============

SUARABMI.COM - Menangnya Erwiana Sulistyaningsih, tenaga kerja Indonesia (TKI), yang disiksa majikan di Hong Kong, dalam tuntutan ganti rugi atas penganiayaan terhadap dirinya merupakan "terobosan" dalam menangani kasus penganiayaan fisik, seksual, dan diskriminasi rasial.

Pengadilan Hong Kong pekan lalu (22/12/2017) mengabulkan tuntutan Erwiana sebesar 908.430 dolar Hong Kong (Rp1,5 miliar) atas penganiyaan yang dilakukan bekas majikannya dengan hakim menyebut perlakukan itu "tak manusiawi, mengerikan, dan merendahkan martabat."

Erwiana yang saat ini masih menjalani konseling akibat trauma penyiksaan selama enam bulan mengatakan, akan menggunakan dana ini untuk melanjutkan sekolah, pengobatan serta membantu banyak tenaga kerja lain yang mengalami nasib yang sama, namun "belum berani bersuara, ketika ditindas."

"Saya ingin menularkan semangat saya, selain itu saya janji untuk membantu mereka yang mengalami nasib seperti saya, dianiaya," kata Erwiana.
[ads-post]
Dari sekitar 300 kasus penganiayaan fisik dan s*ksual di Hong Kong setiap tahun, 50% di antaranya menimpa tenaga kerja Indonesia, kata Cynthia Abdon-Tellez dari Mission for Migrant Workers, organisasi di Hong Kong, yang memberikan advokasi untuk para pekerja asing.

"Kasus penganiayaan ini sangat serius... kasus ini penting karena banyak pekerja yang tidak memiliki peluang untuk mengangkat kasus penganiayaan... dan ini jumlah tuntutan terbesar yang dimenangkan," kata Cyntia, mengacu pada kemenangan tuntutan ganti rugi Erwiana terhadap majikannya.

"Ketika dipukulin, sangat tidak manusiawi," cerita Erwina tentang hal yang membuatnya trauma sampai sekarang. "Yang paling menjijikkan, aku dimandikan dan dikasih kipas angin sampe berjam-jam, ditel*njangi sama dia. Tak boleh ke kamar mandi, harus kencing di plastik, harus berak di plastik, karena dia tak mau rumahnya kotor," kata Erwina.

"Cacat seumur hidup, ada luka nggak bisa sembuh. Tulang belakang bengkok, kata dokter kalau hamil akan merasa berat bebannya untuk menyangga karena tak bisa bawa barang berat. Hidung mampet kalau batuk, karena patah tulang saat ditonjok. Mata juga (mengalami) gangguan," tambahnya.

Erwiana mengatakan masih banyak tenaga kerja yang mengalami hal serupa namun takut bersuara. "Masih banyak yang belum ikut berorganisasi, belum belajar banyak tentang haknya dan ketika ada masalah masih takut. Di Hong Kong pun ada, apa lagi di tempat lain, di Singapura, Malaysia, yang sangat tertutup dan pekerja tak boleh ikut berorgansisasi berdemo, apalagi di Arab, sangat mengerikan," katanya.

Eni Lestari, Pegiat migran Indonesia mengatakan kasus Erwiana menjadi contoh buat pekerja lain untuk melawan kekerasan. "Dia menjadi barometer bagi kasus-kasus lain, ternyata mereka bisa dan punya cara untuk melawan kekerasan terhadap pekerja rumah tangga," tandas Eni

Menangnya Erwiana Sulistyaningsih, tenaga kerja Indonesia (TKI), yang disiksa majikan di Hong Kong, dalam tuntutan ganti rugi atas penganiayaan terhadap dirinya merupakan "terobosan" dalam menangani kasus penganiayaan fisik, seksual, dan diskriminasi rasial.

loading...
Powered by Blogger.
close