loading...

SUARABMI.COM - Hidup dalam keterbatasan ekonomi sementara tuntutan hidup terus meningkat, merantau akhirnya dilakukan. Meski harus jauh dari keluarga, tidak sedikit warga Indramayu yang memilih bekerja di negeri orang untuk perbaikan.

Banyaknya warga yang mengadu nasib di luar negeri membuat Indramayu menjadi salah satu lumbung TKI di Jawa Barat. Salah seorang TKI asal Desa Lombang, Kecamatan Juntinyuat, Turman (28) sudah dua tahun bekerja di sebuah pabrik pembuat kabel listrik di Korea Selatan.

Menjadi TKI diakuinya membantu perekonomian keluarganya di Indramayu. Bahkan diakuinya gaji yang diterimanya lebih dari cukup.

Bekerja di Korea Selatan, Turman mendapat perlindungan hukum, asuransi dan tempat tinggal. Sementara untuk upah, ia mendapat minimal Rp 14 juta.

“Kalau dibuat rata-rata sebulan saya bisa dapat gaji Rp 20 juta. Masih bisa kirim ke keluarga Rp 15 jutaan dan itu sudah bersih,” ujarnya.

Bekerja di Korea Selatan pun dirasa Turman sangat menggiurkan. Karena jika mampu menuntaskan kontrak kerja selama lima tahun, pekerja bisa mendapatkan uang asuransi sebesar Rp 300 juta dan bisa dibawa pulang ke tanah air.

“Setiap kali kirim uang ke keluarga di Indonesia, saya pakai jasa Western Union, soalnya lebih cepat dan mudah,” lanjutnya.
[ads-post]
Sementara purna TKI Arab Saudi asal Desa Juntikebon, Asiah mengaku dulu sengaja bekerja di luar negeri untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga. Bukan hanya di satu negara, Asiah juga sempat bekerja di negara lain, seperti Abu Dhabi.

Sementara data dari Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Indramayu, jumlah TKI Indramayu yang bekerja di luar negeri cukup tinggi. Untuk tahun 2017 (hingga 30 November) jumlah TKI Indramayu sebanyak 16.896 orang. Jumlah tersebut mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2016 yaitu 15.188 dan tahun 2015 sebanyak 16.795 orang.

Banyaknya warga yang menjadi TKI berbanding lurus dengan kiriman dana yang dikirim para pekerja untuk sanak keluarga di Indramayu. Kepala Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Indramayu, Daddy Haryadi mengatakan, jumlah kiriman uang dari TKI cukup fantastis.

Berdasarkan data yang dimilikinya, dana yang dikirim baik melalui rekening bank ataupun Western Union dan layanan keuangan lainnya mencapai Rp 1,3 triliun dalam setahun. “Baik yang kirim melalui bank, Western Union maupun yang lainnya,” ujarnya.

Daddy mengatakan, jumlah tersebut sangat besar. Jika dibandingkan dengan APBD Kabupaten Indramayu yang berkisar Rp 2 hingga 3 triliun, dana kiriman TKI ini nyaris mencapai setengahnya.

Karena cukup banyak, Daddy berharap kiriman TKI ini bisa dimanfaatkan dengan baik. Bukan hanya untuk kehidupan sehari-hari, tetapi juga untuk membuka usaha agar usai merantau ke negeri orang, mereka bisa mencari penghidupan di negeri sendiri dan tidak kembali menjadi TKI.

Sementara Bagian Pelayanan Kantor Pos Indramayu, Edi Sudarso mengatakan, setiap hari selalu ada transaksi penerimaan dan pengiriman uang via Western Union. Besarannya pun bervariasi. Mulai dari ratusan ribu hingga Rp 50 juta.

Edi memprediksi, dalam sehari uang masuk melalui transaksi WU mencapai Rp 2 miliar. Sementara dalam sebulan transaksi WU melalui Kantor Pos Indramayu rata-rata mencapai 1.100 transaksi.

Dengan transaksi rata-rata yang masuk via Western Union Kantor Pos Indramayu setiap harinya Rp 2 miliar, itu berarti dalam satu hari, uang TKI yang masuk via WU kurang lebih 60 miliar. Artinya dalam satu tahun kiriman TKI yang masuk via Kantor Pos sekitar Rp 720 miliar. | Net

Hidup dalam keterbatasan ekonomi sementara tuntutan hidup terus meningkat, merantau akhirnya dilakukan. Meski harus jauh dari keluarga, tidak sedikit warga Indramayu yang memilih bekerja di negeri orang untuk perbaikan.

Powered by Blogger.
close