loading...
============

SUARABMI.COM - Ingkar janji soal upah, Buruh Migran Indonesia di Malaysia mogok kerja pada Kamis pagi (22/2/2018). 

BMI yang bekerja sebagai di perkebunan nanas milik Rompin Integrated Pineapple Industries SDN/BHD (RIPI) dijanjikan upah sebesar 50 Ringgit/hari, namun pada perkembangannya perjanjian itu upah tersebut dirubah menjadi upah borongan. 

Sekretaris Jenderal Serikat Buruh Migran Indonesia, Bobi Alwy, mendapatkan pengaduan perkara mogok kerja ini dari salah satu peserta mogok, bernama Musa, Kamis kemarin (22/2/2018).

“Berdasarkan informasi dari Musa, mereka mogok karena pengupahannya tidak benar, ada 300 orang buruh migran mogok kerja” terang Bobi kepada SUARA.

Aksi mogok kerja ini dilakukan di Gedung perusahaan yang memiliki lahan perkebunan seluas 607 hektar di daerah Pahang, Malaysia. 

Kebanyakan BMI yang bekerja di perkebunan milik RIPI ini berasal dari Karawang, Jawa Barat. Musa mengatakan para BMI ini direkrut oleh perorangan, dan diberangkat tidak melalui jalur normal.

“Kami direkrut dari kampung kami di Krajan Barat, Cimalaya oleh seseorang bernama Sarpin, diajak kerja ke Malaysia, tak ada visa” ujar Musa di Malaysia, saat diwawancara oleh SUARA melalui telpon, Kamis (22/2/2018)
[ads-post]
Musa menerangkan bahwa perjanjian kerja awal yang ditawarkan adalah untuk setiap 1 jam kerja upahnya adalah 5 Ringgit, dan jam kerja perharinya 10 jam, upah akan dinaikan 2 Ringgit setiap 2 per 2 bulan. Namun hal itu dirubah menjadi kerja borongan dengan upah yang lebih rendah.

“Upah kerja biasa 50 Ringgit per 10 jam, dan ini dirubah jadi borongan dengan upah 1 sen per batang bibit nanas yang ditanam, ya ini lebih kecil jika dihitung, karena biasanya kami hanya bisa dapat 20-30 saja” ungkapnya

Lebih lanjut Sekjen SBMI membeberkan tentang negara penempatan Malaysia, merupakan negeri yang menerapkan upah murah, dan memanfaatkan buruh migran untuk mengisi kekosongan lapangan kerja murah itu.

“Malaysia memang dikenal negara rezim upah murah, mereka ingin membangun negaranya menjadi negara maju, dengan menekan upah buruh migran. Menolak pendatang haram tanpa ijin tetapi membuka melalui banyak pintu masuk diperbatasan-perbatasan, dengan administrasi yang mudah seperti journey visa, atau seperti yang lagi ramai sekarang, direct hiring” tudingnya.

Pelanggaran kontrak kerja memang kerap terjadi, Bobi juga menyampaikan bahwa sebelum mogok kerja ini, ada beberapa kasus yang menjadi perhatian SBMI.

“Kasus Kematian Adelina, buruh migran asal NTT kemarin, baru menggerakkan pemerintah Indonesia untuk memutuskan penghentian sementara (Moratorium), padahal sebelum ramai kasusnya Adelina, ada 105 orang buruh migran yang dipenjara karena kesalahan perusahaan, menempatkan di kilang a, sementara bekerjanya di pabrik b” tutup nya

BMI Ini Mogok Kerja Karena Majikan Ingkar Janji Soal Besaran Upahnya

Powered by Blogger.
close