‘curahan hati’ lewat Facebook, para kartel narkoba ini akan mulai minta tolong untuk menggunakan alamat serta nama BMI di Hong Kong untuk mengirimkan barang lewat pos dengan imbalan tertentu.

Paket berisikan narkoba tersebut diakui hanya berisi barang lainnya. Jika sukses beberapa kali, perlahan para kartel narkoba ini akan meningkatkan jumlah narkoba yang dikirimkan. Jika akhirnya BMI atau mantan BMI yang bersangkutan tertangkap aparat Hong Kong, para kartel internasional itu akan langsung memutuskan hubungan.

Artikel dimuat di SUARA edisi January Mid 2018, terbit 19 Januari 2018

Seorang WNI anak paperan berinisial IAS digerebek Bea Cukai Hong Kong setelah menerima paket kokain murni yang nilai jualnya mencapai HK$ 169 ribu atau sekitar Rp. 288 ratus juta. Mantan BMI tersebut kini diajukan ke High Court dan telah menjalani pengadilan dengan dakwaan sebagai kurir narkoba pada minggu lalu.

loading...
Powered by Blogger.
close